Sosok Menko Perekonomian Airlangga Hartarto: Jejak Teknokrat yang Menjaga Arah Ekonomi Bangsa

Berita Golkar – Di tengah dinamika politik dan ekonomi Indonesia yang kerap berubah cepat, nama Airlangga Hartarto hadir sebagai figur yang bergerak dengan irama berbeda. Ia bukan tipe politikus yang gemar menciptakan kegaduhan, bukan pula tokoh yang membangun pengaruh melalui retorika berlebihan. Gaya kepemimpinannya cenderung tenang, terukur, dan bekerja dalam sunyi. Namun dari ruang-ruang kebijakan itulah, pengaruhnya perlahan membentuk arah ekonomi nasional.

Dr. (H.C.) Ir. Airlangga Hartarto, M.B.A., M.M.T dikenal luas sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia. Di balik posisi strategis itu, tersimpan perjalanan panjang tentang keluarga, pendidikan, disiplin, dunia usaha, hingga pergulatan politik yang membentuk dirinya menjadi salah satu pengambil keputusan penting di Indonesia.

Airlangga lahir di Surabaya pada 1 Oktober 1962 dari keluarga yang dekat dengan dunia pemerintahan. Ayahnya, almarhum Ir. Hartarto Sastrosoenarto, merupakan tokoh penting era Orde Baru yang pernah menjabat Menteri Perindustrian dan sejumlah posisi strategis lain di kabinet Presiden Soeharto. Sang ayah dikenal sebagai penggerak industrialisasi nasional yang menekankan pembangunan industri berbasis kemandirian, demokrasi ekonomi, dan nilai tambah.

Di rumah, Airlangga tumbuh dalam suasana keluarga yang hangat. Meski memegang tanggung jawab besar di pemerintahan, Hartarto tetap menyediakan waktu untuk keluarga. Dari sana Airlangga belajar mengenai keseimbangan antara tugas publik dan kehidupan pribadi. Sang ayah tidak hanya mewariskan kedisiplinan dan etos kerja, tetapi juga keyakinan bahwa pendidikan dan industrialisasi merupakan fondasi kemajuan bangsa. Gagasan itu kelak menemukan gema baru dalam perjalanan hidup Airlangga.

Selain pengaruh sang ayah, Airlangga juga terinspirasi oleh kisah Letkol Eddy Sukardi, paman yang dikenalnya sebagai pejuang kemerdekaan dalam Palagan Bojongkokosan. Kisah keberanian itu meninggalkan kesan mendalam tentang pengabdian kepada bangsa. Ia juga mewarisi karakter Sunda yang someah, ramah, terbuka, dan mengutamakan pendekatan persuasif. Karakter tersebut kelak tampak dalam gaya komunikasinya yang tenang dan menghindari konfrontasi berlebihan.

Latar Belakang Pendidikan

Pendidikan menjadi fase penting pembentukan dirinya. Airlangga menempuh pendidikan di Kolese Kanisius Jakarta dan aktif berorganisasi hingga dipercaya menjadi Ketua OSIS. Lingkungan Kanisius membentuk daya pikir kritis dan disiplin kepemimpinan yang kelak menjadi modal penting dalam kariernya.

Minatnya pada dunia teknik membawanya ke Fakultas Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada. Di Yogyakarta, Airlangga tidak hanya tumbuh sebagai mahasiswa teknik, tetapi juga aktivis kampus yang pernah menjabat Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM. Baginya, teknik bukan semata soal mesin dan hitungan, melainkan cara berpikir tentang efisiensi, pemecahan masalah, dan penyusunan sistem yang bekerja lebih baik.

Setelah meraih gelar sarjana pada 1987, Airlangga memperluas wawasan akademiknya ke luar negeri. Ia melanjutkan pendidikan di University of Pennsylvania, kemudian meraih MBA dari Monash University dan Master of Management Technology dari University of Melbourne, Australia. Pendidikan lintas negara itu mempertemukannya dengan pendekatan bisnis modern dan tata kelola industri global.

Namun pembentukan dirinya tidak hanya datang dari pendidikan formal. Airlangga banyak dipengaruhi pemikiran Mahatma Gandhi mengenai kepemimpinan yang berpijak pada prinsip moral. Ia menaruh perhatian pada pandangan Gandhi tentang bahaya kekayaan tanpa kerja, bisnis tanpa moral, dan politik tanpa prinsip. Nilai-nilai itu memperkuat keyakinannya bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan tanggung jawab.

