Berita Golkar – Anggota Komisi XI DPR Fraksi Partai Golkar Eric Hermawan menyebut pelemahan mata uang rupiah terhadap dolar bukan disebabkan pencalonan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Eric mengatakan, berdasarkan data yang ada, rupiah sudah melemah sejak Desember 2025. Malahan, kata dia, rupiah diprediksi terus melemah sampai Lebaran Idul Fitri 2026 nanti, akhir Maret.
“Sebenarnya dolar naik terhadap rupiah sudah terjadi di Desember sampai hari ini, bahkan diprediksi hingga Lebaran. Ini penurunan rupiah terhadap USD bukan pengaruh pencalonan BI,” ujar Eric kepada Kompas.com, Kamis (22/1/2026).
Lalu, Eric mengatakan, kebutuhan impor minyak akan naik saat Lebaran 2026 nanti. Berhubung impor minyak menggunakan USD, kata dia, maka demand terhadap USD juga akan semakin tinggi. “Karena demand tinggi terhadap minyak, maka naik permintaan USD,” ucapnya.
Sementara itu, Eric menekankan, independensi BI tidak terpengaruh oleh bergabungnya Thomas Djiwandono. Dia membeberkan bahwa BI sangatlah dominan, sehingga tidak bisa dipengaruhi oleh perorangan. “Intinya BI independen dan tidak terpengaruh dengan hoaks atau hal-hal yang sifatnya prediksi,” tegas Eric.
Thomas Djiwandono calon Deputi Gubernur BI
Sebelumnya, nama Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono masuk dalam bursa calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menyusul pengunduran diri Deputi Gubernur BI Juda Agung.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Thomas menjadi salah satu nama yang diusulkan pemerintah untuk mengisi posisi tersebut.
Prasetyo menjelaskan, Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan surat presiden (surpres) berisi nama-nama calon Deputi Gubernur BI kepada DPR RI.
Selanjutnya, para kandidat akan menjalani uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di DPR, termasuk Thomas yang merupakan keponakan Prabowo itu.
“Ini yang kemudian dilanjutkan dengan Bapak Presiden atau pemerintah mengirimkan Surpres ke DPR karena memang proses pemilihannya ada di DPR melalui uji kompetensi atau fit and proper test,” ujar Prasetyo. {}













