Berita Golkar – Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, terus memperkuat strategi peningkatan ekspor di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompleks. Hal ini dilakukan pada optimalisasi potensi pasar utama dan ekspor komoditas bernilai tambah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa langkah ini merupakan tindak lanjut dari evaluasi perkembangan neraca perdagangan nasional. Di tengah ketidakpastian geopolitik global, kinerja neraca perdagangan Indonesia menunjukkan tren pemulihan dengan mencatat surplus kumulatif pada periode Januari-Agustus 2026 sebesar USD 7,25 miliar.
Meskipun sempat mengalami defisit pada Mei (-USD1,61 miliar) dan Juni 2026 (-USD0,45 miliar), neraca perdagangan Indonesia kembali positif pada Juli dan Agustus 2026 dengan surplus masing-masing sebesar USD0,12 miliar dan USD3,55 miliar.
“Pemerintah memandang perkembangan ini perlu direspon melalui penguatan strategi ekspor berbasis komoditas dan pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan mengidentifikasi komoditas berkapasitas ekspor tinggi, memetakan kesenjangan antara ekspor Indonesia dengan kebutuhan impor negara mitra, serta mengurai hambatan yang dihadapi pelaku usaha,” ungkap Menko Airlangga, dikutip dari ekon.
Lebih lanjut, Menko Airlangga menjelaskan hasil pemetaan menunjukkan adanya ruang ekspansi yang besar untuk meningkatkan ekspor Indonesia. Hal ini terlihat dari export gap (selisih antara nilai ekspor saat ini dengan nilai potensi ekspor maksimal) di sejumlah pasar utama. Sebagaimana diketahui, berdasarkan data tahun 2025 pasar ekspor utama Indonesia terkonsentrasi di Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Amerika Serikat, Jepang, dan India.
Di RRT, terdapat export gap sebesar USD31 miliar terutama berasal dari komoditas mineral dan logam beserta produknya, sumber daya mineral, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia. Sementara itu, di Amerika Serikat terdapat potensi export gap senilai USD14 miliar, antara lain pada kendaraan, mineral dan logam, mesin dan peralatan elektronik, kayu/kertas/karet/plastik, serta produk kimia.
Potensi serupa juga teridentifikasi di Jepang dengan export gap USD5,5 miliar dengan peluang utama pada produk mineral dan logam, produk hasil laut, produk nabati, serta bahan kimia. Sementara itu, di India terdapat export gap USD10 miliar berasal dari mineral dan logam, bahan kimia, mesin dan elektronik, serta produk nabati.
“Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan ekspor tidak hanya perlu dilakukan melalui pencarian pasar baru, tetapi juga dengan memperdalam pasar yang selama ini telah menjadi tujuan ekspor Indonesia,” tutur Menko Airlangga.
Untuk merealisasikan potensi tersebut, Pemerintah akan mendorong penguatan ekspor melalui pendekatan berbasis komoditas. Strategi ini mempertemukan potensi produksi domestik dan kebutuhan spesifik negara tujuan, mencakup sektor pertambangan, pertanian dan perkebunan, perikanan, dan manufaktur. Pengembangan produk elektronik dan teknologi serta produk telekomunikasi juga menjadi bagian dari pemetaan potensi ekspor.
Sebagai langkah dukungan konkret, Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas Kementerian/Lembaga bersama pelaku usaha guna mengurai berbagai hambatan ekspor, mulai dari regulasi, standarisasi persyaratan pasar, hingga kendala teknis di lapangan.
“Dengan pendekatan tersebut, optimalisasi pasar utama diharapkan tidak hanya dilakukan melalui peningkatan nilai ekspor secara agregat, tetapi juga melalui penguatan ekspor produk bernilai tambah dan diversifikasi komoditas, sehingga peluang pasar yang masih terbuka dapat dikonversi menjadi ekspor Indonesia yang lebih konkret,” tandas Menko Airlangga. []



