Berita Golkar – Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mendukung penuh langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam memitigasi potensi gangguan pasokan minyak dan gas dunia menyusul meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
“Kami mendukung langkah Menteri ESDM yang telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi untuk menjaga keberlangsungan pasokan energi nasional,” kata Bambang dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/3/2026), dikutip dari Sinpo.
Menurut Bambang, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi berdampak pada akses pelayaran di Selat Hormuz. Dia menyebut Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling strategis di dunia karena sekitar 20 persen suplai minyak global melewati kawasan tersebut.
Oleh karena itu, kata dia, apabila jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tapi juga negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Legislator dari Fraksi Partai Golkar ini menyatakan saat ini Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas energi dari kawasan Timur Tengah, termasuk crude oil serta LPG dari Arab Saudi.
Bambang menilai ketergantungan terhadap jalur pasokan tersebut, membuat pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar stabilitas pasokan energi domestik tetap terjaga apabila terjadi gangguan distribusi lokal.
“Dalam situasi geopolitik global yang dinamis, upaya antisipatif seperti ini sangat penting agar ketahanan energi Indonesia tetap terjaga,” ujarnya.
Dia mengungkapkan langkah mitigasi sejak dini diperlukan karena pemerintah tidak bisa berspekulasi mengenai lama potensi gangguan di Selat Hormuz. Bagi Bambang, diversifikasi sumber pasokan menjadi salah satu opsi penting agar Indonesia memiliki fleksibelitas dalam menjaga keberlanjutan pasokan energi nasional.
“Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah memperluas sumber pasokan minyak dan gas dari negara-negara lain yang secara geopolitik lebih stabil. Termasuk dari Amerika Serikat maupun negara produsen lain yang memiliki jalur distribusi lebih aman,” katanya.
Wakil Rakyat asal Bangka Belitung itu juga menyampaikan stok crude oil nasional saat ini masih pada kisaran sekitar 21 hari dan masih dalam kondisi aman. Namun, situasi geopolitik global yang dinamis menuntut pemerintah untuk tetap melakukan langkah antisipatif guna memastikan keberlanjutan pasokan energi bagi masyarakat dan sektor industri.
“Stok saat ini memang masih aman, tapi mitigasi tetap perlu disiapkan sejak dini. Ketahanan pasokan migas sangat penting karena menyangkut stabilitas ekonomi dan kebutuhan energi masyarakat,” katanya. []



