Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Siapkan 849 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS 100 GW

Berita Golkar – Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mendukung ambisi besar pemerintah dalam transisi energi.

Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, menyatakan pihaknya tengah mematangkan lahan seluas 849.000 hektar yang tersebar di seluruh Indonesia untuk digunakan sebagai lokasi pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW).

Langkah ini merupakan respons atas instruksi Presiden Prabowo Subianto yang meminta percepatan pembangunan infrastruktur energi terbarukan guna memperkuat kemandirian energi nasional.

“Untuk menyukseskan program ini, kami memberikan dukungan melalui pelayanan pertanahan dan tata ruang. Dari sisi pelayanan pertanahan, kami menyiapkan potensi lahan yang bersumber dari Hak Guna Usaha (HGU) dan Hak Guna Bangunan (HGB) yang tidak diperpanjang,” ujar Nusron Wahid dalam keterangannya, di Jakarta, dikutip Kamis (12/03/2026), dari Tirto.

Nusron menuturkan, dari total potensi lahan 849.000 hektare—yang setara 1,5 kali luas Provinsi Bali—tersebut, sekitar 50.000 hingga 60.000 hektare di antaranya bisa berasal dari Pulau Jawa.

“Saat ini Kementerian ATR/BPN tengah melakukan pemetaan dan identifikasi lebih lanjut terhadap lokasi-lokasi tersebut,” tambahnya.

Tak hanya menyiapkan lahan, Kementerian ATR/BPN juga memastikan dukungan dalam aspek perizinan. Pihaknya siap menerbitkan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) yang merupakan prasyarat utama untuk mengurus perizinan lainnya.

Untuk mempercepat realisasi proyek, Nusron mengusulkan agar pengembangan energi surya skala besar ini masuk dalam daftar Program Strategis Nasional (PSN).

“Dengan demikian, proses penyesuaian pemanfaatan ruang maupun penyelesaian aspek pertanahan dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi,” ucapnya.

Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menekankan bahwa percepatan pembangunan PLTS 100 GW adalah arahan langsung presiden untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak serta merespons dinamika geopolitik global.

“Energi merupakan salah satu faktor penting dalam geopolitik dan geoekonomi global. Karena itu, Bapak Presiden meminta kita mempercepat pemanfaatan potensi energi yang kita miliki agar Indonesia semakin mandiri,” tutur Bahlil. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *