Berita Golkar – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menegaskan komitmen kementeriannya untuk tidak hanya melindungi para pekerja migran Indonesia mulai dari saat berangkat, penempatan, hingga kepulangan, tetapi juga keluarga mereka, terutama anak-anak pekerja migran yang turut terdampak.
“Negara hadir dan peduli untuk memastikan bahwa tidak ada anak Indonesia yang tertinggal karena keadaan,” kata Mukhtarudin, saat menghadiri kegiatan kolaborasi Kementerian P2MI dan Kementerian Hukum di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (3/9/2026), dikutip dari AntaraNews.
Untuk memastikan pelindungan tersebut, melalui kegiatan di Malaysia, pemerintah menyerahkan bantuan pendidikan kepada 25 anak pekerja migran yang tersebar di sejumlah Sanggar Bimbingan di Malaysia.
Masing-masing anak menerima bantuan sebesar 500 ringgit Malaysia (sekitar Rp2,1 juta), sehingga total bantuan pendidikan yang disalurkan mencapai RM12.500 (sekitar Rp54,5 juta).
Mukhtarudin mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya negara memastikan anak-anak para pekerja migran tetap memperoleh akses pendidikan dan memiliki kesempatan yang sama untuk membangun masa depan, meskipun mereka tumbuh dan menjalani pendidikan jauh dari Indonesia.
Menurut dia, keberadaan para pekerja migran di luar negeri tidak dapat dipandang hanya dari perspektif pekerja dan hubungan kerja. Di balik kerja keras para pekerja migran, terdapat keluarga yang turut membutuhkan perhatian dan pelindungan negara.
Mukhtarudin juga menekankan bahwa pendidikan merupakan salah satu fondasi utama dalam memutus kerentanan sosial dan meningkatkan kualitas kehidupan keluarga pekerja migran.
“Karena itu, anak-anak pekerja migran harus mendapatkan dukungan agar tetap dapat bersekolah dan mengembangkan potensi mereka,” kata Mukhtarudin lebih lanjut.
Dia mengaku pemerintah memahami bahwa keputusan seorang pekerja migran untuk bekerja di luar negeri juga dilandasi harapan agar keluarga, termasuk anak-anak, dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik.
“Di balik setiap pekerja migran Indonesia yang bekerja jauh dari keluarga, terdapat harapan agar anak-anak mereka memperoleh pendidikan yang baik dan kehidupan yang lebih baik,” katanya.
Oleh karena itu, pemerintah tidak ingin masalah pendidikan dan masa depan anak pekerja migran menjadi konsekuensi yang harus ditanggung sendiri oleh keluarga.
“Ketika kita menjaga masa depan anak-anak pekerja migran Indonesia, maka sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan Indonesia itu sendiri,” katanya. []



