Berita Golkar – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar ingin musyawarah daerah di Sulawesi Selatan berakhir aklamasi. Beringin rindang Sulsel mencari ketua baru pengganti M Taufan Pawe.
Saat ini kekosongan jabatan diemban sementara oleh Korwil Pemenangan Pemilu DPP Golkar Wilayah Sulawesi Muhidin M Said.
DPP Partai Golkar dinilai tidak menginginkan Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulsel berubah menjadi arena pertarungan terbuka antar figur. Opsi aklamasi atau calon tunggal menguat sebagai jalan tengah yang dipilih.
Hal ini dilakukan demi menjaga soliditas dan stabilitas internal partai berlambang pohon beringin tersebut.
Koalisi Antarfigur Menguat Jelang Musda Golkar Sulsel, Siapa Berpeluang Diaklamasi?
Adapun pelaksanaan Musda Golkar Sulsel hingga kini masih belum memiliki kepastian jadwal.
Padahal, agenda strategis tersebut sebelumnya diproyeksikan berlangsung pada pekan ketiga Januari 2026 di Kota Makassar.
Sampai Minggu (4/1/2026), Plt Ketua Golkar Sulsel Muhidin M Said dan DPP Golkar belum juga memberikan kejelasan soal jadwal dan mekanisme Musda.
Ketidakpastian ini memicu spekulasi dan kegelisahan di kalangan kader Kondisi ini membuat kader di daerah masih berada dalam posisi menunggu.
“Belum ada jadwal resmi. Masih menunggu jadwal dari DPP,” ujar Anggota Fraksi Golkar DPRD Sulsel, Rahman Pina, Minggu (4/1/2026), dikutip dari TribunTimur.
Hal senada disampaikan Wakil Ketua Golkar Sulsel, Armin Toputiri. Ia menyebutkan seluruh kader masih menanti arahan resmi dari Plt Ketua Golkar Sulsel Muhidin M Said untuk mulai mempersiapkan pelaksanaan Musda. Hal ini mengingat kepengurusan saat ini sudah bersifat demisioner.
“Kami prinsipnya menunggu petunjuk dari Plt Ketua, karena kami semua sudah demisioner sebagai pengurus Golkar Sulsel,” kata Armin.
Sebelumnya, saat memimpin konsolidasi perdana pada 23 Desember 2025, Muhidin M Said menegaskan akan segera membentuk kepanitiaan Musda dan memastikan pelaksanaannya digelar di Makassar.
Namun, namun memasuki pekan pertama Januari 2026, pembentukan panitia dan penegapan jadwal Musda tak kunjung dilakukan. Meski jadwal belum pasti, dinamika politik internal Golkar Sulsel justru semakin mengerucut.
Sejumlah nama mulai mengemuka dalam bursa calon Ketua DPD I Golkar Sulsel. Di antaranya Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari, dan Bupati Soppeng Suwardi Haseng.
Setidaknya tiga kader tersebut hadir dalam konsolidasi pada Desember 2025 lalu di sekretariat DPD I Golkar Sulsel. Pasalnya, empat kader lainnya yang disebut-sebut akan maju sebagai calon ketua tidak hadir dalam konsolidasi ini. Mereka adalah Bupati Luwu Patahuddin, Bupati Bantaeng, M Fathul Fauzy Nurdin
Sementara kader fungsionaris adalah mantan Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan eks Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan.
Muhidin Dorong Calon Ketua Golkar Sulsel Dipilih Secara Aklamasi
Plt Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel, Muhidin M Said, memastikan Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulsel akan digelar pada pekan ketiga Januari 2026. Musda tersebut direncanakan berlangsung di Kota Makassar.
Muhidin menegaskan pemilihan ketua definitif Golkar Sulsel diupayakan berlangsung secara mufakat atau aklamasi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga soliditas dan stabilitas internal partai.
“Insyaallah Musda minggu ketiga bulan Januari. Kita harapkan mufakat supaya tidak terjadi gonjang-ganjing,” kata Muhidin usai konsolidasi dengan pengurus DPD II kabupaten/kota, Selasa (23/12/2025) lalu.
“Siapa pun yang terpilih harus didukung oleh seluruh kader Golkar di Sulsel,” tambahnya.
Politisi asal Soppeng itu menilai aklamasi menjadi pelajaran penting dari pengalaman sebelumnya. Menurutnya, kontestasi internal yang berujung kubu-kubuan terbukti berdampak pada kinerja politik Golkar di daerah.
“Kita sudah pengalaman yang lalu, Golkar tidak solid saat pencalonan bupati, wali kota, maupun DPRD. Karena itu, kita ingin Golkar satu bahasa,” tegasnya.
Muhidin melanjutkan, figur ketua yang akan dipilih harus memiliki kemampuan merekatkan kembali hubungan antar-kader serta mendapat dukungan menyeluruh dari struktur partai. Sejumlah nama potensial disebut berkembang, baik dari kalangan kepala daerah maupun tokoh internal partai.
Namun demikian, ia memastikan seluruh nama yang mencuat akan dikonsultasikan terlebih dahulu ke DPP Golkar di Jakarta sebelum keputusan final diambil.
“Kita diskusikan dulu di DPP. Siapa pun yang diputuskan nanti harus mendapat restu pusat dan didukung penuh oleh kader di Sulsel,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Muhidin juga mengonfirmasi mantan Ketua DPD I Golkar Sulsel, Taufan Pawe, tidak akan kembali maju dalam Musda. Taufan memilih fokus menjalankan tugasnya sebagai anggota DPR RI.
“Pak Taufan sudah menyampaikan kepada saya, beliau tidak maju lagi dan akan konsentrasi sebagai anggota DPR RI. Beliau juga siap mendukung siapa pun yang terpilih,” kata Muhidin.
Masa jabatan Taufan Pawe berakhir pada 19 November 2025 lalu.
19 DPD II Dukung Appi Pimpin Golkar Sulsel
DPD II Golkar Selayar dan DPD II Golkar Sinjai menambah daftar barisan pendukung Munafri Arifuddin maju memimpin beringin rindang Sulsel. Sebelumnya Ketua DPD II Golkar Takalar Zulkarnain Arif menyebut sudah ada 17 DPD II mendukung Appi, sapaan.
Dengan tambahan DPD II Golkar Selayar dan Sinjai maka kini sudah ada 19 barisan pendukung Appi. Jumat (26/12/2025) pengurus Golkar Sinjai dan Selayar bertamu ke rumah Appi, di Jalan Chairil Anwar, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makassar.
Ketua DPD II Partai Golkar Sinjai, Andi Kartini Ottong, membenarkan telah menyerahkan rekomendasi dukungan kepada Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin untuk maju di Musda DPD I Golkar Sulsel tahun depan.
“Iye, kami sudah serahkan rekomendasi dukungan Golkar Sinjai Kepada pak Appi maju Ketua Golkar Sulsel. Selanjutnya, kita menunggu mekanisme DPP seperti apa nantinya Musda,” singkat mantan Wakil Bupati Sinjai itu.
Penyerahan ini menjadi simbol komitmen dan kepercayaan struktural partai di daerah terhadap kepemimpinan Munafri Arifuddin dalam membawa Golkar Sulawesi Selatan ke arah yang lebih solid kedepannya.
Pada kesempatan ini, selaku kandidat calon Ketua Golkar Sulsel, Munafri menyampaikan rasa syukur dan merupakan suatu kehormatan mendapat support dan dukungan untuk memantapkan langkah maju di Musda Golkar Sulsel.
“Alhamdulillah, hari ini bertambah dua rekomendasi kepada saya. Penyerahan rekomendasi dari partai Golkar Selayar. Dan Penyerahan rekomendasi ketua partai Golkar Sinjai,” kata Munafri usai menerima rekomendasi dukungan tersebut.
Bertambahnya dukungan ini semakin memperkuat posisi Munafri Arifuddin sebagai salah satu figur sentral dalam kontestasi Musda DPD I Golkar Sulsel, apalagi Musda kali ini, potensi aklamasi.
Dukungan yang mengalir dari berbagai kabupaten dan kota mencerminkan harapan kader terhadap kepemimpinan yang mampu menjaga soliditas partai, memperkuat konsolidasi organisasi, serta meningkatkan elektabilitas Partai Golkar di Sulawesi Selatan ke depan.
Dengan semakin solidnya dukungan DPD II, Musda DPD I Golkar Sulsel 2026 diproyeksikan menjadi momentum penting dalam menentukan arah dan strategi partai, sekaligus mempertegas figur kepemimpinan yang diharapkan mampu menyatukan kekuatan Golkar di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
“Terima kasih atas dukungan dan support semua. Ini amanah saya jaga untuk Musda Golkar Sulsel,” tambah Appi.
Sebelumnya, Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Andi Luhur Prianto, menilai arus dukungan dari DPD II tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menurutnya, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar perlu mencermati dengan serius aspirasi kader di daerah sebagai basis utama kekuatan partai.
“Dukungan dari akar rumput, menjadi kunci utama menjaga soliditas, kesinambungan, dan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan pada masa mendatang,” jelas Andi Luhur.
Dekan baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah (FISIP Unismuh) Makassar itu, menegaskan bahwa dukungan dan aspirasi dari tingkat bawah Partai Golkar.
Khususnya DPD II kabupaten/kota, merupakan nilai tawar politik yang tidak boleh diabaikan oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP), dalam menentukan arah kepemimpinan ke depan, termasuk pada Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulawesi Selatan.
Menurut Andi Luhur, meskipun mekanisme pengambilan keputusan di tubuh Partai Golkar dipahami bersifat sentralistik dan berada dalam ruang diskresi Ketua Umum, namun aspirasi kader di daerah tetap harus dibawa dan diperhatikan secara serius.
“Itu sebuah nilai tawar dari Kader di akar rumput, meskipun kita paham bahwa pengambilan keputusan itu sentralistik dan punya diskresi, tapi aspirasi harus dibawa, mesti diperhatikan,” saran Andi Luhur.
Ia menilai, kepemimpinan Golkar Sulsel ke depan harus menunjukkan metode baru, perbedaan dari pola lama. Sehingga perlu pertimbangan matang Ketua Umum mendengar aspirasi kader, tidak boleh terjebak pada cara pandang bahwa membangun Golkar cukup dilakukan secara elitis dan tidak politis.
“Golkar yang tidak politis justru adalah Golkar yang memperhatikan aspirasi dari bawah. Terutama di lapisan-lapisan kedua yang berkaitan langsung dengan konsolidasi hingga ke desa,” jelasnya.
Selaku akademisi, Andi Luhur mengakui terkait figur-figur yang mengemuka di Sulawesi Selatan, Andi Luhur menyebut terdapat beberapa nama yang memiliki potensi, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya.
Dia menilai, tradisi kekaryaan Golkar yang kuat membuat figur yang sedang memegang kekuasaan biasanya memiliki peluang lebih besar. Golkar terbiasa mensinergikan sumber daya kekuasaan dengan kerja-kerja politik.
“Golkar lebih bicara bagaimana memenangkan persaingan ke depan, merebut kembali basis yang selama ini diambil oleh partai lain. Itu yang seharusnya dipertimbangkan,” pungkasnya. {}













