Berita Golkar – Kementerian Perdagangan (Kemendag) memperkuat distribusi minyak goreng MinyaKita menyusul harga di sejumlah daerah yang masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET).
Harga MinyaKita di lapangan dilaporkan mencapai Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per liter. Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 18 Tahun 2024, HET MinyaKita ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan pemerintah akan terus mendorong kelancaran distribusi, terutama di wilayah yang harga MinyaKita masih berada di atas HET.
“Kita akan dorong terus distribusinya. Karena kendalanya kan di situ juga, kadang-kadang distribusinya belum lancar. Nanti kita akan pantau terus, khususnya di wilayah-wilayah yang masih di atas HET, termasuk Indonesia Timur,” kata Dyah saat mengunjungi Pabrik Sepatu Fortuna Bandung, dikutip dari Antara, Selasa (15/9/2026), dikutip dari MetroTVNews.
Dyah mengatakan MinyaKita menjadi salah satu komoditas yang terus dipantau Kemendag. Pemantauan dilakukan untuk menjaga ketersediaan sekaligus memastikan harga tetap sesuai ketentuan. Ia mencontohkan kondisi harga MinyaKita di Solo yang masih berada di sekitar HET.
“Kemarin saya sempat ke Solo, alhamdulillah di tempat yang saya kunjungi masih kisaran Rp15.700. Nah, untuk daerah-daerah lainnya yang ternyata terbukti di atas HET, kami pantau dan pastikan distribusinya,” ujar Dyah.
Kemendag akan memberikan perhatian terhadap daerah yang mengalami kendala distribusi, termasuk wilayah Indonesia Timur.
Distribusi telur jadi perhatian
Selain MinyaKita, Kemendag turut memperkuat pemantauan distribusi telur ayam. Komoditas tersebut mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga pertengahan September 2026, harga rata-rata telur ayam di pasar tradisional Bandung berada pada kisaran Rp28.500 hingga Rp30.300 per kilogram. Harga tersebut meningkat dibandingkan Agustus 2026 yang rata-rata berada di sekitar Rp25.000 per kilogram.
Dyah mengatakan Kemendag berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk memantau kondisi distribusi di lapangan.
“Kita selalu memonitor. Selain itu, kami berkolaborasi bersama Bapanas turun bareng ke lapangan untuk memantau distribusi. Kami catat daerah-daerah mana yang terganggu dan kita segera tindak lanjuti,” papar Dyah.
Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga, Kemendag belum berencana menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga. “Tahun ini kita belum ada rencana untuk operasi pasar,” kata Dyah. []



