Sosok Dyah Roro Esti, Dari Aktivis Lingkungan Menjadi Wakil Menteri Perdagangan

Berita Golkar – Di tengah dominasi figur-figur senior dalam dunia politik dan pemerintahan Indonesia, nama Dyah Roro Esti Widya Putri muncul sebagai salah satu representasi generasi baru yang berhasil menembus lingkar pengambil kebijakan nasional. Pada usia yang relatif muda, politikus Partai Golkar itu dipercaya Presiden Prabowo Subianto untuk menduduki posisi Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih.

Penunjukan tersebut bukanlah hasil perjalanan singkat. Di balik jabatan yang kini diembannya, terdapat rekam jejak panjang yang memperlihatkan perpaduan antara latar belakang akademik internasional, kepedulian terhadap isu lingkungan, pengalaman legislasi, hingga keterlibatan dalam diplomasi ekonomi dan perdagangan global. Seluruh perjalanan itu membentuk sosok Dyah Roro Esti sebagai salah satu politisi muda yang menonjol di generasinya.

Lahir dari Lingkungan Politik, Tumbuh dengan Perspektif Global

Dyah Roro Esti Widya Putri lahir di Jakarta pada 25 Mei 1993. Ia merupakan putri dari Satya Widya Yudha, politisi senior Partai Golkar yang pernah duduk sebagai anggota DPR RI selama dua periode. Meski tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan dunia politik, Roro mengaku tidak serta-merta tertarik mengikuti jejak sang ayah.

Dalam berbagai kesempatan, ia pernah mengungkapkan bahwa pada masa mudanya justru sempat memandang politik dengan skeptis. Citra politik yang kerap muncul di ruang publik membuatnya sempat enggan terjun ke dunia tersebut. Namun pandangan itu berubah ketika ia menyadari bahwa politik merupakan instrumen yang mampu menghadirkan dampak kebijakan dalam skala yang jauh lebih besar bagi masyarakat.

Pengalaman hidupnya sejak kecil juga membentuk cara pandang yang berbeda. Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di berbagai sekolah internasional, mulai dari Marshall Road Elementary di Amerika Serikat, Dwight School London, Beijing International School, Ho Chi Minh City International School, hingga Jakarta International School. Lingkungan multikultural tersebut membuatnya terbiasa berinteraksi dengan berbagai latar belakang budaya dan cara berpikir sejak usia dini.

Pendidikan Internasional dan Fokus pada Isu Lingkungan

Selepas pendidikan menengah, Roro melanjutkan studi ke University of Manchester dengan mengambil jurusan Ekonomi dan Sosiologi. Kombinasi dua bidang ilmu tersebut memberikan fondasi kuat dalam memahami dinamika pembangunan, ekonomi, serta persoalan sosial masyarakat.

Setelah menyelesaikan studi sarjana pada 2013, ia memperluas wawasan akademiknya melalui program pengembangan profesional di Harvard University. Namun ketertarikannya terhadap isu lingkungan kemudian membawanya mengambil jalur yang lebih spesifik.

Roro menjadi penerima beasiswa penuh LPDP dan melanjutkan pendidikan magister di Imperial College London. Di kampus tersebut ia meraih gelar Master of Science (M.Sc.) bidang Teknologi Lingkungan dengan konsentrasi Manajemen Pencemaran.

Pilihan bidang studi itu bukan tanpa alasan. Sejak muda, ia memiliki perhatian besar terhadap perubahan iklim, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan. Ketertarikan tersebut kelak menjadi benang merah yang menghubungkan hampir seluruh perjalanan kariernya, baik sebagai aktivis, legislator, maupun pejabat pemerintah.

Membangun Karier dari Aktivisme Lingkungan

Sebelum terjun ke politik praktis, Roro lebih dahulu dikenal sebagai aktivis lingkungan. Bersama adiknya, Satya Hangga Yudha, ia mendirikan Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I), sebuah lembaga yang berfokus pada peningkatan kesadaran publik mengenai dampak perubahan iklim, pemanasan global, serta pentingnya pembangunan berkelanjutan.

Melalui organisasi tersebut, Roro menjabat sebagai Direktur Eksekutif pada periode 2016 hingga 2019. Pada fase inilah ia mulai aktif terlibat dalam berbagai diskusi, kampanye, dan advokasi terkait energi bersih serta pembangunan rendah karbon.

Pengalaman memimpin organisasi lingkungan memberikan bekal penting dalam memahami bagaimana sebuah kebijakan publik dapat memengaruhi masa depan lingkungan hidup. Dari sinilah lahir keyakinan bahwa perubahan tidak cukup dilakukan melalui advokasi masyarakat sipil semata, tetapi juga membutuhkan keterlibatan langsung dalam proses pengambilan keputusan politik.

Menjadi Anggota DPR di Usia 26 Tahun

Tahun 2019 menjadi titik balik besar dalam perjalanan hidup Dyah Roro Esti. Melalui Partai Golkar, ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur X yang meliputi Kabupaten Gresik dan Lamongan. Dalam usia 26 tahun, ia berhasil memenangkan pemilihan dan menjadi salah satu anggota DPR termuda periode 2019–2024.

Di parlemen, Roro ditempatkan di Komisi VII DPR RI yang membidangi energi, riset, teknologi, industri, dan inovasi. Penugasan tersebut selaras dengan latar belakang akademik dan aktivisme yang telah ia bangun sebelumnya.

Selama menjalankan tugas sebagai legislator, ia dikenal aktif menyuarakan isu transisi energi, ekonomi hijau, pembangunan rendah karbon, serta penguatan inovasi nasional. Salah satu langkah yang sempat menjadi perhatian publik adalah usulannya pada 2021 terkait evaluasi struktur Komisi VII DPR demi memperkuat fungsi pengawasan terhadap kementerian mitra kerja. Usulan tersebut menunjukkan keberaniannya menyampaikan gagasan meski masih tergolong politisi muda.

Tidak hanya berkutat pada isu domestik, Roro juga aktif dalam diplomasi parlemen. Ia menjadi Ketua Grup Kerja Sama Bilateral Indonesia–Peru dan mendorong percepatan perundingan Indonesia–Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), sebuah langkah yang bertujuan memperluas akses pasar Indonesia ke kawasan Amerika Latin.

Di tingkat internasional, ia dipercaya menjadi anggota Board Member Young Parliamentarians pada Inter-Parliamentary Union untuk kawasan Asia Pasifik serta tergabung dalam World Bank Young MPs Steering Committee. Peran tersebut memperluas jejaring globalnya sekaligus memperkuat kapasitas diplomasi ekonomi yang nantinya sangat relevan dengan tugas di Kementerian Perdagangan.

Menghadapi Tantangan sebagai Politisi Muda dan Perempuan

Karier politik Roro tidak selalu berjalan mulus. Sebagai perempuan muda yang masuk parlemen pada usia 26 tahun, ia mengaku sempat menghadapi stereotip dan keraguan dari sebagian pihak. Di lingkungan yang didominasi politisi senior, keberadaannya kerap dipandang sebelah mata.

Namun tantangan itu justru menjadi motivasi untuk membuktikan kapasitasnya melalui kerja nyata dan kualitas gagasan. Dalam berbagai wawancara, Roro menegaskan bahwa penghormatan dalam politik tidak diperoleh semata karena usia atau jabatan, melainkan melalui kompetensi, konsistensi, dan kontribusi yang diberikan.

Seiring waktu, ia berhasil menunjukkan bahwa anak muda dan perempuan juga mampu menjadi pengambil keputusan yang efektif. Pengalaman tersebut kemudian membuatnya aktif mendorong peningkatan keterwakilan perempuan dalam politik nasional.

Konsisten Membawa Agenda Ekonomi Hijau

Salah satu ciri yang paling melekat pada sosok Dyah Roro Esti adalah konsistensinya mengusung isu ekonomi hijau. Selain aktif di Komisi VII DPR, ia juga menjadi Sekretaris Kaukus Ekonomi Hijau DPR RI serta terlibat dalam berbagai organisasi yang fokus pada energi terbarukan dan pembangunan berkelanjutan.

Roro tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia dan anggota komisaris pembangunan rendah karbon Indonesia. Dalam berbagai forum internasional, termasuk pertemuan IMF–World Bank di Washington DC pada 2024, ia kerap menekankan pentingnya menjadikan ekonomi hijau sebagai strategi pembangunan masa depan Indonesia.

Konsistensi itu membuat namanya dikenal bukan hanya sebagai politisi, melainkan juga sebagai salah satu advokat muda yang aktif memperjuangkan agenda keberlanjutan.

Menjadi Wakil Menteri Perdagangan 

Puncak perjalanan politik Roro sejauh ini terjadi pada 21 Oktober 2024 ketika Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Perdagangan Republik Indonesia.

Pada usia 31 tahun, ia menjadi salah satu wakil menteri termuda dalam Kabinet Merah Putih. Penunjukan tersebut sekaligus menandai transisinya dari ranah legislatif menuju eksekutif nasional.

Di Kementerian Perdagangan, Roro mendampingi Menteri Perdagangan Budi Santoso. Latar belakangnya dalam diplomasi ekonomi, kerja sama internasional, serta isu pembangunan berkelanjutan dianggap relevan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperluas pasar ekspor dan memperkuat posisi perdagangan global.

Sejak menjabat, Roro aktif terlibat dalam berbagai upaya perluasan kerja sama perdagangan internasional, penguatan ekspor nasional, promosi UMKM ke pasar global, serta diplomasi perdagangan dengan berbagai negara mitra. Ia juga mendorong agenda perdagangan yang lebih inklusif, termasuk pemberdayaan UMKM perempuan dan integrasi ekonomi hijau dalam strategi perdagangan Indonesia.

Dalam sejumlah forum resmi Kementerian Perdagangan, Roro menegaskan pentingnya transformasi digital UMKM, perluasan pasar ekspor, serta program “lokal untuk global” yang diarahkan untuk meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

Perjalanan Dyah Roro Esti menunjukkan pola yang relatif jarang ditemui dalam politik Indonesia. Ia tidak hanya datang dari jalur politik keluarga, tetapi juga membawa modal akademik internasional, pengalaman aktivisme lingkungan, serta keterlibatan dalam diplomasi global.

Dari aktivis lingkungan, anggota DPR termuda, hingga menjadi Wakil Menteri Perdagangan pada usia 31 tahun, Roro membangun kariernya melalui isu yang konsisten diperjuangkan: keberlanjutan, inovasi, dan penguatan daya saing Indonesia.

Di tengah tuntutan transformasi ekonomi global, sosok Dyah Roro Esti menjadi salah satu wajah generasi baru pemimpin Indonesia yang berupaya menghubungkan agenda perdagangan, pembangunan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu arah kebijakan yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *