Berita Golkar – Penerapan biodiesel B50 telah menjangkau 6.050 SPBU Pertamina atau sekitar 94 persen. Saat ini ada sekitar 362 SPBU yang masih dalam masa transisi dari B40.
Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar Jamaludin Malik menyambut positif perkembangan penerapan B50 tersebut. Menurut dia, perluasan penyaluran B50 menunjukkan kebijakan kemandirian energi mulai berjalan hingga ke tingkat konsumen.
“Ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, menghemat devisa, dan mengoptimalkan sumber energi yang tersedia di dalam negeri,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (10/9/2026), dikutip dari Kompas.
Berdasarkan data Kementerian ESDM, penyaluran B50 sejak Juli hingga 7 September 2026 telah mencapai sekitar 3,4 juta kiloliter (KL).
Secara keseluruhan, penyaluran biodiesel sepanjang 2026 mencapai sekitar 10,69 juta KL. Angka tersebut terdiri dari penyaluran B40 sekitar 7,27 juta KL dan B50 sekitar 3,4 juta KL. Dari 104 titik serah biodiesel, sebanyak 76 titik telah menyalurkan B50, sedangkan 28 titik lainnya masih berada dalam masa transisi.
Jamaludin mengatakan, capaian tersebut merupakan perkembangan positif.
Namun, penyelesaian transisi di seluruh wilayah tetap harus dikawal. Pemerintah bersama Pertamina perlu memastikan 362 SPBU yang masih berada dalam masa transisi dapat segera menyalurkan B50 setelah relaksasi penghabisan stok B40 berakhir pada 30 September 2026.
“Transisi menuju B50 harus diselesaikan secara tertib dan merata. Jangan sampai masih terdapat daerah yang tertinggal karena persoalan terminal, fasilitas pencampuran, distribusi, ataupun kesiapan SPBU. Ketersediaan energi yang merata merupakan bagian penting dari keadilan energi,” ucap Jamaludin.
Selain penyelesaian transisi, Jamaludin menyoroti pentingnya menjaga mutu B50 dalam penerapannya. Ia mengapresiasi hasil pengujian B50 pada alat berat pertambangan selama 1.000 jam yang dilaksanakan sekitar enam bulan pada tiga perusahaan tanpa ditemukan kendala berarti.
Pengujian sejumlah kendaraan juga telah mencapai 50.000 kilometer (km). Sementara itu, kendaraan berspesifikasi lama dapat mencapai 37.000 km sebelum memerlukan penggantian filter.
Menurut Jamaludin, hasil pengujian tersebut perlu diperkuat dengan riset dan pengembangan berkelanjutan, pengawasan standar mutu, serta pemantauan terhadap kinerja mesin dalam jangka panjang. Penerapan B50 juga harus memberikan manfaat ekonomi yang semakin besar bagi petani sawit, koperasi, industri pengolahan, dan tenaga kerja nasional dengan tetap menjaga keberlanjutan bahan baku.
“B50 harus dibangun sebagai bagian dari ekosistem energi nasional yang kuat, bukan hanya program pencampuran bahan bakar,” kata dia. “Jika mutu, pasokan, distribusi, kesiapan teknologi, dan keberlanjutan bahan bakunya terus dijaga, kebijakan Presiden Prabowo dan Menteri ESDM Bahlil ini dapat menjadi fondasi penting menuju swasembada energi sekaligus memperkuat industri nasional,” pungkas Jamaludin. []



