Menperin Agus Gumiwang Ungkap Usulan Insentif Otomotif, Hitung Manfaat Lebih Besar dari Biaya

Berita GolkarMenteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita blak-blakan soal usulan insentif dan stimulus sektor otomotif yang diajukannya kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

“Seperti yang selalu kami sampaikan bahwa program yang kami usulkan atas nama perlindungan tenaga kerja, dan juga kekuatan atau penguatan manufaktur bidang otomotif yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi kepada perekonomian,” ujar Agus, di Jakarta pada Rabu (31/12/2025), seperti dikutip dari Tempo.
Agus menjelaskan usulan itu telah dirancang lebih komprehensif dan terukur dibandingkan skema insentif pada masa pandemi Covid-19, dengan tujuan utama menjaga keberlangsungan tenaga kerja di industri otomotif nasional.

Insentif yang diusulkan tersebut, kata Agus, disusun secara lebih detail dengan mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari segmentasi kendaraan, teknologi, hingga bobot Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Tak hanya itu, pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan kendaraan ramah lingkungan.

“Prinsipnya adalah yang kami usulkan mereka yang mendapatkan manfaat terhadap insentif dan stimulus itu harus memiliki TKDN, dia harus memenuhi nilai emisi maksimal sekian.”

Kementerian Perindustrian pun menetapkan batasan harga pada masing-masing segmen kendaraan agar insentif benar-benar tepat sasaran.

Adapun penyusunan usulan insentif ini, menurut Agus, telah melalui proses yang panjang dan sudah melibatkan pelaku industri, dalam hal ini Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

Interest dari Kemenperin cuma satu, yakni melindungi tenaga kerja yang ada di sektor otomotif, yang ada di ekosistem otomotif karena forward dan backward linkage-nya sangat tinggi sektor otomotif itu terlalu besar, maka itu harus kita lindungi,” ucap Agus.

Ia mengungkapkan pembahasan insentif ini juga dilakukan secara teknokratis dengan memperhitungkan aspek biaya dan manfaat bagi negara. “Kemenperin juga tentu tidak mau usulan yang kami usulkan itu kemudian membuat negara cekak atau defisit, maka hitungan benefit-nya harus lebih besar dari cost yang disiapkan oleh negara.”

Gaikindo sebelumnya telah merevisi target penjualan mobil pada tahun 2025 menjadi 780 ribu unitdari semula di angka sekitar 900 ribu. Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto menyatakan revisi signifikan ini dilakukan berdasarkan perbandingan data penjualan hingga November tahun ini. Data menunjukkan bahwa kinerja penjualan berada 10 persen di bawah capaian tahun sebelumnya.

Adapun penjualan kendaraan pada periode sama 2024 tercatat sebanyak 865 ribu unit. Dengan mengurangi angka tersebut sebesar 10 persen, Gaikindo menetapkan angka proyeksi yang baru. “Kalau dikurangi 10 persen, angkanya adalah 780 ribu unit,” ujar Jongkie pada pertengahan Desember lalu.

Mengutip laman resmi Gaikindo, total penjualan retail kendaraan roda empat sepanjang Januari-Oktober 2025 adalah 660.659 unit. Trennya terus meningkat pada tiga bulan awal, tapi mulai menurun pada April 2025 dan mengalami fluktuasi. Adapun pada Oktober 2025 meningkat menjadi 74.720 dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 63.752 unit.

Pada periode tersebut, ada tiga besar merek kendaraan dengan angka penjualan tertinggi, yakni Toyota, Daihatsu, dan Honda, yang masing-masing menjual 209.387, 112.530, dan 58.720 unit. Untuk segmen mobil listrik yang mencatat percepatan pertumbuhan penjualan adalah merek BYD, Denza, dan AION. {}