Di luar dunia akademik, Airlangga memiliki kedekatan dengan bela diri kungfu. Sejak muda ia rutin berlatih di GOR Bulungan, Jakarta Selatan. Kungfu memberinya pelajaran tentang disiplin, pengendalian diri, dan keseimbangan.

Ketika dipercaya memimpin Pengurus Besar Wushu Indonesia periode 2017–sekarang, Airlangga menaruh perhatian serius pada pembinaan atlet dan regenerasi olahraga. Di bawah kepemimpinannya, prestasi wushu Indonesia meningkat pada berbagai ajang internasional, termasuk SEA Games dan Asian Games, hingga ia menerima penghargaan sebagai Pembina Olahraga Berprestasi pada 2020.

Karir Profesional dan Kiprah Politik

Selepas kuliah, Airlangga memasuki dunia usaha. Ia memulai karier melalui PT Graha Curah Niaga dan PT Fajar Surya Wisesa, lalu memegang berbagai posisi penting di perusahaan lain seperti PT Jakarta Prime Crane, PT Ciptadana Sekuritas, dan PT Bisma Narendra. Pengalaman panjang di sektor industri memberinya kemampuan membaca risiko, mengelola organisasi, serta memahami hubungan erat antara pasar dan kebijakan negara.

Dunia usaha mempertemukannya dengan satu kesadaran penting: pembangunan ekonomi tidak hanya ditentukan pasar, tetapi juga regulasi dan keputusan politik.

Momentum Reformasi 1998 menjadi titik balik perjalanan hidupnya. Airlangga memilih bergabung dengan Partai Golkar, partai yang tengah menghadapi perubahan besar pasca-Orde Baru. Baginya, politik merupakan ruang pengabdian dan arena memperjuangkan gagasan pembangunan.

Kemampuan manajerial yang dibangun di dunia bisnis membantunya menavigasi dinamika politik. Ia dipercaya menjadi Wakil Bendahara Golkar sekaligus menapaki jalur parlemen sebagai anggota DPR RI. Di Senayan, Airlangga memperdalam pemahaman mengenai energi, industri, lingkungan hidup, dan perdagangan melalui Komisi VII DPR RI.

Karier politiknya terus bergerak naik. Pada 2009–2014 ia dipercaya menjadi Ketua Komisi VI DPR RI yang membidangi perdagangan, industri, koperasi, UMKM, dan BUMN. Rekam jejaknya di parlemen memperlihatkan pola yang konsisten: lebih nyaman bekerja melalui pendekatan teknokratis ketimbang membangun popularitas lewat konflik politik.

Kiprahnya juga meluas ke berbagai organisasi profesi dan kemasyarakatan, mulai dari Persatuan Insinyur Indonesia, Asosiasi Emiten Indonesia, KAGAMA, hingga Majelis Wali Amanah UGM. Jejaring itu memperkuat identitasnya sebagai teknokrat yang bergerak lintas sektor.

Puncak awal perjalanan politik Airlangga datang pada 2016 ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Perindustrian. Penunjukan itu memiliki makna simbolik karena puluhan tahun sebelumnya, ayahnya pernah berdiri di posisi yang sama.

Di Kementerian Perindustrian, Airlangga mendorong penguatan manufaktur dan industri berbasis nilai tambah. Hilirisasi kembali menjadi perhatian serius dengan tujuan mengurangi ketergantungan Indonesia pada ekspor bahan mentah.

Sementara di internal Partai Golkar, kariernya juga menanjak. Pada 2017 Airlangga dipercaya menjadi Ketua Umum Partai Golkar dan kembali terpilih melalui Musyawarah Nasional dua tahun kemudian. Namun ujian terbesarnya justru datang setelah itu.

Pada 2019, Presiden Jokowi menunjuk Airlangga sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Jabatan ini menempatkannya sebagai koordinator berbagai sektor ekonomi nasional. Belum genap setahun menjabat, dunia diguncang pandemi Covid-19 dan Indonesia memasuki salah satu periode ekonomi paling menegangkan dalam sejarah modernnya.

Ujian di Masa Krisis

Krisis di depan mata tatkala pandemi mengubah seluruh perhitungan ekonomi dunia. Aktivitas usaha melambat, konsumsi rumah tangga turun, rantai pasok terganggu, dan ancaman PHK meluas. Indonesia mengalami kontraksi ekonomi minus 2,07 persen pada 2020.

Dalam situasi itu, Airlangga memandang pandemi tidak dapat ditangani melalui kebijakan parsial. Krisis kesehatan dan ekonomi harus dijawab dengan langkah luar biasa. Salah satu fondasinya ialah Perppu Nomor 1 Tahun 2020 yang kemudian menjadi Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020, memberi ruang bagi APBN menjalankan fungsi sebagai bantalan krisis.

Dari sinilah lahir Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), salah satu instrumen ekonomi terbesar yang pernah dijalankan pemerintah. Ratusan triliun rupiah dialokasikan untuk sektor kesehatan sekaligus menjaga daya beli masyarakat melalui bantuan sosial, subsidi, dukungan pembiayaan, dan perlindungan bagi kelompok rentan.

Airlangga memegang peran penting mengorkestrasi berbagai kebijakan lintas kementerian agar bergerak dalam satu arah. Ia berulang kali menegaskan bahwa pemulihan ekonomi hanya dapat dicapai melalui kolaborasi pemerintah pusat, daerah, Bank Indonesia, dan pelaku usaha.

Salah satu program yang paling identik dengan fase tersebut ialah Kartu Prakerja. Awalnya dirancang sebagai program peningkatan keterampilan, Kartu Prakerja berkembang menjadi instrumen perlindungan sosial yang menjangkau jutaan masyarakat selama pandemi. Hingga 2022, lebih dari 13 juta peserta memperoleh manfaat program tersebut.

Perhatian Airlangga terhadap sektor usaha kecil juga terlihat melalui penguatan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Baginya, UMKM adalah tulang punggung ekonomi yang harus dijaga agar tetap hidup di tengah krisis. KUR diposisikan bukan semata kredit, melainkan alat menjaga produksi, distribusi, dan lapangan kerja.

Bersamaan dengan langkah pemulihan jangka pendek, Airlangga mendorong reformasi struktural melalui Omnibus Law Cipta Kerja dan reformasi sektor keuangan untuk memperkuat investasi serta daya saing ekonomi nasional. Pengendalian inflasi juga menjadi perhatian utama melalui pengawasan harga pangan dan koordinasi lintas daerah.

Hasil berbagai kebijakan itu mulai terlihat. Setelah kontraksi pada 2020, ekonomi Indonesia tumbuh 3,69 persen pada 2021 dan kembali bergerak menuju kisaran lima persen pada tahun-tahun berikutnya. Inflasi terjaga, nilai tukar relatif stabil, cadangan devisa meningkat, dan prospek ekonomi menunjukkan tren pemulihan yang semakin kuat.

Kinerja itu memperoleh pengakuan publik. Pada 2022, Airlangga menerima penghargaan sebagai Tokoh Pemulihan Ekonomi Nasional atas kontribusinya membantu Indonesia pulih di tengah ancaman resesi global. Namun bagi Airlangga, penghargaan tampaknya tidak pernah menjadi tujuan akhir.

Sepanjang perjalanan hidupnya, terdapat benang merah yang terus terlihat: disiplin dari keluarga, semangat pengabdian, rasionalitas teknik, pengalaman bisnis, dan keyakinan bahwa kepemimpinan harus dijalankan dengan prinsip.

Dari Surabaya hingga ruang kabinet, dari gelanggang wushu hingga meja perundingan ekonomi, perjalanan Airlangga Hartarto memperlihatkan bagaimana seorang teknokrat tumbuh menjadi figur penting dalam arsitektur kebijakan ekonomi Indonesia. Ia ditempa oleh keluarga, pendidikan global, dunia usaha, politik, dan ujian krisis nasional.

Tak heran jika di masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Menko Perekonomian kembali. Ia telah teruji di badai krisis saat menghadapi pandemi Covid-19. Namun medan yang ada berbeda sekarang. Tantangan jauh lebih rigid, stabilitas ekonomi global menjadi penantang utama.

Ekonomi RI di bawah kendali Airlangga Hartarto benar-benar diuji, mulai dari kondisi fiskal, nilai tukar rupiah, jatuh tempo utang yang membengkak hingga persoalan ketahanan ekonomi nasional. Di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian ini, ia masih melayangkan optimisme dalam setiap pernyataan dan pandangannya. Di sinilah kelebihan Airlangga Hartarto saat ia menghadapi badai dengan ketenangan yang telah teruji oleh waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *