Bukan Hanya Tindakan Biadab, Umbu Rudi Ingatkan Bahaya Intoleransi Jadi Norma Baru

Berita Golkar – Ketika video perusakan rumah doa Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) di Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat menyebar luas di media sosial, sembilan pelaku ditangkap. Tapi yang lebih mengusik dari sekadar penangkapan itu adalah denting nyaring yang menggugat: ke mana arah toleransi bangsa ini?

Dr. Umbu Rudi Kabunang, anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, tak menunggu lama untuk bersuara. Lgislator asal NTT yang membidangi hukum dan HAM ini melayangkan pernyataan tegas, lebih dari sekadar kutukan.

“Dimanakah Indonesia yang aman dan damai dengan Pancasila sebagai dasar negara?” tulis Umbu Rudi dalam pernyataan resminya, Senin (28/7/2025), dikutip dari SelatanIndonesia.

Baginya, perusakan rumah ibadah bukan sekadar tindakan pidana. Itu tamparan keras terhadap fondasi kebangsaan yang bertumpu pada Ketuhanan Yang Maha Esa dan Persatuan Indonesia. Ia menyebut aksi itu sebagai “tindakan biadab” dan menyerukan aparat agar tidak hanya mengejar pelaku, tapi juga menegakkan nilai.

“Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan berbasis agama di tanah air yang menjunjung tinggi Pancasila,” ujarnya.

Polresta Padang memang telah menangkap sembilan orang berdasarkan rekaman video yang viral. Wakapolda Sumatera Barat, Brigjen Pol. Solihin, memastikan proses hukum berjalan. Namun, publik belum mendapat jawaban tuntas: siapa dalangnya, apa motifnya, dan mengapa rumah doa itu menjadi sasaran? “Penyelidikan masih berlanjut,” kata Solihin singkat.

Kehadiran negara, bagi Umbu Rudi, bukan hanya soal pasal-pasal pidana dan penahanan pelaku. Tapi lebih dalam: melindungi ruang hidup bersama yang plural. Ia mengingatkan, peristiwa semacam ini bukan kali pertama, tapi kerap kali respons negara terkesan minimalis.

“Kalau negara terus membiarkan atau menanggapi setengah hati, intoleransi bisa jadi norma baru. Itu yang paling berbahaya,” ujarnya.

Nada suara Umbu Rudi menggambarkan lebih dari sekadar kekesalan. Ada keprihatinan yang dalam atas deformasi wajah Indonesia sebagai bangsa majemuk. Ia menyebut Pancasila bukan slogan kosong, tetapi nilai yang seharusnya hidup dalam tindakan aparat dan masyarakat.

Sebagai representasi dari daerah yang dikenal sangat toleran, Umbu Rudi menawarkan cermin dari Nusa Tenggara Timur. Di wilayah yang dihuni beragam pemeluk agama, toleransi bukan proyek melainkan tradisi yang lahir dari laku hidup bersama.

“Kami di NTT dan Indonesia Timur selalu damai meski kami berbeda. Ketika Natal, Remaja Masjid dan GP Ansor membersihkan gereja dan menjaga keamanannya. Saat Idul Fitri, umat Kristen menjaga parkir dan keamanan masjid. Lalu kita saling mengunjungi. Itu Indonesia yang kami kenal,” ujarnya dengan nada lirih namun tegas.

Kritik Umbu Rudi lantas menjelma alarm: jangan biarkan intoleransi tumbuh dalam ruang kompromi yang diam. Ia menyerukan penegakan hukum yang adil dan terbuka, agar kepercayaan masyarakat pada negara tidak luntur.

”Indonesia adalah rumah besar semua umat. Kalau satu temboknya dirusak, semua fondasi bisa runtuh. Ini bukan hanya soal GKSI di Padang. Ini soal siapa kita sebagai bangsa,” tegasnya.

Di tengah riuh politik dan pusaran isu ekonomi, peristiwa di Padang dan suara dari Senayan ini mengingatkan kita akan hal yang paling mendasar bahwa tak ada pembangunan yang berarti bila fondasi kebangsaan dibiarkan retak. Karena bila satu rumah doa bisa dihancurkan begitu saja, siapa yang bisa menjamin rumah-rumah lain tetap berdiri? {}