Berita Golkar – Ketua Satkar Ulama Indonesia Provinsi Jawa Barat, M Sahrul Fadli menegaskan bahwa suksesi kepemimpinan di Golkar Jawa Barat tidak boleh terjebak pada politik gimik.
Melainkan harus berangkat dengan ide dan gagasan yang kuat untuk menata kembali harapan kemenangan di tanah Pasundan.
Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Jawa Barat kali ini adalah momentum krusial bagi Jawa Barat sebagai jantung detak politik nasional.
Sahrul Fadli menegaskan, secara geopolitik, stabilitas dan arah politik Indonesia sangat ditentukan oleh dinamika di Jabar. Oleh karena itu, pemimpin yang lahir harus memiliki standar kualitas yang paripurna.
1. Kematangan dan Kedalaman Gagasan (Bernas)
“Jawa Barat terlalu besar untuk dipimpin oleh figur instan. Kita butuh sosok yang Matang dan Bernas,” ujar Sahrul Fadli, dikutip dari Taktis.
Kematangan emosional dan kedalaman intelektual (bernas) menjadi syarat mutlak agar pemimpin mampu menavigasi kompleksitas masalah di Jawa Barat serta memenangkan pertarungan gagasan di tingkat nasional.
2. Teori Kesinambungan dan Keberlanjutan (Political Sustainability)
Dalam perspektif manajemen strategis, Sahrul Fadli menyoroti pentingnya Teori Kesinambungan (Continuity Theory).
Ia menegaskan bahwa pemimpin masa depan haruslah sosok yang sudah ikut andil dan paham mendalam terhadap anatomi organisasi sebelumnya. “Kepemimpinan baru tidak boleh memutus rantai keberhasilan pendahulunya. Kita butuh sosok yang sudah ‘berdarah-darah’ di lapangan, mengerti cetak biru perjuangan kita, dan paham keberlanjutan program yang telah diletakkan pimpinan terdahulu agar organisasi tidak mulai dari nol lagi,” jelasnya.
3. Legitimasi Modal Sosial dan Nasab yang Jelas
Secara teoretis, hal ini bersandar pada konsep Social Capital (Modal Sosial) dari Robert Putnam. Sahrul Fadli menekankan pentingnya Nasab (garis perjuangan) dan Rekam Jejak (Track Record) yang jelas. Pemimpin dengan akar ideologis yang kuat akan memiliki daya rekat (bonding) yang tinggi dengan kader di bawah, sekaligus mampu menjembatani (bridging) berbagai faksi kepentingan demi soliditas partai.
4. Sintesa Tradisi dan Inovasi: Kaidah Al-Muhafadzatu
Sebagai pimpinan Satkar Ulama, ia mengajak seluruh kader untuk mengadopsi kaidah fiqih: “Al-Muhafadzatu ‘ala qadimi al-shalih wal akhdu bi al-jadidi al-ashlah”.
“Kita harus memelihara tradisi lama yang sudah baik, namun berani mengambil inovasi baru yang lebih baik. Ini adalah dialektika antara menjaga marwah ‘partai karya’ dengan adaptasi teknologi digital untuk merangkul pemilih milenial dan Gen-Z,” tambahnya.
5. Transformasi Struktur Menjadi Kultur Pemenangan
Melalui pendekatan Path-Goal Theory, Sahrul Fadli berharap Musda ini mampu mengubah struktur organisasi yang kaku menjadi sebuah Kultur Politik Melayani.
Dengan berangkat dari ide dan gagasan yang jernih, Golkar Jabar akan kembali menjadi lumbung solusi bagi persoalan rakyat.
Sosok yang dibutuhkan adalah seorang Synthesizer—pemimpin yang bisa menjahit antara kemuliaan masa lalu dan tuntutan masa depan.
“Kita tidak sedang memilih pemimpin di ruang hampa. Kita mencari pemimpin yang berakar pada tradisi, namun terbang dengan sayap inovasi. Dari Jawa Barat, kita kirimkan pesan bahwa pohon beringin di jawa barat akan bersemi lebih kuat melalui kepemimpinan yang matang, bernas, dan berkesinambungan,” paparnya.
“Kemenangan Partai Golkar di Jawa Barat mensyaratkan satu hal mutlak: Soliditas yang Paripurna. Musda ini harus menyudahi segala faksionalisme. Artinya ketika nanti keluar dari ruangan kita harus dengan satu napas, satu irama, dan satu tujuan. Kekuatan kita adalah kebersamaan; kelemahan kita adalah perpecahan,” tutup M. Sahrul Fadli. []



