Berita Golkar – Wakil Ketua Umum Partai Golongan Karya (Golkar), Idrus Marham angkat bicara mengenai simpang siur informasi terkait stok bahan bakar minyak (BBM) menjelang perayaan Idulfitri. Idrus menengarai adanya pihak-pihak yang sengaja mengolah informasi teknis untuk memicu kekhawatiran di tengah masyarakat.
Persoalan ini bermula dari adanya mispersepsi publik terhadap pernyataan Menteri ESDM sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia terkait cadangan BBM 20 hari.
Banyak warga yang khawatir stok akan habis dalam waktu singkat, padahal hal tersebut merupakan prosedur teknis yang berjalan terus-menerus.
Idus menegaskan, informasi yang sampai ke telinga rakyat seringkali tidak utuh dan bersifat sepotong-sepotong. Hal ini menyebabkan terjadinya kepanikan yang tidak perlu di saat masyarakat sedang menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan.
Cadangan Tidak Dibiarkan Kosong
Hal itu dikatakan Idrus kepada wartawan usai Buka Puasa Bersama Badan Saksi Nasional Partai Golkar (BSNPG) di Jakarta, Sabtu (7/3) malam.
“Jadi begini, memang ada kadang-kadang informasi yang sampai ke rakyat itu tidak utuh. Ya tidak secara general dan tidak secara mendetai. Misalkan akhir-akhir ini pernyataan Ketua Umum Golkar sekaligus sebagai Menteri ESDM tentang 20 hari itu,” kata Idrus, dikutip dari Merdeka.
Menurut Idrus, angka 20 hari yang sempat disinggung pemerintah merupakan bagian dari mekanisme siklus perputaran distribusi energi nasional.
Sehingga, masyarakat diminta memahami bahwa cadangan tersebut tidak akan dibiarkan kosong, melainkan terus diisi kembali secara berkala sesuai prosedur yang berlaku.
“Jadi 20 hari yang ada di dalam apa, lalu kemudian nanti akan diisi terus-terus. Dan ini siklusnya jalan terus sehingga tidak perlu ada khawatiran. Nah ini terpotong hanya seakan-akan 20 hari,” ujarnya.
Siklus Perputaran
Ia menjelaskan, Kementerian ESDM telah melakukan langkah antisipasi yang matang agar kebutuhan energi selama musim mudik lebaran tetap terpenuhi.
“Padahal itu hanya menunjukkan siklus perputaran daripada minyak itu dan lain-lain sebagainya. Nah ini yang perlu dijelaskan kepada rakyat. Dan oleh karena itu saya kira sudah ada penjelasan dari Kementerian ESDM juga bahwa ini tidak perlu khawatir karena pemerintah sudah mengantisipasi sedemikian rupa,” jelasnya.
Idrus menyayangkan adanya oknum yang memanfaatkan situasi ini demi kepentingan tertentu, mengingat rendahnya solidaritas sosial saat ini. Baginya, menyebarkan ketakutan dengan memutarbalikkan data faktual adalah tindakan yang tidak bisa ditoleransi karena mengganggu ketenangan publik.
“Nah ini kan bangsa kita sekarang ini karena solidaritas sosial kita semakin rendah, maka tidak ada olahan saja dicari olahan. Nah apalagi ada begini dan ini sudah menyesatkan rakyat,” tegasnya.
Dari Amerika dan Brazil
Politikus senior Golkar ini pun memberikan peringatan keras kepada pihak-pihak yang mencoba memancing di air keruh. Menurutnya, tindakan menyesatkan rakyat bukan hanya soal politik, melainkan sudah masuk ke ranah moral dan spiritual yang sangat serius.
“Ya jangan mengolah, jangan menyesatkan rakyat. Ini tidak hanya mengganggu stabilitas pemerintahan tetapi juga adalah dosa besar karena itu adalah suatu sikap-sikap konsoliman,” pungkasnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat tidak panic buying bahan bakar minyak (BBM). Bahlil mengklaim stok BBM aman di tengah konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Saat ini, Bahlil menyebut kapasitas penampungan minyak nasional sudah aman di angka 23 hari, sementara standar minimal ketersediaan untuk kebutuhan nasional berada di atas 20 hari.
“Standar minimal ketersediaan kita itu untuk standar nasional minimal harus di atas 20 hari. Sekarang minyak kita 23 hari,” kata Bahlil di DPP Golkar, Jumat (6/3/2026).
Menuru Bahlil, Indonesia hanya membeli minyak mentah dari kawasan Timur Tengah. Namun, kini pemerintah telah memmbeli dari Amerika hingga Brasil sebagai sumber alternatif.
“Kita itu ambil dari Middle East itu minyak mentahnya, bukan minyak jadi, crude-nya, bahan bakunya. Itu 20 sampai 25%. Tapi saya sudah dapat penggantinya. Kami dengan Pertamina sudah switch dari Middle East kita ambil di Amerika, kemudian dari Nigeria, dan dari Brasil,” jelasnya.
“Jadi tidak perlu ada panic buying,” sambung dia. []



