Firman Soebagyo Ajak Petani Bersahabat dengan El Nino, Dorong Perubahan Pola Tanam demi Jaga Produksi Pangan

Berita GolkarAnggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mengajak para petani di seluruh Indonesia untuk mulai beradaptasi dengan potensi anomali cuaca El Nino yang diperkirakan dapat memicu musim kemarau berkepanjangan di sejumlah wilayah. Menurutnya, perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi tidak bisa lagi dihadapi dengan pola pertanian konvensional, melainkan harus direspons melalui strategi budidaya yang lebih adaptif dan sesuai dengan kondisi alam.

Firman menilai, ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada kemampuan petani dalam menyesuaikan pola tanam terhadap perubahan iklim. Karena itu, upaya mitigasi harus dilakukan sejak dini agar ancaman penurunan produksi pangan akibat kekeringan dapat diminimalkan.

Politisi senior Partai Golkar ini turut mengingatkan bahwa fenomena El Nino bukan hanya berdampak pada berkurangnya curah hujan, tetapi juga berpotensi menurunkan produktivitas lahan pertanian, mengganggu ketersediaan air irigasi, hingga meningkatkan risiko gagal panen apabila tidak diantisipasi secara matang. Ajakan tersebut disampaikan Firman saat diwawancarai RRI Pro 3 FM pada Kamis (16/7) pukul 21.30 WIB.

“Kaum petani harus bersahabat dengan anomali cuaca El Nino. Pengertian bersahabat adalah bagaimana petani menyiasati dengan menanam tanaman yang tahan kemarau panjang, seperti padi gogo, sorgum, jagung, dan umbi-umbian,” ujar Firman.

Firman yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi lahan kering yang cukup luas dan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, di tengah ancaman kemarau panjang, diversifikasi komoditas pertanian menjadi langkah strategis untuk menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Menurut Firman, komoditas seperti padi gogo, sorgum, jagung, hingga berbagai jenis umbi-umbian memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih baik terhadap kondisi lahan dengan ketersediaan air yang terbatas. Pengembangan komoditas tersebut dinilai tidak hanya mampu menjaga pasokan pangan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani.

“Selama ini kita terlalu terpaku pada padi sawah. Padahal kita punya lahan kering yang luas. Ini saatnya kita optimalkan dengan komoditas yang ramah iklim kering,” tegas legislator asal Dapil III Jawa Tengah ini.

Lebih lanjut, Firman menekankan bahwa keberhasilan adaptasi terhadap perubahan iklim tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada petani. Menurutnya, pemerintah harus mengambil peran aktif melalui penyediaan informasi iklim yang akurat, pendampingan teknis, hingga memastikan sarana produksi pertanian tersedia secara memadai.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini juga menilai koordinasi lintas kementerian dan lembaga menjadi sangat penting agar langkah antisipasi terhadap dampak El Nino berjalan efektif. Informasi prakiraan cuaca dari BMKG, dukungan benih dari Kementerian Pertanian, serta pendampingan pemerintah daerah harus terintegrasi sehingga petani dapat menentukan pola tanam yang tepat sesuai kondisi wilayah masing-masing.

Selain itu, Firman mengingatkan bahwa perubahan pola tanam juga harus diikuti dengan kepastian pasar bagi hasil panen petani. Tanpa adanya jaminan pemasaran, petani dikhawatirkan enggan beralih ke komoditas alternatif meskipun secara agronomis lebih sesuai menghadapi musim kemarau.

“Pemerintah harus hadir dari hulu sampai hilir. Mulai dari informasi, benih, sampai jaminan pasar. Jangan sampai petani gagal panen karena tidak siap,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *