Misbakhun Sebut Hilirisasi Era Prabowo Jadi Kunci Lompatan Ekonomi Indonesia

Berita Golkar – Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai peresmian 13 proyek hilirisasi nasional fase II oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai sinyal kuat percepatan transformasi ekonomi Indonesia dari berbasis komoditas mentah menuju industri bernilai tambah tinggi.

Menurut Misbakhun, hilirisasi bukan sekadar kebijakan sektor, melainkan strategi makro untuk memperbaiki struktur ekonomi nasional yang selama ini bergantung pada ekspor bahan mentah.

“Pesan yang sangat kuat disampaikan Presiden bahwa hilirisasi adalah upaya meningkatkan nilai tambah produk sumber daya alam—baik mineral, pertanian, maupun sektor lainnya—agar tidak terus diekspor dalam bentuk mentah,” ujarnya dalam seremoni groundbreaking di Jakarta dikutip, Kamis (30/4/2026).

Langkah ini dinilai krusial dalam memperkuat ketahanan ekonomi, terutama di tengah tekanan global terhadap harga komoditas yang fluktuatif.

Dengan hilirisasi, Indonesia diharapkan mampu menggeser sumber pertumbuhan dari sekadar ekspor bahan mentah menuju manufaktur dan industri pengolahan.

Senada, Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini, menambahkan bahwa proyek ini berpotensi menjadi tonggak awal industrialisasi baru di Indonesia. Namun, ia mengingatkan pentingnya desain strategi yang matang agar manfaat ekonominya benar-benar terasa luas.

“Harapan masyarakat sangat besar, terutama dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan membuka lapangan kerja,” kata Anggia, dikutip dari Tribunnews.

Dari perspektif tenaga kerja, Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN, Arief Poyuono, melihat hilirisasi sebagai cara menghentikan “kebocoran” ekonomi nasional akibat ekspor bahan mentah.

“Selama ini kita menjual sumber daya alam dalam bentuk mentah, yang berarti kita mengekspor potensi pertumbuhan ekonomi ke negara lain,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa hilirisasi akan berdampak langsung pada penciptaan nilai tambah domestik, peningkatan pendapatan negara, serta perluasan basis industri nasional.

Namun, keberhasilan strategi ini sangat bergantung pada tiga faktor utama: investasi besar, penguasaan teknologi, dan kualitas sumber daya manusia berbasis STEM.

Menurutnya, peran lembaga seperti Danantara Indonesia menjadi kunci dalam mengintegrasikan pembiayaan proyek strategis, termasuk pembangunan smelter dan industri turunan lainnya.

“Ini bukan sekadar proyek, tetapi fondasi menuju kedaulatan ekonomi. Hilirisasi harus menjadi instrumen akumulasi kekayaan nasional jangka panjang,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa 13 proyek fase II difokuskan pada sektor strategis seperti mineral, energi, dan perkebunan—sektor yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Indonesia.

Menurut Rosan, integrasi pembiayaan melalui Danantara Indonesia telah mempercepat realisasi proyek sekaligus meningkatkan daya tarik investasi lanjutan. “Hilirisasi ini bertujuan memperkuat struktur industri dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah,” ujarnya.

Ia memastikan kesiapan pendanaan dan eksekusi proyek berjalan optimal agar program ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *