Berita Golkar – Di saat harga minyak dunia masih naik-turun mengikuti irama konflik global, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia justru memilih menikmati suasana mudik di kampung halaman istrinya di Desa Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Sragen, Rabu (25/3/2026).
Kunjungan ini memang dibungkus dengan label silaturahmi keluarga. Namun seperti biasa, kehadiran pejabat sekelas menteri tetap sulit dipisahkan dari urusan negara—setidaknya lewat pernyataan-pernyataan yang menenangkan, atau mungkin menenangkan versi pemerintah.
Dengan balutan pakaian santai, Bahlil terlihat cukup menikmati suasana desa. Di kediaman Kepala Desa Sribit, Sutaryo, ia tampak larut dalam suasana Lebaran: berjabat tangan, menyapa warga, hingga mencicipi hidangan khas. Sebuah momen “recharge energi”, ironisnya di tengah isu energi yang sedang panas-panasnya.
“Iya, insyaallah tiap tahun. Ini tradisi saja, tradisi meninjau keluarga,” ujar Bahlil santai, seolah urusan energi bisa ikut libur Lebaran, dikutip dari Jawapos.
Namun, pertanyaan soal kondisi energi nasional tetap datang. Apalagi, harga minyak mentah Indonesia (ICP) saat ini masih berkutat di angka tinggi, imbas konflik global yang belum juga mereda.
Bahlil pun tak menampik situasi tersebut. Ia menyebut harga ICP berada di kisaran 100 hingga 110 dolar AS per barel, bahkan sesekali turun di bawah angka tersebut—sebuah angka yang, bagi sebagian pihak, cukup bikin deg-degan.
“Harga ICP itu berada di sekitar 100 sampai 110 (USD), kadang di bawah 100. Kita lihat seberapa lama perang ini terjadi,” ungkapnya.
Meski demikian, Bahlil memastikan stok energi nasional tetap aman. Mulai dari solar, bensin, hingga LPG disebutnya masih dalam kondisi terkendali. Setidaknya, kata dia, Indonesia masih lebih stabil dibandingkan beberapa negara lain.
Jaminan yang tentu terdengar menenangkan, meski publik mungkin tetap akan memeriksa ulang di SPBU terdekat.
Silaturahmi Rasa Konsolidasi
Menariknya, suasana kekeluargaan di Desa Sribit juga diwarnai kehadiran sejumlah tokoh Partai Golkar. Dari yang sekadar mampir hingga yang tampak serius berbincang, membuat silaturahmi ini terasa sedikit lebih “strategis”.
Terlihat hadir Wihaji, yang juga putra daerah Sragen. Selain itu, ada pula Juliatmono, mantan Bupati Karanganyar, serta sejumlah kader dan legislator dari wilayah Solo Raya.
Di sela pertemuan, Bupati Sragen Sigit Pamungkas turut menyampaikan harapannya. Ia meminta dukungan dari kementerian yang dipimpin Bahlil untuk pembangunan daerah. “Minta dukungan untuk pembangunan Kabupaten Sragen,” ujarnya singkat, tanpa basa-basi.
Permintaan yang terdengar sederhana, namun tentu tidak sesederhana realisasinya.
Di tengah suasana Lebaran yang penuh kehangatan, kunjungan ini menjadi pengingat bahwa urusan energi, politik, dan kampung halaman memang sering kali berjalan beriringan. Tinggal bagaimana publik menafsirkan: antara jaminan yang menenangkan, atau sekadar jeda sejenak sebelum realitas kembali terasa. []



