Berita Golkar – Spiritualitas Islam tidak hanya hadir dalam ritual, tetapi juga menemukan ekspresinya dalam warna, garis, bunyi, dan ruang. Gagasan itulah yang diangkat dalam pameran seni rupa bertajuk “Ruang Tafakur: Merayakan Spiritualitas Islam dalam Seni Rupa” yang digelar di Bentara Budaya Jakarta, 27 Februari hingga 13 Maret 2026.
Pameran ini menghadirkan 20 seniman dari beragam latar belakang, yang menafsirkan spiritualitas Islam melalui pendekatan visual yang variatif.
Mulai dari lukisan, kaligrafi, instalasi, video, hingga eksplorasi bunyi, seluruh karya mengajak publik memasuki ruang kontemplasi yang lebih personal dan reflektif.
Pameran berlangsung di Bentara Budaya Jakarta, Jalan Palmerah Selatan No. 17, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dibuka pada Jumat (27/2/2026) pukul 16.00 WIB oleh Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI T.B. Ace Hasan Syadzily dan Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Seni sebagai Penguat Ketahanan Mental dan Budaya
Dalam sambutannya, Ace Hasan Syadzily menekankan bahwa ketahanan nasional tidak hanya berkaitan dengan aspek politik dan keamanan, tetapi juga menyangkut kesehatan mental masyarakat. Menurut dia, seni dan spiritualitas memiliki peran penting dalam memperkuat dimensi tersebut.
“Spiritualitas dan seni seperti kaligrafi dan lukisan dianggap penting sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, memperkuat kesehatan mental, serta meningkatkan ketahanan budaya dan emosional masyarakat,” ujar Ace, dikutip dari KompasTV.
Ia menambahkan, kegiatan seni dan budaya turut memperkuat kebudayaan nasional dan membantu masyarakat memahami peran serta kontribusinya bagi bangsa.
Sementara itu, Gus Yahya menyebut pameran ini bukan sekadar ruang apresiasi seni, melainkan juga sarana refleksi spiritual dan intelektual.
Melalui tema “tafakur”, pengunjung diajak melakukan perenungan atas makna seni Islam yang tidak terbatas pada simbol-simbol budaya tertentu.
“Melalui tema tafakur, pameran ini mengajak masyarakat untuk melakukan perenungan serta memahami bahwa seni Islam memiliki makna yang luas dan tidak terbatas pada simbol-simbol budaya tertentu. Pameran ini diharapkan dapat memberikan inspirasi dan pengalaman bermakna bagi para pengunjung,” ucap Gus Yahya.
Ragam Medium, Ragam Tafsir
Karya-karya yang dipamerkan memperlihatkan spektrum ekspresi yang luas. Kaligrafi Arab tetap menjadi salah satu medium penting, namun diolah dalam pendekatan yang beragam, mulai dari yang berpijak pada kaidah klasik hingga eksplorasi kontemporer.
Selain kaligrafi, sejumlah seniman mengangkat tema kemanusiaan dan refleksi diri dalam konteks pengalaman spiritual. Ada yang mengeksplorasi ruang dan bunyi, ada pula yang memadukan unsur visual dengan pendekatan instalatif.
Keseluruhannya menghadirkan pengalaman estetik yang mengajak pengunjung berhenti sejenak dari hiruk pikuk keseharian. Kurator pameran, Hilmi Faiq, menjelaskan bahwa gagasan pameran ini berangkat dari pengalaman Ramadan sebagai ruang pengendapan batin.
Dalam momen tersebut, manusia belajar kembali mengenali dirinya sebagai makhluk yang rapuh sekaligus mulia. Ia menyebut, spiritualitas Islam dalam pameran ini dihadirkan dalam bahasa rupa yang lebih reflektif.
Setiap karya diibaratkan sebagai pintu yang terbuka perlahan, memberi kesempatan bagi siapa pun untuk melangkah masuk dengan tenang. Hilmi juga menekankan bahwa latar tradisi kesantrian memberi pengaruh kuat dalam pembentukan sensibilitas artistik para seniman.
“Huruf-huruf dibunyikan dan dihayati, kata-kata menjelma pemahaman. Dalam pengalaman panjang itu, spiritualitas meresap dan menemukan ekspresinya dalam warna, garis, bunyi, dan ruang,” katanya.
