Berita Golkar – Indonesia tidak kekurangan organisasi. Dari LSM, Ormas, hingga organisasi kepemudaan seperti Komite Nasional Pemuda Indonesia dan Karang Taruna, semuanya hadir hingga ke tingkat akar rumput. Namun tantangan utamanya bukan pada jumlah, melainkan pada bagaimana fungsi tersebut dapat terus diperkuat agar selaras dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Secara antropologis, sebagaimana dijelaskan Koentjaraningrat, masyarakat Indonesia dibangun di atas sistem gotong royong, sebuah mekanisme sosial yang memastikan kehidupan berjalan melalui saling bantu. Dalam kerangka ini, Ormas dan LSM sejatinya merupakan bagian dari organ sosial yang menopang kehidupan dasar masyarakat.
Hal ini selaras dengan gagasan kebangsaan Soekarno, bahwa negara tidak dapat bekerja sendiri. Negara berperan mengatur, sementara masyarakat sipil menghidupkan nilai-nilai kemanusiaan dalam praktik sehari-hari. Di tengah dinamika modern, tantangan sosial menjadi semakin kompleks.
Sejumlah kasus dalam layanan pengasuhan anak, seperti yang sempat mencuat di Yogyakarta, menjadi pengingat bahwa penguatan pengawasan sosial dan kualitas layanan dasar masih perlu terus ditingkatkan. Ini bukan soal menyalahkan, melainkan momentum untuk memperkuat peran bersama. Sebagian Ormas dan LSM telah mengambil peran tersebut, namun secara umum masih diperlukan penguatan agar fungsi pelayanan sosial dapat berjalan lebih sistematis dan merata.
Hari ini, banyak keluarga produktif menghadapi tantangan baru, suami dan istri bekerja, anak membutuhkan pengasuhan, orang tua lansia memerlukan perhatian, serta tekanan sosial yang semakin kompleks. Dalam kondisi ini, kehadiran Ormas dan LSM menjadi sangat penting sebagai perpanjangan tangan sosial untuk membantu kebutuhan dasar manusia, baik secara sosial, ekonomi, budaya, maupun rohani.
Di sisi lain, kita juga memasuki era ekologi digital, di mana teknologi menjadi alat penting dalam meningkatkan efektivitas pelayanan sosial. Dengan pendekatan ini, Ormas dan LSM dapat, memperkuat pendataan masyarakat secara akurat, memastikan distribusi bantuan lebih tepat sasaran, meningkatkan pengawasan layanan sosial, serta memperluas edukasi publik secara cepat dan masif.
Pendekatan ini sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih kuat dengan negara, termasuk dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia dalam mendorong penguatan UMKM. Ormas dan LSM dapat menjadi jembatan antara kebijakan dan masyarakat, terutama dalam pendampingan, digitalisasi, dan akses pasar bagi pelaku usaha kecil.
Lebih jauh, peran ini juga strategis dalam mendukung program nasional seperti Makan Bergizi Gratis yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo Subianto. Dengan keterlibatan masyarakat sipil, pelaksanaan program dapat lebih terawasi di tingkat akar rumput, distribusi menjadi lebih tepat sasaran, serta UMKM lokal dapat dilibatkan dalam rantai pasok.
Hasilnya bukan hanya keberhasilan program, tetapi juga tumbuhnya ekosistem sosial dan ekonomi yang berkelanjutan. Pada akhirnya, ini bukan tentang siapa yang paling berperan, melainkan bagaimana seluruh elemen negara dan masyarakat sipil dapat saling menguatkan.
Ormas dan LSM perlu terus didorong untuk kembali pada akar fungsinya, melayani manusia di level paling nyata, dengan pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Karena di era ekologi sosial dan digital, kekuatan bangsa terletak pada kolaborasi antara sistem yang kuat dan masyarakat yang hidup.
Oleh: Muh. Arman Alwi, Wakil Direktur BSNPG



