Di Tengah ‘Dua Himpitan Api’, Eric Hermawan Sebut Bahlil–Purbaya Jadi Penjaga Stabilitas Ekonomi RI

Berita Golkar – Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar, Eric Hermawan mengapresiasi sinergi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global dan domestik.

Menurut Eric, perekonomian Indonesia saat ini menghadapi “dua himpitan api”, yakni tekanan internal dan eksternal yang berpotensi memicu gejolak ekonomi.

“Hanya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang tampaknya memahami bagaimana menangani situasi ini sehingga publik dan ekosistem ekonomi tetap terjaga,” ujar Erik dalam keterangannya, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, tekanan internal antara lain berasal dari inefisiensi yang berdampak pada meningkatnya defisit anggaran, serta belum optimalnya penerjemahan visi presiden di tingkat kementerian dan lembaga.

Sementara itu, tekanan eksternal dipicu konflik Timur Tengah yang berdampak pada krisis energi global.

Eric menilai, kerja sama kedua menteri tersebut sejauh ini terbukti mampu menjaga stabilitas harga, khususnya bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

“Janji Menteri ESDM bahwa BBM subsidi tidak naik hingga akhir tahun telah memberikan ketenangan bagi masyarakat,” tuturnya, dikutip dari RM.

Ia juga menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.189 per dolar AS. Menurutnya, nilai tukar bukan sekadar angka, melainkan indikator kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.

“Pelemahan rupiah hingga level tersebut mencerminkan meningkatnya risiko fiskal, terutama akibat beban utang luar negeri dan kenaikan biaya impor energi,” tegasnya.

Selain itu, Eric menyoroti penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal 2026 yang dipicu eskalasi konflik AS-Iran. Kondisi ini, menurutnya, menjadi indikator meningkatnya kecemasan pasar.

“Jika dibandingkan dengan krisis sebelumnya, kecepatan penurunan IHSG tahun ini menunjukkan tingkat kekhawatiran investor yang lebih tinggi,” jelasnya.

Ia menambahkan, gejolak tersebut turut diperparah oleh faktor internal, khususnya lemahnya kemampuan menerjemahkan kebijakan strategis di tingkat operasional.

Dalam situasi tekanan ganda ini, Eric menekankan pentingnya efisiensi sebagai langkah pertahanan utama. Namun, ia menilai masih terdapat kelemahan dalam implementasi kebijakan pemerintah.

“Strategi yang saya sebut ‘ngebor ke dalam’, yakni agresivitas pemungutan pajak tanpa diiringi efisiensi struktural, justru berpotensi menimbulkan paradoks kebijakan,” ucap Erik.

Menurut Eric, kondisi tersebut dapat membuat masyarakat terbebani, sementara kualitas pelayanan publik dan respons terhadap krisis belum optimal.

Ia pun mendorong pemerintah untuk memperkuat efisiensi, konsistensi kebijakan, serta koordinasi lintas sektor guna menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *