Berita Golkar – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM), termasuk sentra industri alas kaki, guna menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan dinamika ekonomi global dan perubahan perilaku pasar.
Melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA), Kemenperin menjalankan berbagai kebijakan, program fasilitasi, serta pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas usaha sentra IKM agar mampu bersaing di pasar domestik maupun global.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sentra IKM hingga kini masih menghadapi sejumlah tantangan struktural, mulai dari keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, hingga minimnya inovasi produk.
“Tantangan yang sering dihadapi sentra IKM antara lain keterbatasan akses permodalan dan pasar, rendahnya literasi manajemen usaha dan keuangan, serta kurangnya inovasi produk. Di sisi lain, sentra IKM juga dihadapkan pada perubahan tren pasar yang cepat dan meningkatnya persaingan dengan produk impor,” ujar Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/1/2025), dikutip dari RM.
Salah satu contoh sentra yang menghadapi tantangan tersebut adalah sentra IKM alas kaki di Ciomas, Kabupaten Bogor. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita, yang mengunjungi sentra tersebut pada September 2025, menyebut perubahan perilaku konsumen pascapandemi COVID-19 turut memengaruhi kinerja usaha para perajin.
Selain itu, isu regenerasi perajin juga menjadi perhatian. Menurut Reni, mayoritas perajin alas kaki di Ciomas merupakan generasi senior yang belum sepenuhnya menguasai keterampilan baru, terutama terkait teknologi dan tren pasar terkini.
“Karena itu, dibutuhkan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi agar sentra IKM dapat terus berkembang,” kata Reni.
Padahal, industri alas kaki memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin menunjukkan industri alas kaki bersama industri kulit tumbuh sebesar 8,31 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada triwulan II-2025 dan tumbuh 0,72 persen secara kuartalan (quarter to quarter/qtq) pada triwulan III-2025.
Nilai investasi industri alas kaki juga tercatat mencapai lebih dari Rp 18 triliun sepanjang Januari hingga September 2025. Dari sisi ekspor, kinerja industri alas kaki Indonesia tumbuh 11,89 persen pada periode Januari–Agustus 2025 dan menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki.
Reni menambahkan, capaian tersebut tidak terlepas dari kontribusi sentra IKM alas kaki yang menaungi jumlah pelaku usaha cukup besar. Namun, diperlukan upaya berkelanjutan agar sentra IKM dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan.
Sebagai langkah konkret, Ditjen IKMA melalui kolaborasi Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor, melaksanakan serangkaian program peningkatan daya saing bagi perajin sentra IKM alas kaki Ciomas.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan mengatakan sepanjang akhir 2025 telah dilaksanakan tiga kegiatan pembinaan utama, yakni peningkatan literasi digital, bimbingan teknis, serta pendampingan oleh mentor dari perguruan tinggi. Program tersebut diikuti oleh 14 perajin perwakilan sentra IKM alas kaki Ciomas.
“Pembinaan ini bertujuan agar perajin semakin familiar dengan pemasaran digital, memahami desain dan pola alas kaki terkini untuk mendorong inovasi produk, serta mampu mengelola usaha secara lebih efisien,” ujar Budi.
Rangkaian pembinaan diawali dengan kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan di Jawa Barat pada 12 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh 14 perajin sentra alas kaki Ciomas serta 56 IKM kimia, sandang, dan kerajinan lainnya dari Kota dan Kabupaten Bogor.
Materi yang diberikan mencakup strategi pemasaran digital, optimalisasi penjualan di lokapasar (marketplace), serta praktik fotografi produk, dengan narasumber dari Universitas Prasetiya Mulya, Shopee Indonesia, dan Universitas Ciputra Jakarta.
Desember 2025 dengan narasumber dari BPIPI. Program pembinaan dilanjutkan dengan pendampingan oleh mentor dari Universitas Prasetiya Mulya hingga 2026 bagi peserta terpilih.
“Kami berharap pembinaan ini menjadi modal dasar bagi perajin untuk memperkuat kondisi internal usaha, memahami kebutuhan bisnis secara tepat, serta menentukan langkah strategis dalam menghadapi dinamika pasar,” kata Budi.
Ke depan, Kemenperin mendorong perajin memanfaatkan berbagai dukungan pemerintah, mulai dari fasilitas pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Industri Padat Karya (KIPK), layanan konsultasi teknis BPIPI, hingga program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan bagi IKM untuk meningkatkan kapasitas produksi. {}













