Berita Golkar – Puluhan pedagang kaki lima (PKL) mendatangi Balaikota Makassar Jl Jenderal Ahmad Yani, Senin (26/7/2025). Mereka ingin menemui Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengadukan terkait larangan berjualan di badan jalan hingga area anjungan Pantai Losari, Jl Penghibur.
Para pedagang tersebut berjualan pada hari Minggu tepat di area Car Free Day (CFD) di kawasan Pantai Losari.
Koordinator PK5 Pantai Losari, Rais HA Tanriangka menyampaikan, sudah dua pekan mereka tak berjualan karena adanya penataan yang dilakukan pemerintah setempat. Rais menceritakan, mereka sudah 17 tahun beraktivitas di CFD, meski beberapa kali pindah lokasi.
Mulanya mereka menduduki kawasan di Jl Penghibur, kemudian pindah masuk ke area anjungan.
“Setelah beberapa tahun di anjungan, turun lagi di Jl Pennghibur. Setelah dianggap membeludak masuklah kami ke Jl Kenari dan Jl Maipa,” jelasnya, dikutip dari Tribunnews.
Mereka juga sempat membuka lapak di Jl Metro Tanjung Bunga, namun karena padatnya arus lalu lintas di wilayah tersebut mereka direlokasi masuk ke anjungan tepat di samping masjid terapung.
“Kami sekitar 3 tahun disana. Data awal ada 382 pedagang tapi menyusut, ada yang ke CFD boulevard dan GOR (Sudiang), jadi yang aktif sisa 100 lebih,” katanya.
Kata Rais, usai bertemu Wali kota, mereka akan disiapkan tempat khusus untuk berjualan.
Alasan Pemkot Larang PK5 Jualan di Badan Jalan
Camat Ujung Pandang, Andi Husni menyampaikan, penertiban PK5 tersebut dalam rangka mengembalikan fungsi jalan. Kata Andi Husni, posisi lapak PK5 tersebut berada di dua kecamatan, yakni perbatasan Kecamatan Ujung Pandang dan Mariso.
Sekira 100 pedagang yang melakukan aktivitas jual beli setiap pekan di wilayah tersebut. Namun, keberadaan mereka justru mempersempit arus lalu lintas karena mengambil badan jalan baik di sisi kanan maupu di sisi kiri.
Mereka juga tidak bisa diberi izin untuk menjual di dalam area anjungan, Pemkot Makassar sekarang ini sedang melakukan penataan anjungan untuk direvitalisasi.
“Sebenarnya ini wilayahnya Mariso berbatasan dengan Ujung pandang. Mereka ditertibkan karena mengganggu arus jalan, tidak dibolehkan jualan di badan jalan,” jelasnya.
“Pedagang minta solusi untuk dimasukkan ke anjungan tapi kan anjungan juga sementara penataan, mau direvitalisasi,” sambungnya.
Kata Andi Husni, pemerintah akan mencarikan solusi untuk merelokasi para pedagang. Pemerintah Ujung Pandang bersama Kecamatan Mariso akan mencari tempat untuk merelokasi mereka.
“Kita lagi cari dimana tempat yang bagus. Tapi jangan sampai kita carikan tempat justru semakin bertambah pedagang yang masuk,” katanya.
“Lokasinya masih dipikirkan, yang jelas tidak akan diizinkan mereka jualan di badan jalan dan di anjungan karena di dalam juga sudah penuh,” tegasnya.
Munafri Cari Solusi Tepat
Menanggapi hal itu, Wali Kota Munafri Arifuddin mengatakan akan mencari tempat yang layak untuk mereka berjualan.
“Kita akan menata Pantai Losari dengan lebih baik, tapi saya pastikan tidak ada yang dilarang berjualan. Hanya saja, kita harus lebih tertib dan rapi. Pemerintah akan siapkan tempat yang layak dan strategis untuk para pedagang,” tegas Appi.
Menurutnya, penataan kawasan Losari menjadi keharusan, mengingat beban pengunjung yang tinggi setiap harinya.
“Jadi, tidak melarang, tapi penataan ulang losari. Saya sudah minta juga agar dicarikan tempat di sekitar GMTD (Tanjung Bunga) dan akan diatur juga di area Laimena, termasuk saat Car Free Day,” jelasnya.
Appi bahkan berkomitmen mencarikan lokasi pengganti bagi 100 lebih pedagang yang selama ini menggantungkan hidup di kawasan Losari.
“Satu atau dua minggu ke depan, kita maksimalkan. Kita siapkan tempat dan gerobaknya. Yang penting sabar dulu, karena ini demi kepentingan bersama dan wajah kota kita,” sambungnya.
Pemkot Makassar, juga menegaskan bahwa proses penataan ini akan sejalan dengan program revitalisasi Pantai Losari yang lebih luas. Termasuk pembenahan fasilitas umum dan kawasan pedestrian, agar destinasi wisata tersebut menjadi lebih nyaman, aman, dan bersih. {}