Berita Golkar – Pemerintah Indonesia terus mengintensifkan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) untuk menghindari pengenaan tarif perdagangan tinggi atau tarif resiprokal yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump. Meski sejumlah sektor usaha dinilai tetap berisiko terkena bea masuk tinggi.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Pemerintah masih berupaya menurunkan tarif dagang AS terhadap Indonesia yang sebelumnya sebesar 32 persen menjadi 19 persen.
Kendati demikian, terdapat lima sektor usaha yang dinilai sulit terhindar dari tarif tinggi tersebut, yakni tekstil, produk tekstil, sepatu, garmen dan elektronik.
Airlangga mengatakan, kondisi tersebut telah dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Kepala Negara telah memerintahkan penyusunan peta jalan sebagai solusi, agar lima sektor tersebut tetap bertahan di tengah tekanan tarif tinggi.
“Terhadap industri ini Bapak Presiden minta defensif posisi kita seperti apa. Termasuk untuk mencarikan pasar-pasar yang baru. Salah satunya kan dari perjanjian kerja sama komprehensif RI-Uni Eropa (EU CEPA) itu, tapi masih efektif di tahun 2027,” kata Airlangga seperti keterangan di Jakarta, Jumat (16/1/2026), dikutip dari RM.
Menurutnya, Pemerintah telah menyiapkan roadmap untuk meningkatkan ekspor sektor terdampak.
“Karena itu, Pemerintah sudah membuat roadmap untuk meningkatkan ekspor dari 4 miliar dolar AS naik ke 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun dan bagaimana pendalaman dari value chain dari industri tekstil,” tutur Airlangga.
Sebelumnya, Airlangga mengungkapkan hasil perundingan dengan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer yang telah menyepakati tenggat waktu penyelesaian negosiasi tarif dagang Indonesia-AS. Salah satu kesepakatannya adalah percepatan penyusunan draf perjanjian tarif hingga 2026.
“Sebelum akhir Januari akan disiapkan dokumen kesepakatannya dan akan ditandatangani resmi,” kata Airlangga, Selasa (23/12/2025).
Kesepakatan perdagangan yang sebelumnya menurunkan tarif resiprokal AS dari 32 persen menjadi 19 persen akan ditandatangani langsung oleh presiden kedua negara.
Sementara, Duta Besar Indonesia untuk AS Dwisuryo Indroyono Soesilo mengatakan, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington DC tengah melakukan persiapan intensif menjelang kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada akhir Januari 2026.
“Kami dari kedutaan menghitung hari untuk persiapan kunjungan Bapak Presiden yang diadakan pada akhir Januari tahun 2026. Sambil menunggu instruksi dari Jakarta, agar kami mulai bersiap-siap,” ujar Dubes Dwisuryo.
Dia berharap, hasil negosiasi tarif dagang tersebut dapat segera diimplementasikan setelah penandatanganan resmi dilakukan. “Mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar dan insya Allah nanti kesepakatan yang telah disepakati bisa langsung diimplementasikan,” ujarnya.
“Karena memang tugas dari perwakilan kita di Amerika Serikat adalah mengimplementasikan perjanjian yang akan ditandatangani itu,” pungkasnya. {}













