Pileg  

Unggul di Dapil DKI Jakarta III, Erwin Aksa Tanamkan Filosofi Bugis Dalam Langkah Politiknya

Berita Golkar – Putra sulung pengusaha tersohor di Sulawesi Selatan HM Aksa Mahmud mampu memperoleh suara terbesar di daerah pemilihan (Dapil) DKI III Jakarta.

Erwin Aksa, mantan ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) itu kini menjadi perbincangan publik nasional. Pasalnya, Erwin Aksa berhasil menyumbangkan suara terbesar partai golkar versi real count KPU.

Sejumlah politisi senior hingga publik figur bertarung pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2024 daerah pemilihan (Dapil) DKI Jakarta III.

Erwin putra asli Bugis Makassar itu mampu mengalahkan nama besar di Jakarta seperti mantan gubernur DKI Ahmad Riza Patria, bahkan nama besar lainnya seperti Ahmad Sahroni bendahara umum partai NasDem dan politisi PAN Pasha Ungu.

Dilansir dari sistem rekapitulasi informasi (Sirekap) KPU di Dapil Jakarta III yang dipublikasikan melalui situs pemilu2024.kpu.go.id hingga Senin (19/2/2024) pukul 11.00 WIB. Politisi PSI Grace Natalie sementara unggul versi Sirekap. Mantan presenter tvone itu memperoleh 39.052 suara.

Sebagai anak Bugis-Makassar, Erwin sangat mencintai laut. Dia sangat menghayati filosofi pelaut dari tanah pemberani yang legendaris itu. “Lebih baik patah layar sebelum sampai, daripada patah haluan sebelum berangkat,” kata politisi golkar itu.

“Saya hanya anak pinisi,” ujarnya tersenyum merendah.

Kenal dekat Erwin Aksa

Pendidikan pertama Erwin Aksa (EA) dari laut. Sebagai anak Bugis-Makassar, ia mencintai laut. Tak hanya nenek moyangnya pelaut. Tapi juga bisa merasakan dan lebih menghayati filosofi pelaut dari tanah pemberani yang legendaris itu. Yakni: “lebih baik patah layar sebelum sampai, daripada patah haluan sebelum berangkat!”

“Mencintai laut, berarti mencintai Indonesia” tegas EA. Mengapa? Karena Indonesia ini adalah negara kepulauan yang disatukan mulai dari Sabang sampai Merauke. Dari pulau Miangas hingga pulau Rote.

Sejak kecil EA akrab dan tak asing dengan laut. Bukan sekedar aroma makanannya yang menggoda selera. Tapi juga olahraganya: selancar angin atau surfing.

Ketika itu EA bergabung di Makassar Wind Surfing Club, bersama adiknya Sadikin. Aktif berlatih dan serius. Sejak kelas 1 SMP. Sampai menjadi atlet muda potensial dan berbakat Sulawesi Selatan. Beberapa kali mengikuti kejuaraan.

Dalam olahraga selancar angin, EA ia diajarkan untuk berani mengambil risiko dan menjaga keseimbangan ditengah ombak yang kerap memecah tak beraturan. Etosnya siri’ (berani tarung demi harga diri). G.H. van Soest menyebutnya sebagai representasi jiwa kepahlawanan Nusantara.

Di kantor ayahnya, sukma laut begitu terasa. Setiap tamu atau pengunjung menemukan lukisan perahu pinisi menantang badai. Ukuran besar. Di dinding lantai empat gedung kantor Bosowa di Jalan Urip Sumohardjo Makassar, tempat sang ayah mengendalikan sejumlah anak perusahaan keluarganya.

Mengapa Pinisi?

Pinisi adalah jenis perahu tradisional suku Bugis-Makassar yang terkenal, mempunyai layar tujuh, bertiang dua, dan mampu “menggergaji” gelombang.

Disebut “menggergaji” gelombang karena ketika gelombang datang, olah kemudi diarahkan seolah pinisi mengiris serong gerakan raksasa itu. Tidak menghadapinya langsung dengan memotongnya. Ketangguhannya itu membuat pinisi mampu menjelajahi dan mengarungi samudera.

Pinisi menjadi ikon yang merefleksikan perjalanan perusahaan Bosowa dan sekaligus menjadi spirit juang pantang menyerah menantang badai dalam mencapai kejayaannya. Terbukti mampu melewati krisis dan badai ekonomi selama ini. Itulah yang dalam praktek berupa adaptasi, inovasi dan lompatan yang dilakukan oleh Bosowa.

Karakter laut dan pinisi menyatu dalam diri EA sejak kecil. Bahkan ia reaktualisasi. Tidak sekedar semangatnya berani atau fighter. Tapi juga kukuh dan tegar pertahankan prinsip. Daya juangnya bukan sekadar menantang badai, tapi juga membangun dan menumbuhkan.

EA juga membuat miniatur, replika dan foto-foto pinisi yang ditempatkan pada beberapa bagian ruangan di kantor Bosowa. Di Jakarta maupun Makassar. Ia pula yang inisiasi mengganti logo PSM Makassar lebih modern dan kekinian menjadi laskar pinisi.

Sebagai pengusaha-politisi, EA tak terlalu peduli dengan julukan yang disematkan orang kepada dirinya. “Bintang dari Timur”, “The next JK”, “Rising Star Golkar” dan lain-lain.

“Saya hanya anak pinisi”

Perahu pinisi selalu siap berlayar karena perahu pinisi tak pernah memilih ombak dan badai untuk mengarungi samudera. {sumber}