Misbakhun Bongkar Narasi APBN Bangkrut: Negara Sekaya Indonesia Tak Bisa Runtuh

Berita Golkar – Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak mungkin mengalami kebangkrutan. Alasannya, kata ia, Indonesia merupakan negara kaya dengan sumber daya alam melimpah.

“Kalau ada yang mengatakan APBN kita bangkrut, tidak mungkin kita bangkrut,” kata Misbakhun dalam sesi “1 on 1 Legislative” Jogja Financial Festival di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, Indonesia masih memiliki berbagai komoditas unggulan yang menjadi kekuatan ekonomi nasional, mulai dari kelapa sawit mentah (CPO), nikel, hingga hasil perkebunan dan kelautan.

“CPO 40 persen, nikel bahkan lebih 60 persen, kita masih menghasilkan karet, kopi, damar, ikan laut. Negara sekaya Indonesia tidak mungkin menjadi negara yang bangkrut,” katanya, dikutip dari Republika.

Misbakhun menambahkan bahwa masyarakat perlu memahami kondisi ekonomi secara rasional dan tidak mudah terpengaruh informasi yang menimbulkan ketakutan berlebihan terkait situasi ekonomi nasional.

“Kita berhadapan pada sebuah situasi antara realitas melawan media sosial. Jangan percaya begitu saja apa yang dilakukan influencer,” katanya.

Ia mengatakan persepsi masyarakat saat ini banyak dipengaruhi konten digital, termasuk informasi berbasis kecerdasan buatan (AI), yang sering menggambarkan kondisi ekonomi seolah berada dalam situasi krisis.

“Kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibanding krisis 1998 karena fundamental ekonomi nasional masih kuat dan stabil karena masih memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik, inflasi terkendali, serta daya tahan sektor keuangan yang lebih kuat,” katanya.

Jauh dari krisis

Pernyataan Misbakhun sejalan dengan perkataan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa yang menegaskan bahwa pemerintah tidak memiliki kekhawatiran akan terulangnya krisis ekonomi di Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai menghadiri rapat terbatas di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang sangat baik. Kondisi sekarang sangat berbeda dibandingkan masa krisis 1998 ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan drastis hingga berkali-kali lipat.

Tidak (kekhawatiran). Fundamental kita amat baik. Kalau dibandingkan 1998 kan waktu itu dari Rp2.000 melemah ke sekian, Rp17 ribu kan sekian kali lipat. Kalau sekarang kan (depresiasi) 4-5 persen kan sebetulnya jauh (dari 1998),” ujar Purbaya.

Ia mengatakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah belakangan lebih dipengaruhi oleh persepsi pasar dibandingkan kondisi fundamental ekonomi nasional. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *