Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily Buka P4N, Soroti Kompleksitas Ujian Kepemimpinan Nasional

Berita Golkar – Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Ace Hasan Syadzily membuka Program Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) angkatan ke-69 di Jakarta, Selasa (13/1/2026). Ace mengingatkan, ujian kepemimpinan nasional kini semakin kompleks, mulai dari bencana alam hingga dinamika geopolitik global.

Acara pembukaan dimulai sekitar pukul 9.40 pagi. Ace yang mengenakan setelan jas hitam kemudian naik ke atas mimbar untuk memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Ace mengatakan, P4N angkatan 69 dirancang untuk menyiapkan pimpinan nasional menghadapi berbagai ujian ketahanan nasional. Tantangan tersebut mencakup bencana alam, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik global yang terus berkembang.

“Tantangan ketahanan nasional saat ini semakin kompleks dan saling terkait,” ujarnya, dikutip dari RM.

Pendidikan P4N angkatan 69 mengusung tema Pemantapan Kapasitas Pimpinan Tingkat Nasional Guna Mendukung Asta Cita Dalam rangka Mewujudkan Indonesia Emas 2025.

Ace mengungkapkan, tema tersebut menjadi dasar pembekalan peserta dalam memahami persoalan bangsa secara menyeluruh dan tidak parsial.

Politikus Partai Golkar ini menerangkan, peserta P4N angkatan 69 berasal dari unsur sipil, militer, dan negara sahabat. Total ada 110 peserta. Seluruh peserta disatukan dalam satu ruang pembelajaran untuk menyamakan persepsi sebagai kader pimpinan nasional.

“Saudara-saudara adalah figur terbaik yang terpilih dari berbagai institusi untuk disiapkan sebagai pimpinan nasional,” ucapnya, seraya memotivasi.

Ace menegaskan, ketahanan nasional saat ini semakin berkembang. Faktor sumber daya manusia, ekonomi, sosial budaya, ideologi, dan stabilitas politik kini sama pentingnya dalam menentukan daya tahan bangsa. “Ketahanan nasional kini tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer semata,” tegasnya.

Pendidikan di Lemhannas juga diarahkan sejalan dengan delapan misi pembangunan nasional Asta Cita yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Peserta dibekali kemampuan membaca persoalan bangsa secara strategis dan komprehensif.

“Peserta akan dibentuk sebagai kader pimpinan nasional berkarakter negarawan dan beretika kebangsaan,” katanya.

Ace menyebut, Indonesia saat ini menghadapi sejumlah isu strategis yang menuntut kepemimpinan adaptif. Ketahanan pangan, ketahanan energi, transformasi digital, dan konsolidasi demokrasi menjadi perhatian utama. “Berbagai persoalan bangsa tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan yang parsial,” ucap mantan anggota DPR ini.

Selain itu, dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik juga dinilai berpengaruh besar terhadap kepentingan nasional. Perubahan peta kekuatan global menuntut kesiapan pemimpin dalam membaca arah kebijakan internasional. “Pemimpin nasional harus memahami geopolitik dan dampaknya terhadap ketahanan nasional,” imbaunya.

Dia juga menyinggung bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar). Menurutnya, bencana menunjukkan ancaman ketahanan nasional juga datang dari dimensi ekologis. “Ancaman ketahanan nasional juga bersumber dari degradasi lingkungan dan perubahan iklim,” ucapnya.

Dalam konteks tersebut, ditekankan pentingnya kepemimpinan yang responsif dan berorientasi mitigasi risiko. Sinergi antara Pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat dinilai krusial. “Tantangan multidimensi bangsa menuntut pola pikir kepemimpinan yang holistik,” katanya.

Kolaborasi lintas sektor menjadi prasyarat menjaga keselamatan rakyat dan keberlanjutan pembangunan nasional. Pola pikir kepemimpinan komprehensif sangat dibutuhkan. “Itu menjadi prasyarat bagi pemimpin masa depan,” cetus Ace.

Di akhir sambutannya, lulusan P4N angkatan 69 diharapkan mampu memberi kontribusi nyata bagi ketahanan nasional. Mereka diharapkan menjadi pemimpin kolaboratif menuju Indonesia Emas 2045. Usai menyampaikan pidatonya dan secara resmi membuka pendidikan, Ace melangkah turun dari mimbar.

Sementara, Deputi Pendidikan Pimpinan Tingkat Nasional Lemhannas Marsda TNI Bob Henry Panggabean melaporkan kesiapan penyelenggaraan P4N angkatan 69. Pendidikan akan berlangsung selama kurang lebih 5,5 bulan, dimulai Selasa (13/1/2026) dan direncanakan berakhir Selasa (14/7/2026).

Proses pembelajaran disusun bertahap dan terstruktur. “Pendidikan dilaksanakan melalui ceramah, diskusi, studi kasus, dan penulisan karya ilmiah,” katanya.

Bob menjelaskan, jumlah peserta P4N angkatan 69 sebanyak 110 orang. Peserta berasal dari kementerian, lembaga negara, lembaga pemerintah non-kementerian, TNI, Polri, serta negara sahabat.

Negara sahabat yang mengikuti P4N angkatan 69 berasal dari Australia, India, Kamboja, Malaysia, Singapura, dan Timor Leste. Kehadiran mereka dinilai memperkaya perspektif geopolitik dan jejaring internasional. “Kehadiran peserta negara sahabat merupakan kehormatan dan wujud kepercayaan internasional,” katanya.

Selama pendidikan, peserta akan mengikuti Studi Strategis Dalam Negeri dan Studi Strategis Luar Negeri. Peserta juga diwajibkan menyusun Kertas Karya Ilmiah Perorangan sebagai tugas akhir. “Kegiatan pendidikan bermuara pada konsepsi strategis dan seminar nasional,” kata Bob.

Dia kembali menegaskan, Lemhannas terus melakukan evaluasi kurikulum agar relevan dengan perkembangan lingkungan strategis. Efektivitas dan efisiensi pendidikan menjadi perhatian utama lembaga. “Kurikulum terus disesuaikan dengan dinamika nasional, regional, dan global,” tandasnya. {}