Walikota Makassar Munafri Arifuddin Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Anak Lewat Forum APEC

Berita Golkar – Kota Makassar menjadi tuan rumah Workshop on Managing Child Health for Healthcare Workforce yang digelar Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan melalui Poltekkes Makassar.

Forum internasional ini dibuka langsung oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin di The Rinra Hotel, Selasa (20/1/2026).

Workshop ini berlangsung selama tiga hari mulai 20 hingga 22 Januari 2026, dengan mempertemukan tenaga kesehatan dan pengambil kebijakan dari kawasan Asia Pasifik untuk membahas pengelolaan kesehatan anak.

Delegasi dari Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam hadir secara langsung, sementara peserta dari Meksiko, Jepang, dan China Taipei mengikuti secara daring.

Munafri menilai forum ini penting karena Makassar menghadapi tantangan kesehatan yang sebanding dengan kota-kota besar di kawasan regional. Dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa yang tersebar di 15 kecamatan dan 153 kelurahan, kebutuhan layanan kesehatan anak dinilai semakin kompleks.

“Kota Makassar memiliki sekitar 1,4 juta penduduk yang tersebar di 15 kecamatan dan 153 kelurahan. Dengan jumlah tersebut, tentu tantangan di sektor kesehatan cukup besar. Karena itu, kami sangat senang APEC dan Poltekkes membawa forum penting ini ke Makassar,” ujar Munafri, dikutip dari FajarSulsel.

Ia menegaskan pembangunan kota tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, terutama anak.

“Kami tidak hanya menginginkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pertumbuhan kesehatan yang kuat bersama seluruh komunitas. Kesehatan anak adalah fondasi utama untuk masa depan kota ini,” katanya.

Munafri memaparkan, saat ini Makassar memiliki 47 puskesmas, 35 puskesmas pembantu, 214 klinik, satu rumah sakit umum daerah, serta total 52 rumah sakit umum. Namun, ia menilai penguatan sistem kesehatan tetap memerlukan data tenaga kesehatan yang akurat, terstandarisasi, dan mutakhir.

Ia juga menyoroti angka kematian ibu dan bayi yang masih menjadi persoalan. Pada 2024 tercatat 19 kematian ibu dan 198 kematian bayi. Angka tersebut menurun pada 2025 menjadi 13 kematian ibu dan 185 kematian bayi.

“Angka ini menunjukkan masih adanya persoalan dalam akses, kualitas, dan keterjangkauan layanan kesehatan,” ujar Munafri.

Melalui workshop APEC ini, ia berharap terbangun kolaborasi lintas negara yang mampu menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat layanan kesehatan anak di Makassar.

“Kami berharap lokakarya ini dapat menghasilkan rekomendasi konkret yang bisa kami terapkan di Makassar,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Poltekkes Makassar Rusli mengatakan lokakarya ini menjadi ruang strategis untuk meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan, mulai dari dokter, perawat, bidan, hingga pembuat kebijakan.

Menurut dia, kesehatan anak tidak hanya berdampak pada sektor kesehatan, tetapi juga menentukan kualitas sumber daya manusia dan pembangunan ekonomi di masa depan.

“Melalui pertukaran praktik terbaik, diskusi mendalam, dan pemanfaatan teknologi, kami berharap lokakarya ini mampu menghasilkan rekomendasi yang aplikatif untuk memperkuat sistem kesehatan primer di masing-masing negara,” kata Rusli. {}