Hetifah Minta Kaltim Siapkan SDM Hadapi Era Ekonomi Non-Tambang

Berita Golkar – Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kini dinilai perlu melangkah lebih cepat dalam memperluas sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru demi membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi masyarakat.

Langkah diversifikasi ini menjadi penting mengingat ketergantungan pada sektor tertentu, khususnya pertambangan yang mulai menunjukkan penurunan daya serap tenaga kerja, tak lagi bisa diandalkan sepenuhnya untuk menopang pembangunan Benua Etam di masa depan.

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian menegaskan bahwa Kaltim memiliki segudang potensi di luar sektor ekstraktif yang sangat layak digarap. Langkah ini krusial agar warga memiliki alternatif mata pencaharian di tengah pergeseran struktur ekonomi daerah.

“Kaltim ini kebutuhan utamanya memang ada pada ketersediaan lapangan kerja dan peluang usaha baru. Kita sama-sama melihat di beberapa sektor utama belakangan ini mulai terjadi penyusutan penyerapan tenaga kerja,” ungkap Hetifah, Minggu (26/7/2026), dikutip dari Tribunnews.

Politisi asal Kaltim ini membeberkan, beberapa sektor yang menyimpan prospek cerah antara lain pertanian, ketahanan pangan, peternakan, pariwisata, hingga industri kreatif.

Meski begitu, potensi besar tersebut membutuhkan sokongan regulasi dan kebijakan yang tepat dari pemerintah daerah agar benar-benar menjadi tumpuan ekonomi baru.

“Sektor pangan dan pertanian kita itu peluangnya luar biasa. Termasuk juga peternakan, sebenarnya banyak komoditas yang bisa diproduksi dan dipenuhi secara mandiri oleh Kaltim,” tutur legislator Senayan tersebut.

Namun demikian, Hetifah tidak menampik bahwa memindahkan orientasi tenaga kerja dari sektor tambang ke sektor non-tambang bukanlah hal yang instan.

Perlu ada strategi matang dari pemerintah, terutama dalam hal peningkatan keahlian (upskilling) agar angkatan kerja mampu menyesuaikan diri dengan dinamika pasar.

Disisi lain, ia menggarisbawahi pentingnya keselarasan (link and match) antara dunia pendidikan dan arah pembangunan ekonomi daerah.

Menurutnya, institusi pendidikan di Kaltim harus cepat beradaptasi dengan mencetak SDM yang relevan, sehingga para lulusan kelak tak sekadar menjadi pencari kerja, tetapi juga pemantik usaha baru.

“Program studi di kampus maupun sekolah kejuruan di Kaltim harus mulai disesuaikan dengan arah ekonomi masa depan. Jika prospek ke depan ada di sektor non-tambang, SDM-nya harus digembleng dari sekarang. Jangan sampai lulusan kita justru menambah angka pengangguran,” jelasnya.

Menyinggung program pendidikan gratis seperti Gratispol, Hetifah menilai terobosan tersebut sangat positif bagi akses pendidikan warga Kaltim. Hanya saja, kesiapan dunia usaha dan industri lokal tetap harus dibangun berjalan seiring.

“Dunia industri dan iklim usahanya harus disiapkan bersamaan. Begitu mereka lulus sekolah atau kuliah, bisa langsung terserap ke dunia kerja atau bahkan membuka usaha sendiri, seperti di sektor kreatif dan pariwisata,” tambahnya.

Hetifah optimistis, peta jalan pengembangan ekonomi daerah ini akan semakin terang melalui pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang sedang berlangsung.

Data akurat dari sensus tersebut diharapkan menjadi basis pengambilan kebijakan yang presisi bagi seluruh pemangku kepentingan di Kaltim.

“Lewat sensus ini nanti kelihatan sektor mana yang benar-benar prospektif dan apa yang dibutuhkan lapangan. Dengan begitu, kebijakan yang dirumuskan pemerintah bisa tepat sasaran dan menjawab kebutuhan riil masyarakat,” pungkas Hetifah. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *