DPP, Slipi  

Bahlil dan Ujian Stabilitas Harga: Fakta Energiknya Menteri ESDM

Berita Golkar – Pada fase awal, tidak sedikit yang memandang enteng. Gaya komunikasi Bahlil Lahadalia dinilai terlalu lugas, bahkan dianggap menyederhanakan persoalan energi yang kompleks. Pemberitaan bergerak cepat membentuk persepsi, menghadirkan keraguan di ruang publik. Banyak yang melihat kata-kata, belum melihat kerja yang sedang dibangun.

Situasi kemudian berubah cepat. Ketegangan global mendorong harga minyak dunia ke level tinggi. Ruang kebijakan menyempit, tekanan fiskal meningkat, dan banyak negara memilih jalan cepat dengan menaikkan harga atau mengurangi subsidi. Energi kembali menjadi titik paling rawan dalam ekonomi.

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia mengambil jalur yang lebih terukur. Bahlil dalam berbagai pernyataannya menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario menghadapi lonjakan harga minyak, termasuk pada level yang berada di atas asumsi normal. Ia menyampaikan bahwa pengelolaan energi harus menjaga keseimbangan: pasokan tersedia, harga tetap terjangkau, dan fiskal tidak terguncang.

Pendekatan itu bekerja dalam diam. Distribusi diperbaiki, pengawasan konsumsi diperketat, dan koordinasi lintas sektor dijalankan lebih rapi. Energi tidak dikelola dengan respons sesaat, tetapi dengan struktur yang diperkuat dari dalam.

Hasilnya mulai terlihat jelas. BBM subsidi tetap terjaga dan diproyeksikan stabil hingga 2026. Di saat banyak negara menghadapi guncangan langsung, Indonesia mampu menahan tekanan tanpa gejolak besar. Stabilitas ini tidak hadir sebagai kebetulan, tetapi sebagai konsekuensi dari kerja yang konsisten.

Presiden Prabowo Subianto menempatkan ketahanan energi sebagai bagian dari kedaulatan nasional. Arah ini memperkuat bahwa energi harus dikelola dengan perspektif jangka panjang, bukan sekadar merespons dinamika global.

Quiet work builds resilience. Stability reflects discipline. Time validates decisions.

Di titik ini, persepsi mulai bergeser. Narasi yang sebelumnya dipenuhi keraguan perlahan digantikan oleh pengakuan atas hasil. Bahlil tidak hanya hadir dalam pernyataan, tetapi dalam kebijakan yang menjaga sistem tetap berjalan di bawah tekanan.

Penekanan pada kerja nyata menjadi kunci. Di sektor yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, pendekatan yang konsisten jauh lebih menentukan dibanding retorika. Setiap liter energi yang tersalurkan dengan baik mencerminkan keputusan yang telah diperhitungkan secara matang.

Namun tantangan belum selesai. Di beberapa wilayah, gejala keterbatasan pasokan mulai muncul. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan global masih berlangsung dan membutuhkan pengawasan yang terus dijaga. Stabilitas yang ada hari ini tetap berada dalam proses ujian.

Pertanyaan berikutnya menjadi relevan: quo vadis energi Indonesia setelah 2026. Fondasi sudah dibangun melalui penguatan sistem dan pengendalian kebijakan. Tahap selanjutnya akan menuntut keberanian untuk melangkah lebih jauh, memperkuat kemandirian, dan mengurangi kerentanan terhadap tekanan eksternal.

Perjalanan ini memperlihatkan bahwa dalam sektor strategis seperti energi, waktu menjadi pembeda utama. Persepsi dapat berubah dengan cepat, tetapi kerja nyata meninggalkan jejak yang lebih dalam. Dan pada akhirnya, arah kebijakan akan dinilai dari kemampuannya menjaga stabilitas ketika tekanan datang tanpa kompromi. []

Oleh: Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si, Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *