Dulu Simbol Kemiskinan, Kini Jadi Tren Fesyen! Menperin Sarmuji Takjub dengan Tas Goni Karya Anak Muda

Berita Golkar – Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengaku takjub melihat kreasi tas berbahan baku goni saat mengunjungi Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), Kuta, Badung, Bali. Sarmuji menyebut produk tekstil berbahan goni di masa lalu identik dengan simbol kemiskinan.

“Ada tadi tas yang sangat bagus yang berbahan baku goni. Goni itu dulu, bapak saya cerita, pada tahun 60-an adalah simbol kemiskinan,” ujar Sarmuji saat ditemui di BPIFK, Kuta, Sabtu (24/10/2026), dikutip dari detik.

Dalam kunjungan tersebut, Sarmuji sempat melihat-lihat pameran produk yang diproduksi dengan barang bekas atau limbah. Sekjen Partai Golkar itu lantas memuji kreativitas yang bisa menjadikan goni sebagai produk fesyen bernilai tinggi hingga menembus pasar mancanegara.

“Hari ini goni bukan lagi simbol kemiskinan. Di tangan anak-anak muda yang kreatif, goni menjadi simbol fesyen yang dengan kualitas tinggi dipadukan dengan isu lingkungan hidup,” tuturnya.

Selain tas dari karung goni tersebut, ada beberapa produk lainnya yang dipamerkan dalam kegiatan itu. Mulai dari sepatu berbahan limbah tekstil, kerangka sepeda hasil olahan limbah denim, hingga gaun dari perca.

Sarmuji menuturkan produk-produk berlabel ramah lingkungan justru diminati oleh konsumen luar negeri. Ia mendorong komunitas-komunitas lingkungan hidup untuk turut memperkenalkan produk dari Industri Kecil dan Menengah (IKM) fesyen dan kriya sebagai produk ekspor.

“Produk-produk yang berbasis alam, barangkali di Indonesia belum terlalu tinggi minatnya, tetapi di luar negeri sudah sangat tinggi minatnya,” ungkapnya.

Menurut Sarmuji, Bali sebagai etalase pariwisata Indonesia bisa menjadi sarana pemasaran bagi produk-produk tersebut. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, Bali tercatat memiliki 25 sentra IKM fesyen dan 197 IKM kriya. []