Sebanyak 20 seniman terlibat dalam pameran ini, antara lain Acep Zamzam Noor, Agus Baqul, Anis Affandi, Arahmaiani, Didin Sirojuddin, Fadriah Syuaib, Faisal Kamandobat, Fatwa Amalia, Hanafi, Ilham Khoiri, Jumaldi Alfi, Muna Diannur, Nasirun, Qonita Farah Dian, Robert Nasrullah, Said Akram, Syaiful Adnan, Tamar Saraseh, Ujang Badrussalam, hingga Umar Faruq.
Latar belakang mereka beragam, mulai dari pendidikan seni formal hingga pengalaman dalam tradisi pesantren. Keberagaman ini memperkaya sudut pandang dalam memaknai spiritualitas Islam melalui bahasa visual.
General Manager Bentara Budaya dan Communication Management Kompas Gramedia, Ilham Khoiri, menilai pameran ini penting dalam konteks kebudayaan Indonesia saat ini.
Ia menyoroti bahwa dimensi estetik Islam memiliki sisi keindahan dan keramahan yang lebih mudah menyentuh khalayak luas. Menurut Ilham, hingga kini belum terselenggara festival besar seni rupa Islam dengan jangkauan luas.
Ekspresi keislaman dalam seni rupa masih cenderung sporadis dan terbatas. Karena itu, upaya menghadirkan kembali seni rupa dengan semangat keislaman dinilai perlu terus didorong. “Penting mendorong kembali tampilnya dimensi seni Islam yang indah, ramah, dan lebih mudah menyentuh khalayak luas,” tuturnya.
Selain pameran, akan digelar diskusi bertajuk “Mencari Seni Rupa Islam” pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00 WIB. Diskusi ini menghadirkan Didin Sirojuddin, Ilham Khoiri, dan Merwan Yusuf, dengan moderator Hilmi Faiq.
Pameran dibuka untuk umum setiap hari pukul 10.00 hingga 18.00 WIB. Dalam momen tersebut, manusia belajar kembali mengenali dirinya sebagai makhluk yang rapuh sekaligus mulia. Ia menyebut, spiritualitas Islam dalam pameran ini dihadirkan dalam bahasa rupa yang lebih reflektif.
Setiap karya diibaratkan sebagai pintu yang terbuka perlahan, memberi kesempatan bagi siapa pun untuk melangkah masuk dengan tenang. Hilmi juga menekankan bahwa latar tradisi kesantrian memberi pengaruh kuat dalam pembentukan sensibilitas artistik para seniman.
“Huruf-huruf dibunyikan dan dihayati, kata-kata menjelma pemahaman. Dalam pengalaman panjang itu, spiritualitas meresap dan menemukan ekspresinya dalam warna, garis, bunyi, dan ruang,” katanya.
Sebanyak 20 seniman terlibat dalam pameran ini, antara lain Acep Zamzam Noor, Agus Baqul, Anis Affandi, Arahmaiani, Didin Sirojuddin, Fadriah Syuaib, Faisal Kamandobat, Fatwa Amalia, Hanafi, Ilham Khoiri, Jumaldi Alfi, Muna Diannur, Nasirun, Qonita Farah Dian, Robert Nasrullah, Said Akram, Syaiful Adnan, Tamar Saraseh, Ujang Badrussalam, hingga Umar Faruq.
Latar belakang mereka beragam, mulai dari pendidikan seni formal hingga pengalaman dalam tradisi pesantren. Keberagaman ini memperkaya sudut pandang dalam memaknai spiritualitas Islam melalui bahasa visual.
General Manager Bentara Budaya dan Communication Management Kompas Gramedia, Ilham Khoiri, menilai pameran ini penting dalam konteks kebudayaan Indonesia saat ini.
Ia menyoroti bahwa dimensi estetik Islam memiliki sisi keindahan dan keramahan yang lebih mudah menyentuh khalayak luas. Menurut Ilham, hingga kini belum terselenggara festival besar seni rupa Islam dengan jangkauan luas.
Ekspresi keislaman dalam seni rupa masih cenderung sporadis dan terbatas. Karena itu, upaya menghadirkan kembali seni rupa dengan semangat keislaman dinilai perlu terus didorong.
“Penting mendorong kembali tampilnya dimensi seni Islam yang indah, ramah, dan lebih mudah menyentuh khalayak luas,” tuturnya.
Selain pameran, akan digelar diskusi bertajuk “Mencari Seni Rupa Islam” pada Sabtu, 7 Maret 2026 pukul 16.00 WIB. Diskusi ini menghadirkan Didin Sirojuddin, Ilham Khoiri, dan Merwan Yusuf, dengan moderator Hilmi Faiq. Pameran dibuka untuk umum setiap hari pukul 10.00 hingga 18.00 WIB. []



