Puji Penanganan Bencana Prabowo, Firman Soebagyo: Indonesia Harus Naik Kelas dalam Mitigasi

Berita GolkarAnggota Komisi IV DPR RI, Firman Soebagyo, memberikan apresiasi kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto atas respons cepat dan penanganan bencana yang dinilainya relatif optimal di sejumlah wilayah, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Menurut politisi senior Partai Golkar ini, langkah-langkah tanggap darurat yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa negara hadir dan bekerja dalam situasi krisis, sekaligus memperlihatkan kapasitas nasional yang semakin matang dalam menghadapi bencana.

“Penanganan bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menunjukkan bahwa negara tidak diam. Pemerintahan Presiden Prabowo mampu bergerak cepat, mengkoordinasikan sumber daya, dan merespons kebutuhan masyarakat terdampak. Ini patut diapresiasi karena di saat krisis, kecepatan dan ketepatan adalah ukuran utama kehadiran negara,” ujar Firman.

Meski demikian, Firman menegaskan bahwa keberhasilan tanggap darurat tidak boleh membuat bangsa ini berpuas diri. Ia menilai, mitigasi bencana di wilayah-wilayah rawan masih harus ditingkatkan secara serius dan berkelanjutan, dengan orientasi utama pada penguatan kemampuan nasional agar Indonesia semakin mandiri dalam menghadapi ancaman bencana.

“Mitigasi bencana di Aceh, Sumbar, dan Sumatera Utara memang perlu ditingkatkan dan diselesaikan dengan kemampuan sendiri. Kita tidak boleh hanya kuat saat darurat, tetapi lemah dalam pencegahan. Justru di sinilah ujian kemandirian bangsa, apakah kita mampu membangun sistem yang membuat korban bisa ditekan sejak awal,” tegas legislator asal Pati, Jawa Tengah tersebut.

Firman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI ini memandang, dari berbagai peristiwa bencana yang terjadi, Indonesia sesungguhnya telah menunjukkan sejumlah modal penting.

Mulai dari kemampuan tanggap darurat yang semakin baik, keterlibatan masyarakat yang tinggi, hingga peluang besar untuk mengembangkan teknologi mitigasi bencana yang sesuai dengan karakter geografis dan sosial Indonesia.

“Kita punya sumber daya manusia, kita punya pengetahuan lokal, dan kita punya pengalaman panjang menghadapi bencana. Semua ini adalah modal besar untuk membangun teknologi dan sistem mitigasi yang khas Indonesia, sehingga tidak bergantung pada negara lain,” kata Firman.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa masih terdapat pekerjaan rumah besar yang harus segera dibenahi. Firman menyoroti pentingnya penguatan koordinasi antar lembaga, baik pemerintah pusat, daerah, maupun unsur swasta dan komunitas. Menurutnya, tanpa koordinasi yang solid, sebaik apapun sumber daya yang dimiliki tidak akan bekerja maksimal.

“Sering kali kita kuat di lapangan, tetapi lemah di meja koordinasi. Ini yang harus dibenahi. Penanganan bencana tidak boleh berjalan sektoral. Harus ada orkestrasi nasional yang jelas, mulai dari perencanaan, mitigasi, hingga rehabilitasi. Kalau koordinasi lemah, korban yang membayar mahal,” ujarnya.

Selain koordinasi, Firman menekankan pentingnya peningkatan pendanaan serta pendidikan kebencanaan. Ia menilai, mitigasi bencana bukan beban anggaran, melainkan investasi keselamatan bangsa. Tanpa dukungan anggaran yang memadai dan edukasi yang masif, masyarakat akan selalu berada pada posisi paling rentan.

“Pendanaan mitigasi bencana harus dilihat sebagai investasi, bukan pengeluaran. Setiap rupiah yang kita tanamkan untuk pencegahan akan menyelamatkan nyawa, aset, dan masa depan. Di saat yang sama, pendidikan dan pelatihan kebencanaan harus diperluas agar masyarakat tidak hanya menjadi korban, tetapi juga subjek yang tangguh,” tegas Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini.

Firman menutup dengan menegaskan bahwa tujuan akhir dari seluruh upaya tersebut adalah membangun kemandirian bangsa dalam menghadapi bencana. Menurutnya, Indonesia tidak boleh terus-menerus berada pada posisi reaktif, melainkan harus naik kelas menjadi bangsa yang siap, tangguh, dan berdaulat dalam urusan mitigasi.

“Indonesia punya potensi besar untuk mandiri dalam mengatasi bencana. Pemerintahan Prabowo sudah menunjukkan fondasi yang baik dalam penanganan darurat. Sekarang tugas kita bersama adalah memastikan fondasi itu diperkuat dengan sistem mitigasi, riset, pendanaan, dan pendidikan yang serius. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang bisa bangkit setelah bencana, tetapi bangsa yang mampu mencegah kehancuran sejak awal,” pungkas Firman.

Leave a Reply