Wamen P2MI Christina Aryani Apresiasi Kolaborasi KemenP2MI, OJK, dan BI Tingkatkan Literasi Keuangan PMI

Berita Golkar – Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Wamen P2MI) Christina Aryani menegaskan pentingnya peningkatan literasi keuangan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi dan perlindungan dari potensi kejahatan finansial.

Christina juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) yang telah meluncurkan buku literasi keuangan khusus bagi pekerja migran dan keluarganya.

“Literasi keuangan itu penting sekali untuk pekerja migran. Mereka merantau, menerima pemasukan, dan harus memahami betul nilai uang yang mereka hasilkan. Jangan hanya dipakai untuk hal konsumtif, tapi bisa dikelola untuk masa depan seperti investasi, tabungan, atau aset,” katanya di Jakarta, Selasa (11/11/2025), dikutip dari KoranJakarta.

Wamen Christina turut hadir mendampingi Menteri P2MI, Mukhtarudin saat launching Buku Saku Keuangan Pekerja Migran Indonesia di Jakarta, Senin (10/11) kemarin.

Christina mengatakan, selama ini banyak pekerja migran yang pulang ke Tanah Air setelah masa kontrak berakhir tanpa hasil ekonomi yang berarti, karena tidak memiliki pemahaman cukup dalam mengelola keuangan.

Lewat buku literasi keuangan ini, kata dia, KemenP2MI bersama OJK dan BI berharap pekerja migran memperoleh panduan praktis mengelola pendapatan secara bijak dan produktif.

Selain itu, Christina juga menyoroti sisi penting literasi keuangan dalam mencegah pekerja migran menjadi korban kejahatan di sektor finansial. Apalagi, hasil kunjungan delegasi KemenP2MI ke Hong Kong baru-baru ini, menemukan kasus PMI yang menjadi korban penipuan dan penyalahgunaan identitas untuk membuka rekening bank yang digunakan dalam tindak pencucian uang.

“Ternyata ada banyak kasus PMI yang menjadi korban karena identitasnya dipinjam untuk membuka rekening bank yang ternyata dipakai untuk tindak kejahatan. Ujung-ujungnya mereka yang disalahkan karena nama mereka digunakan. Ini yang harus diwaspadai,” jelas politisi Partai Golkar ini.

Tidak hanya itu, Wamen Christina juga mengingatkan pekerja migran mewaspadai penipuan digital, scamming, serta investasi bodong yang semakin marak dan semakin canggih modusnya.

Pengetahuan keuangan dasar ini, lanjut dia, menjadi benteng perlindungan pertama bagi pekerja migran agar tidak mudah terjebak dalam skema penipuan.

“Kalau dia punya pengetahuan keuangan, dia akan lebih berhati-hati dan bisa membedakan mana tawaran yang masuk akal dan mana yang hanya jebakan,” ungkap Christina.

Ia juga menyambut baik langkah OJK yang menetapkan pekerja migran Indonesia sebagai salah satu dari 10 kelompok prioritas program literasi keuangan nasional.

Hal ini, menjadi sinyal positif bahwa aspek perlindungan ekonomi bagi PMI kini mendapat perhatian lebih besar dari lembaga keuangan nasional.

“Kita menyambut baik pekerja migran Indonesia menjadi salah satu fokus literasi keuangan OJK. Ini bentuk pengakuan bahwa PMI adalah kelompok yang sangat perlu diberikan edukasi dan perlindungan di sektor keuangan,” ujarnya.

“Melalui kolaborasi ini, KemenP2MI berharap literasi keuangan dapat menjadi gerakan bersama lintas lembaga untuk memastikan pekerja migran Indonesia tidak hanya terlindungi secara hukum dan sosial, tetapi juga berdaya secara ekonomi dan siap membangun masa depan finansial yang mandiri,” tambah Christina Aryani. {}