Misbakhun Warning! Kelas Menengah Mulai “Makan Tabungan”, Daya Beli Terancam

Berita Golkar – Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengingatkan, pemerintah untuk terus menjaga daya beli masyarakat kelas menengah. Khususnya, masyarakat kelas menengah rentan yang bertahan hidup dengan mengandalkan isi tabungannya.

Pernyataan tegas politikus Partai Golkar ini, menyoroti fenomena turun kelas masyarakat kalangan menengah. Kondisi ini, menjadi pertanda pemerintah tidak boleh meninggalkan stimulus terhadap kelompok rentan maupun kelas menengah.

“Pada tingkat tertentu pemerintah punya 10 desil kelompok masyarakat, pada desil tertentu kita berikan bantuan sosial. Pada desil tertentu kelompok rentan-rentan ini ternyata tidak kita berikan topangan,” kata Misbakhun dalam keterangan persnya, di Jakarta, dikutip Rabu (29/4/2026).

Misbakhun juga buka suara, terkait istilah ‘Mantab’ (makan tabungan) yang saat ini melanda masyarakat kelas menengah. “Sehingga apa? Mereka Mantab, kelompok masyarakat tertentu tergerus jumlah simpanan bank mereka untuk konsumsi,” ucap Misbakhun, dikutip dari RRI.

Kemudian, Misbakhun juga menilai, tren ini menjadi pertanda belum berakhirnya efek krisis Pandemi Covid-19 terhadap perekonomian Indonesia. Oleh karenanya, pentingnya kebijakan penanganan yang lebih detail dari pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Situasi-situasi ini kan memberikan dampak yang menurut saya masih dipelajari semua oleh alih ekonomi makro. Dicarikan exit strateginya, jalan keluar, policymaker akan melakukan langkah seperti apa?,” ujar Misbakhun.

Diketahui, merujuk kajian Mandiri Institute bertajuk Demograpihic Insight: Dinamika Kelas Menengah di 2025, penurunan kelas menengah masih terus terjadi. Mandiri Institute mencatat, jumlah kelas menengah pada 2025 telah turun 1,1 juta orang, menjadi 46,7 juta orang.

Jumlah kelas menengah yang turun kelas ke dalam kategori aspiring middle class ini pun lebih dalam dibanding 202. Yakni, yang turun kelas sebanyak 400 ribu orang.

Masalah ini diiringi dengan terus munculnya data makan tabungan oleh masyarakat. Termasuk, saat momentum hari raya keagamaan pada tahun ini.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI) pada Maret 2026, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) turun. Yaitu, turun dari 17,7 persen menjadi 17,6 persen. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *