Akses Terbuka, Risiko Mengintai! Menkomdigi Meutya Hafid Dorong Perlindungan Perempuan di Era Digital

Berita Golkar – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan di ruang digital memasuki fase baru.

Tidak lagi cukup hanya membuka akses, tetapi harus diiringi pelindungan yang kuat agar perempuan dapat berkarya secara aman dan optimal.

“Kalau dulu kita berjuang membuka akses, hari ini tantangannya adalah memastikan akses tersebut dapat dimanfaatkan dengan aman dan produktif. Ketika akses terbuka lebar, pelindungan terhadap perempuan harus semakin kuat,” ujar Meutya Hafid dalam acara Kartini Masa Kini: Perempuan, Pengetahuan dan Perubahan yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2026).

Menurut data Kementerian Komunikasi dan Digital, saat ini konektivitas digital Indonesia telah menjangkau sekitar 80 persen populasi atau lebih dari 223 juta penduduk.

Capaian ini membuka peluang besar bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam ekonomi dan kehidupan publik di ranah digital. Namun, pemerintah menyadari bahwa peluang tersebut harus dibarengi dengan perlindungan yang serius.

Meutya menyebut kejahatan digital seperti penipuan keuangan, eksploitasi, dan konten berbahaya menjadi perhatian utama.

Sebagai langkah nyata, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik Dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).

Kebijakan ini, antara lain, membatasi akses anak di bawah 16 tahun terhadap platform berisiko tinggi dan terus diperkuat implementasinya sejak 2026.

“Harapan kami, dengan aturan ini tidak hanya anak-anak yang terlindungi, tetapi seluruh ekosistem digital menjadi lebih sehat. Orang tua juga akan lebih tenang saat anak dan keluarganya beraktivitas di dunia digital,” jelas Meutya, dikutip dari Komdigi.

Meutya juga menekankan pentingnya kehadiran perempuan di level pengambilan keputusan strategis, termasuk di lingkungan eksekutif pemerintahan.

Menurutnya, perspektif perempuan sangat dibutuhkan agar kebijakan yang dihasilkan lebih inklusif dan peka terhadap berbagai ketimpangan.

Menutup sambutannya, Meutya Hafid menyampaikan pesan optimistis, “Perempuan dan laki-laki adalah dua sayap bangsa. Jika keduanya bergerak seimbang, Indonesia akan mampu terbang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan global.” []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *