Sosok Mendukbangga Wihaji, Bupati Berprestasi yang Kini Siapkan Generasi Emas Indonesia

Berita Golkar – Nama Wihaji dalam beberapa tahun terakhir semakin dikenal luas di panggung nasional. Perjalanan hidupnya memperlihatkan transformasi seorang anak desa dari Sragen yang tumbuh dalam lingkungan sederhana, kemudian meniti karir melalui jalur pendidikan, organisasi, politik, pemerintahan daerah, hingga akhirnya dipercaya Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN pada Kabinet Merah Putih.

Di balik gaya komunikasinya yang sederhana dan dekat dengan masyarakat, Wihaji memiliki perjalanan panjang yang dibangun melalui pengalaman akademik, aktivitas organisasi, pengabdian politik, serta rekam jejak kepemimpinan yang cukup menonjol saat memimpin Kabupaten Batang. Kini, ia mengemban tugas strategis yang berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Tumbuh dari Lingkungan Sederhana dan Menempuh Pendidikan hingga Doktor

Wihaji lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 22 Agustus 1976. Ia merupakan putra pertama dari empat bersaudara pasangan Parjiyo dan Parmiatun. Dari garis keluarga, Wihaji diketahui merupakan cucu salah seorang Abdi Dalem Mangkunegaran Solo, sebuah lingkungan yang dikenal menjunjung tinggi nilai kedisiplinan, pengabdian, dan etika kehidupan.

Masa kecilnya dijalani di Sragen. Pendidikan dasar ditempuh di SD Negeri Ngrombo 2 Plupuh, kemudian melanjutkan ke MTsN Plupuh. Sejak remaja, minatnya terhadap organisasi sudah terlihat. Saat bersekolah di MTsN maupun MAN 1 Surakarta, ia aktif dalam kegiatan OSIS dan berbagai aktivitas kepemudaan.

Selepas pendidikan menengah, Wihaji memilih melanjutkan studi ke Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga pada Fakultas Tarbiyah dengan konsentrasi Pendidikan Agama Islam. Latar belakang pendidikan agama ini kemudian membentuk cara pandangnya dalam melihat pembangunan manusia yang tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi, tetapi juga karakter dan nilai-nilai sosial.

Semangat belajarnya tidak berhenti pada jenjang sarjana. Ia melanjutkan pendidikan magister di Universitas Negeri Jakarta dengan fokus pada isu kependudukan, lingkungan hidup, dan pembangunan manusia.

Setelah itu, ia menyelesaikan program doktoral di universitas yang sama pada bidang Manajemen Lingkungan. Kombinasi antara ilmu pendidikan, kependudukan, dan lingkungan inilah yang kelak menjadi bekal penting ketika dirinya dipercaya memimpin kementerian yang mengurusi kependudukan dan pembangunan keluarga.

Dari Staf Ahli DPR hingga Kader Penting Partai Golkar

Perjalanan profesional dan politik Wihaji dimulai melalui Partai Golkar. Sebelum menjadi kepala daerah maupun menteri, ia terlebih dahulu mengasah pengalaman di lingkungan legislatif sebagai staf ahli anggota DPR RI dari Partai Golkar yakni Kahar Muzakir. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai proses pengambilan kebijakan publik, komunikasi politik, serta dinamika pembangunan daerah.

Karier politiknya kemudian berkembang di internal Partai Golkar. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar, Ketua Harian DPD I Partai Golkar Jawa Tengah hingga Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar. Posisi-posisi tersebut memperlihatkan bahwa Wihaji bukan hanya kader daerah, tetapi juga memperoleh kepercayaan di tingkat nasional.

Pada Pemilu Legislatif 2014, Wihaji mencoba peruntungan dengan maju sebagai calon anggota DPR RI. Meski gagal memperoleh kursi parlemen, kegagalan tersebut tidak menghentikan langkah politiknya. Justru pengalaman tersebut menjadi titik penting yang mengantarkannya pada arena pengabdian yang lebih besar di tingkat daerah.

Membangun Batang Menjadi Magnet Investasi Nasional

Titik balik karier politik Wihaji terjadi pada Pilkada Kabupaten Batang 2017. Berpasangan dengan Suyono, ia berhasil memenangkan kontestasi dengan perolehan sekitar 245 ribu suara atau lebih dari 56 persen suara pemilih. Kemenangan tersebut mengantarkannya menjadi Bupati Batang periode 2017–2022.

Saat memimpin Batang, Wihaji menempatkan pembangunan ekonomi dan investasi sebagai salah satu prioritas utama. Di bawah kepemimpinannya, Kabupaten Batang mengalami transformasi signifikan melalui pengembangan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), yang kemudian berkembang menjadi salah satu kawasan industri strategis nasional.

Keberhasilan menarik investor dari dalam maupun luar negeri menjadi salah satu capaian yang paling sering dikaitkan dengan kepemimpinannya. Berbagai perusahaan besar, termasuk investor dari Korea Selatan dan Swiss, mulai masuk ke Batang dan menjadikan daerah tersebut sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jawa Tengah.

Dampaknya terlihat pada peningkatan nilai investasi daerah. Realisasi investasi Kabupaten Batang bahkan pernah menembus lebih dari Rp9 triliun dan menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Tengah. Keberhasilan tersebut didukung oleh pendekatan pelayanan investasi yang cepat, transparan, dan ramah terhadap pelaku usaha.

Tidak hanya pada sektor investasi, sejumlah indikator pembangunan juga menunjukkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Batang mengalami peningkatan secara konsisten. Angka kemiskinan berhasil ditekan, sementara berbagai program pembangunan sosial terus diperkuat.

Dalam tata kelola pemerintahan, Wihaji juga mencatatkan prestasi penting melalui raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan daerah selama enam tahun berturut-turut.

Prestasi tersebut menjadi indikator bahwa pengelolaan keuangan daerah berjalan sesuai prinsip akuntabilitas dan transparansi. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Batang juga memperoleh penghargaan nasional di bidang Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH).

Kombinasi antara keberhasilan menarik investasi, memperbaiki indikator pembangunan manusia, menekan kemiskinan, dan menjaga tata kelola pemerintahan membuat nama Wihaji semakin diperhitungkan di tingkat nasional.

Mengemban Amanah sebagai Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga

Pada Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Wihaji sebagai Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN. Penunjukan tersebut menjadi babak baru dalam perjalanan pengabdiannya. Ia dipercaya memimpin kementerian yang memiliki peran strategis dalam membangun kualitas keluarga Indonesia, mengendalikan kependudukan, serta menyiapkan generasi masa depan bangsa.

Berbeda dengan pendekatan pembangunan yang hanya berfokus pada aspek ekonomi, Wihaji menempatkan keluarga sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Menurutnya, kualitas bangsa sangat ditentukan oleh kualitas keluarga yang menjadi lingkungan pertama tempat anak tumbuh dan berkembang.

Salah satu isu yang paling sering ia soroti adalah fenomena fatherless atau minimnya kehadiran figur ayah dalam proses tumbuh kembang anak. Berdasarkan data yang disampaikan kementeriannya, jutaan anak Indonesia mengalami kekurangan interaksi dengan sosok ayah akibat berbagai faktor sosial maupun ekonomi.

Karena itu, Wihaji menggagas berbagai program yang mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak. Salah satunya adalah Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATIK), yang bertujuan mengembalikan peran ayah dalam membangun komunikasi, kedekatan emosional, serta pembentukan karakter anak sejak usia dini.

Ia juga memperkenalkan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), sebuah program yang mendorong para ayah terlibat langsung dalam proses pendidikan anak. Bagi Wihaji, kehadiran ayah tidak hanya penting dalam memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga dalam membangun kepercayaan diri, daya juang, dan ketangguhan mental anak-anak Indonesia.

Pendekatan tersebut menunjukkan bagaimana Wihaji mencoba membawa perspektif baru dalam kebijakan kependudukan. Fokusnya tidak hanya pada angka kelahiran, stunting, atau statistik kependudukan semata, tetapi juga pada pembangunan kualitas hubungan dalam keluarga sebagai fondasi pembentukan sumber daya manusia unggul.

Membangun Generasi Emas dari Lingkungan Keluarga

Perjalanan Wihaji memperlihatkan konsistensi antara latar belakang pendidikan, pengalaman politik, dan kebijakan yang kini dijalankannya sebagai menteri. Pengalamannya mengelola daerah memberikan pemahaman mengenai tantangan pembangunan di lapangan. Sementara latar belakang akademiknya di bidang kependudukan dan lingkungan memperkuat perspektifnya dalam melihat pembangunan manusia secara lebih menyeluruh.

Dari Sragen hingga Jakarta, dari ruang organisasi sekolah hingga kabinet pemerintahan, Wihaji menempuh perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. Namun pengalaman tersebut membentuknya menjadi salah satu figur yang kini memegang peran penting dalam menyiapkan kualitas penduduk Indonesia di masa depan.

Di tengah bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia, Wihaji membawa satu pesan yang terus ia gaungkan, yakni pembangunan bangsa harus dimulai dari keluarga. Sebab dari keluargalah lahir generasi yang kelak menentukan arah Indonesia menuju 2045 dan seterusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *