Berita Golkar – Jika pada satu sisi ia bicara soal perang narasi dan posisi proaktif di ruang digital, di sisi lain Sari Yuliati menegaskan bahwa media sosial bukan semata alat propaganda politik. Ia menyebutnya sebagai ruang literasi sekaligus peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
Pesan itu mengemuka dalam penutupan Akademi Clipper Golkar NTB di Hotel Santika Mataram, Sabtu 28 Februari 2026, yang diikuti lebih dari 50 kader DPD II Golkar se-NTB. Di forum itu, Sari berbicara lugas terkait kader muda tidak boleh gagap menghadapi transformasi digital yang melaju cepat.
Menurutnya, rendahnya literasi politik menjadi salah satu penyebab publik mudah terseret arus hoax dan agitasi. Ia menyinggung bagaimana isu-isu tertentu bisa meledak dan memicu kemarahan massal hanya karena dikemas dengan pilihan kata yang provokatif dan logika yang seolah-olah masuk akal.
“Kalau kita tidak punya kapasitas digital yang memadai, kita akan selalu berada di posisi reaktif. Ada isu, kita bereaksi. Ada meme, kita bereaksi. Itu artinya kita kalah langkah,” tegasnya, dikutip dari WartaLombok.
Bagi Sari, media sosial harus diisi dengan konten edukatif yang menjelaskan fungsi legislasi, penganggaran, hingga pengawasan yang dijalankan anggota DPR. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi objek politik, tetapi subjek yang sadar dan kritis.
Namun ia tidak berhenti pada aspek politik. Ia secara terbuka menantang kader muda untuk melihat media sosial sebagai instrumen ekonomi. Konten yang baik, konsisten, dan punya audiens, menurutnya, dapat membuka pintu monetisasi, endorsement, hingga kolaborasi bisnis digital.
“Kalau viewer sudah banyak, tawaran endorsement pasti datang. Tapi ingat, pakai jalan yang baik,” ujarnya mengingatkan.
Pernyataan itu sekaligus memberi sinyal bahwa penguatan kapasitas digital memiliki dimensi lebih luas mulai dari pelayanan publik berbasis elektronik, akses informasi pendidikan dan kesehatan, hingga transformasi ekonomi digital yang kini tak terelakkan.
Di akhir sambutannya, ia juga menyoroti masih minimnya keterwakilan perempuan dalam forum tersebut. Ia mendorong afirmasi gender agar partisipasi kader perempuan meningkat, minimal 30 persen. Pesan besarnya jelas: Golkar tidak boleh hanya hadir di panggung politik konvensional.
Partai berlambang pohon beringin itu harus menanam akar kuat di ruang digital guna mendidik, mempengaruhi, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi kader mudanya. []



