Berita Golkar – Pernyataan Cak Imin di tengah Muktamar ke-35 NU di Jombang soal NU yang disebut terpuruk karena dipimpin alumni HMI memang mengundang perhatian. Apalagi kalimat itu disampaikan dalam forum yang sarat dengan dinamika organisasi dan politik. Cak Imin kemudian menjelaskan bahwa pernyataan tersebut merupakan bagian dari “gojlokan internal PMII” dan tidak ditujukan untuk konsumsi publik. ([Ruang Bicara)
Bagi saya, penjelasan tersebut patut dihargai. Tetapi pada saat yang sama, kita juga perlu belajar bahwa tidak semua candaan yang nyaman disampaikan di ruang internal akan diterima dengan cara yang sama ketika terdengar di ruang publik.
HMI bukan sekadar tiga huruf. Begitu pula PMII. Di balik keduanya ada sejarah panjang, proses pengkaderan, tradisi intelektual, senior, alumni dan jutaan pengalaman kader yang tentu memiliki ikatan emosional dengan organisasinya.
Karena itu, kalau ada kritik terhadap kepemimpinan NU, tentu sangat sah. Bahkan kritik harus diberikan. Tetapi menurut saya, kritik akan jauh lebih bermakna apabila diarahkan kepada kebijakan, tata kelola, keputusan dan kualitas kepemimpinan, bukan kepada almamater tempat seseorang pernah ditempa.
Seseorang menjadi pemimpin karena kapasitas dan keputusan pribadinya. Ia tidak otomatis mewakili seluruh organisasi asalnya dalam setiap kebijakan yang dibuat. Kalau seorang alumni HMI memimpin dengan baik, apakah seluruh HMI harus mendapat pujian? Tentu tidak. Begitu juga kalau seorang alumni HMI membuat kekeliruan, tidak adil jika seluruh HMI ikut dipersalahkan.
Di titik inilah respons Anas Urbaningrum menurut saya cukup menarik. Ia memang menyentil Cak Imin dengan mengatakan seolah Cak Imin “kekurangan kosa kalimat”. Tetapi Anas tidak membawa persoalan ini menjadi permusuhan HMI dan PMII. Sebaliknya, ia justru menegaskan bahwa tidak ada alasan HMI dan PMII untuk saling bermusuhan. Kompetisi boleh, bahkan baik, selama berlangsung dalam semangat persaudaraan.
Pesan itu penting.
HMI dan PMII berbeda kultur, sejarah dan tradisi pengkaderan. Tetapi perbedaan bukan alasan untuk saling mengecilkan. Justru dari perbedaan itulah kita belajar bahwa Indonesia dibangun oleh banyak kelompok dengan latar belakang yang beragam.
Saya pribadi berpendapat, Cak Imin tidak perlu menggunakan almamater lain sebagai bahan candaan untuk menunjukkan kebanggaan terhadap PMII. PMII tidak menjadi lebih besar karena HMI direndahkan. Begitu juga HMI tidak menjadi lebih besar jika kemudian membalas dengan merendahkan PMII.
Kepada kader HMI, jangan mudah terpancing. Kritik boleh disampaikan, keberatan juga wajar, tetapi jangan sampai respons kita justru memperpanjang persoalan dan mengubahnya menjadi perang antaralmamater.
Kepada para senior HMI dan PMII, rasanya kita mempunyai tanggung jawab yang lebih besar untuk mendinginkan suasana. Jangan wariskan kepada kader-kader muda tradisi saling ejek yang pada akhirnya hanya menghabiskan energi.
Dan kepada Cak Imin, sebagai tokoh nasional sekaligus bagian dari tradisi aktivisme mahasiswa, tentu masyarakat berharap lebih. Kritiklah dengan gagasan, data dan argumentasi. Candaan tetap boleh, tetapi mungkin akan lebih bijak jika tidak menjadikan almamater orang lain sebagai sasaran.
Bukankah kedewasaan seorang pemimpin justru terlihat dari kemampuannya menyampaikan kritik tanpa harus merendahkan identitas orang lain?
Pada akhirnya, siapapun yang nanti memimpin NU, apakah berlatar belakang HMI, PMII, GMNI, IPNU, Ansor atau organisasi lainnya, yang harus dinilai adalah kapasitas dan kerja kepemimpinannya. Anas sendiri mengingatkan bahwa latar belakang organisasi semestinya bukan persoalan selama kepemimpinan mampu membawa NU kembali pada marwahnya.
HMI dan PMII tidak perlu saling membuktikan siapa yang paling hebat.
Biarkan kader-kadernya berkompetisi dalam gagasan, prestasi dan pengabdian.
Sebab organisasi yang besar tidak perlu merendahkan organisasi lain untuk menunjukkan kebesarannya.
Bercanda boleh. Kritik silakan. Berbeda itu biasa. Tetapi jangan jadikan almamater orang lain sebagai bahan candaan untuk meninggikan almamater sendiri.
Itu bukan soal HMI atau PMII.
Itu soal bagaimana kita menghargai sesama. []
Oleh: Aisah Hamim, Alumni HMI 2010/Pengurus PP KPPG/Pengurus DPP AMPI/Tokoh Muda Partai Golkar



