Banyak Siswa Tak Habiskan MBG, Yahya Zaini Minta Pemerintah Perjelas Prioritas Sekolah Agar Tepat Sasaran

Berita Golkar Hasil penelitian Departemen Antropologi FISIP UI menunjukkan, mayoritas siswa sekolah dasar di Jakarta tidak menghabiskan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Wakil Ketua Komisi IX DPR, Yahya Zaini menegaskan pemerintah harus tepat sasaran sekolah dalam pembagian MBG. “Perlu kejelasan sasaran. Pemerintah perlu memperjelas kriteria dan prioritas sekolah penerima manfaat MBG,” kata Yahya saat dikonfirmasi, Kamis (5/3/2026).

Yahya juga meminta BGN melakukan evaluasi terkait variasi menu yang disiapkan SPPG. Dengan demikian siswa tidak bosan dan mau menghabiskan MBG.

“Siswa tidak habiskan makanan karena menu tidak bervariasi sehingga menimbulkan kebosanan pada anak. Saya meminta BGN untuk mengedukasi SPPG agar memperhatikan 3 hal. Pertama, kandungan gizi menu jangan sampai kurang dari standar. Kedua, keamanan makanan harus terjamin. Ketiga, menu harus bervariasi supaya siswa tidak bosan sehingga makanan di makan habis oleh siswa,” bebernya, dikutip dari Liputan6.

Penelitian FISIP UI

Sebelumnya, hasil penelitian Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) menunjukkan, mayoritas siswa sekolah dasar di Jakarta tidak menghabiskan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini menimbulkan potensi pemborosan makanan (food waste) dalam program tersebut.

Penelitian yang dilakukan di lima Sekolah Dasar (SD) di wilayah Jakarta Timur, Barat, Utara, Selatan dan Pusat ini dipimpin oleh Dosen Antropologi FISIP UI Dian Sulistiawati.

Penelitian berlangsung pada Juni hingga September 2025 dengan metode wawancara dan observasi langsung terhadap siswa, guru, pengelola sekolah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), serta Badan Gizi Nasional (BGN).

“Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran nyata yang rinci dan mendalam tentang pelaksanaan MBG di beberapa sekolah di DKI Jakarta,” ujar Dian. Dikutip dari website Fisip UI, Rabu (4/3/2026).

Dalam setiap kunjungan, tim peneliti menghabiskan satu hari di masing-masing sekolah dan mengamati proses siswa menyantap MBG di dua hingga tiga kelas. Berdasarkan temuan di lapangan, dari satu kelas yang berisi 32–34 siswa, hanya sekitar empat hingga lima siswa yang menghabiskan makanan yang disediakan.

“Bayangkan, di satu kelas itu hanya 4–5 siswa yang omprengnya benar-benar habis dan makanannya memang dimakan oleh siswa,” beber Dian.

Sebagian besar siswa lainnya tidak mengonsumsi makanan secara tuntas, bahkan ada yang hanya memakan dalam jumlah sangat sedikit. Di beberapa sekolah, siswa diperbolehkan membawa pulang sisa makanan karena tidak semua SPPG melarang hal tersebut.

Perlu Jadi Perhatian Serius

Menurut Dian, kondisi ini perlu menjadi perhatian serius penyelenggara program. MBG dirancang untuk memastikan asupan nutrisi anak terpenuhi, namun fakta di lapangan menunjukkan makanan yang disediakan belum sepenuhnya dikonsumsi penerima manfaat.

“Sungguh sangat ironis jika program yang bertujuan mengatasi persoalan makanan dan nutrisi, dengan biaya besar, justru berpotensi menyebabkan food waste,” ujarnya.

Lebih jauh, penelitian ini juga memetakan peluang, kendala, dan strategi pelaksanaan MBG di tingkat sekolah. Studi tersebut memandang MBG bukan sekadar program teknis penyediaan makanan, tetapi sebagai proses pembangunan yang dipengaruhi relasi sosial, infrastruktur, tata kelola, dan partisipasi aktor lokal.

Dalam konteks pelaksanaan, banyak menu yang dianggap asing oleh anak-anak, sehingga menurunkan minat konsumsi dan memicu sisa makanan. Dian menekankan bahwa makanan dan kebiasaan makan merupakan konstruksi budaya. Oleh karena itu, perubahan kebiasaan makan tidak cukup hanya melalui pemberian makanan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *