Berita Golkar – Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memitigasi potensi dampak konflik geopolitik global yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat.
Upaya utama dilakukan melalui penguatan ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, penguatan ketahanan pangan dan energi menjadi langkah penting di tengah ketidakpastian geopolitik global yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia.
Menurutnya, program swasembada pangan dan energi yang dicanangkan Presiden Prabowo tidak hanya berkaitan dengan sektor pertanian dan energi semata, tetapi juga memerlukan dukungan kuat dari sektor industri manufaktur nasional.
“Program ketahanan pangan dan ketahanan energi yang menjadi prioritas Presiden Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Industri manufaktur memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut, mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian, industri pupuk, alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan teknologi energi,” tutur Agus dalam keterangan, Kamis (5/3/2026).
Sektor industri memiliki kontribusi besar dalam mendukung upaya swasembada pangan. Industri pupuk nasional, industri alat dan mesin pertanian (alsintan), industri pengolahan pangan, serta industri kemasan merupakan bagian penting dari ekosistem industri yang menopang produktivitas sektor pertanian.
Selain itu, industri manufaktur juga dinilai berperan strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Berbagai industri terlibat dalam pengembangan teknologi energi baru dan terbarukan, produksi komponen pembangkit listrik, pengembangan kendaraan listrik, hingga industri petrokimia yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok energi.
Agus menambahkan, Kementerian Perindustrian terus mendorong penguatan industri hulu dan hilir agar Indonesia semakin mandiri dalam memenuhi kebutuhan strategis nasional, termasuk di sektor pangan dan energi.
“Dengan struktur industri yang semakin kuat, Indonesia akan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gejolak ekonomi global akibat konflik geopolitik,” ungkapnya, dikutip dari Tribunnews.
Dalam konteks tersebut, pemerintah juga memperkuat kebijakan peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN) dan pengembangan rantai pasok industri domestik.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku sekaligus meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri. Selain itu, transformasi menuju industri hijau dan peningkatan efisiensi energi di sektor manufaktur terus didorong.
Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.
Menperin optimistis sektor manufaktur Indonesia memiliki ketahanan yang cukup kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi global.
“Kami optimistis bahwa dengan penguatan struktur industri nasional serta dukungan terhadap program ketahanan pangan dan energi, sektor industri manufaktur Indonesia akan tetap mampu tumbuh dan berdaya saing meskipun menghadapi berbagai tantangan global,” ucap Agus. []



