Berita Golkar – Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Jamaludin Malik menegaskan pentingnya penguatan tata kelola dan pendekatan sosial dalam setiap pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan nasional.
Ia menilai, proyek gardu induk dan jaringan transmisi krusial untuk menjaga keandalan sistem, menurunkan losses, serta memastikan kecukupan daya dalam jangka menengah dan panjang, namun harus berjalan seiring dengan kepatuhan prosedural dan legitimasi sosial di tingkat tapak.
Jamaludin secara khusus meminta PT PLN (Persero) meningkatkan sensitivitas sosial dan kualitas komunikasi publik dalam pelaksanaan proyek.
Sebagai BUMN penyedia layanan ketenagalistrikan, PLN tidak hanya mengemban target kinerja sistem, tetapi juga tanggung jawab pelayanan publik yang mensyaratkan transparansi, akuntabilitas, serta partisipasi masyarakat.
“PLN perlu memperkuat due diligence sosial sebelum eksekusi fisik proyek. Sosialisasi tidak boleh formalitas, tetapi harus membuka ruang dialog substantif, termasuk menjelaskan aspek keselamatan, standar jarak aman, analisis dampak lingkungan, serta manfaat sistemik proyek bagi wilayah tersebut,” ujar legislator daerah pemilihan Jawa Tengah II itu.
Ia menilai pembangunan gardu induk 150 kV secara teknis merupakan bagian dari penguatan backbone sistem distribusi dan transmisi regional. Namun, keberlanjutan proyek hanya dapat terjamin apabila didukung penerimaan sosial yang memadai.
Karena itu, evaluasi lokasi, audit proses administrasi, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah daerah perlu dipertimbangkan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi dan perlindungan masyarakat.
Sebagai mitra kerja sektor energi, Komisi XII DPR RI akan terus mendorong agar seluruh proyek kelistrikan nasional dilaksanakan sesuai prinsip good governance dan perlindungan hak masyarakat.
“Keandalan sistem listrik adalah prioritas nasional, tetapi pendekatannya harus terukur, transparan, dan berkeadilan. Pembangunan infrastruktur harus menghadirkan manfaat tanpa mengorbankan kepercayaan publik,” pungkas Jamaludin Malik. {}













