Berita Golkar – Atmosfer hangat menyelimuti pertemuan diaspora Indonesia di Yordania ketika Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia hadir di tengah para mahasiswa.
Bukan sekadar agenda resmi, perjumpaan di lingkungan University of Jordan itu berubah menjadi momen penuh antusiasme. Para pelajar Indonesia yang tengah menempuh studi di Timur Tengah menyambut kedatangan sang menteri dengan semangat yang terasa personal.
Sejumlah mahasiswa bahkan secara terbuka menyebut diri mereka sebagai penggemar. Kekaguman itu mencuat spontan saat sesi dialog berlangsung.
Adil, mahasiswa Indonesia di University of Jordan, mengaku tak bisa menyembunyikan kegembiraannya ketika bertemu langsung dengan Bahlil.
“Pas bertemu Pak Bahlil semangat banget. Kami ngefans banget sama orangnya. Ternyata Pak Bahlil bagus banget orangnya, ganteng, dan kita doakan jajaran kepresidenan sehat semuanya,” ujar Adil, menggambarkan kesan spontan yang ia rasakan, dikutip dari Tribunnews.
Bagi Adil, daya tarik Bahlil bukan semata karena jabatan yang diemban, melainkan karena karakter dan karisma yang ia lihat secara langsung. Sosok menteri muda dengan latar belakang pengusaha itu dipandang sebagai representasi pemimpin yang meniti karier dari bawah hingga berada di lingkaran strategis pemerintahan.
Pandangan serupa disampaikan Said Muhammad Aqil, mahasiswa jurusan Fiqih dan Ushuluddin di kampus yang sama. Ia menilai kesempatan berdialog langsung dengan pejabat negara merupakan pengalaman yang tidak setiap hari bisa dirasakan mahasiswa di luar negeri.
“Beliau sangat karismatik. Pak Bahlil sangat menginspirasi kita dan kita banyak mengambil pelajaran dari beliau, baik yang duniawi hingga ukhrawi,” tutur Said.
Menurut Said, kehadiran pejabat pemerintah di tengah diaspora membawa makna lebih dalam daripada sekadar kunjungan formal. Ia melihatnya sebagai bentuk perhatian negara sekaligus penguat ikatan emosional antara Indonesia dan generasi mudanya di perantauan.
Dalam sesi tersebut, Bahlil menyempatkan diri menyapa mahasiswa satu per satu, mendengarkan aspirasi mereka, serta berfoto bersama. Dialog yang terjalin berlangsung santai, mencerminkan suasana akrab yang sejak awal terasa cair.
Dengan gaya lugas yang menjadi ciri khasnya, ia menutup interaksi singkat itu dengan apresiasi sederhana, “Paten kalian.”
Bagi para mahasiswa Indonesia di Yordania, pertemuan tersebut meninggalkan kesan mendalam. Di tengah dinamika global dan tantangan pembangunan nasional, figur publik yang hadir langsung di hadapan mereka menjadi sumber motivasi sekaligus penguat optimisme untuk kembali dan berkontribusi bagi tanah air. []



