Berita Golkar – Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Rudy Mas’ud menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi potensi pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat.
Salah satu fokus utama adalah mendorong pemerintah daerah mencari sumber-sumber pendapatan baru agar pembangunan daerah tetap berjalan tanpa ketergantungan pada dana transfer. Menurut Rudy, pemangkasan TKD diperkirakan masih akan terus terjadi pada tahun-tahun mendatang.
Karena itu, daerah harus mulai memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memaksimalkan berbagai potensi ekonomi yang dimiliki. “Daerah tidak bisa terus bergantung pada dana transfer dari pemerintah pusat,” kata Rudy Mas’ud dalam pernyataan resmi, dipetik Minggu (15/3/2026), dikutip dari IbuKotaKini.
Ekspor-Impor Lewat Pelabuhan Kaltim Jadi Prioritas
Salah satu peluang ekonomi yang akan terus didorong adalah aktivitas ekspor dan impor melalui pelabuhan di Kalimantan Timur.
Selama ini, sebagian besar komoditas dari Kaltim yang dikirim ke luar negeri masih melalui pelabuhan besar di Surabaya dan Jakarta. Akibatnya, banyak potensi pajak serta aktivitas ekonomi justru tercatat di daerah lain.
Jika kegiatan ekspor dan impor bisa dilakukan langsung dari pelabuhan di Kaltim, maka potensi pajak dan retribusi akan masuk langsung ke kas daerah.
Aset Pemprov Kaltim Diminta Tidak “Tidur”
Selain sektor pelabuhan, Rudy juga menyoroti masih banyaknya aset milik Pemerintah Provinsi Kaltim yang belum dimanfaatkan secara optimal.
“Aset-aset daerah tidak boleh dibiarkan menganggur atau ‘tidur’, tetapi harus dikelola agar memberikan nilai ekonomi dan menjadi sumber baru pendapatan daerah,” tegasnya.
Pemanfaatan aset tersebut dapat dilakukan melalui berbagai skema kerja sama, termasuk melibatkan perusahaan daerah agar mampu menghasilkan pendapatan bagi pemerintah provinsi.
Kawasan Logistik Berikat Disiapkan di Sangasanga
Gubernur juga menggagas pembangunan pusat kawasan berikat logistik yang memungkinkan barang impor atau barang dari dalam wilayah pabean diolah, dikemas ulang, atau digabungkan dengan komoditas lain sebelum kembali didistribusikan.
Salah satu komoditas yang berpotensi adalah batu bara. Salah satu lokasi yang dinilai potensial berada di sekitar Kecamatan Sangasanga, dengan memanfaatkan jalur transportasi di Sungai Mahakam.
Skema ini dinilai tidak hanya memperkuat rantai logistik, tetapi juga membuka peluang penerimaan pajak dan retribusi baru dari aktivitas kepelabuhanan serta perdagangan internasional.
Perusda Diminta Lebih Agresif Tangkap Peluang Bisnis
Optimalisasi juga diarahkan melalui peran perusahaan daerah (Perusda). Badan usaha milik daerah ini diminta lebih agresif menangkap peluang bisnis yang berkaitan dengan logistik, pelabuhan, dan perdagangan internasional.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki potensi besar adalah industri perikanan.
“Perusda bisa bangun cold storage, karena kebutuhan fasilitas penyimpanan untuk perikanan masih sangat besar, terutama di wilayah pesisir,” kata Rudy.
Sejumlah daerah pesisir seperti Kutai Timur, Bontang, Kutai Kartanegara, Balikpapan, Penajam Paser Utara, serta Paser dinilai memiliki potensi besar karena aktivitas perikanannya tinggi.
Dengan dukungan fasilitas penyimpanan dan distribusi yang memadai, hasil laut dari daerah-daerah tersebut dapat langsung dipasarkan ke pasar internasional.
Jalur Ekspor Langsung Balikpapan–Singapura
Pengembangan jalur ekspor langsung juga mulai diarahkan ke negara tujuan yang secara geografis lebih dekat, salah satunya Singapura.
Rudy menilai jalur pelayaran langsung dari Balikpapan menuju Singapura dapat memangkas biaya logistik sekaligus mempercepat arus perdagangan.
Jika skema ekspor-impor langsung ini berjalan, Kalimantan Timur tidak hanya berperan sebagai daerah penghasil komoditas, tetapi juga sebagai pusat logistik dan perdagangan internasional di kawasan timur Indonesia.
Pada akhirnya, potensi pajak dan retribusi dari aktivitas tersebut diharapkan mampu memperkuat struktur PAD sekaligus mengurangi ketergantungan daerah terhadap dana transfer dari pemerintah pusat. []



