Bambang Patijaya: Insiden Tambang Freeport Tekan Penerimaan Negara, Pulih Mulai 2027

Berita GolkarKetua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengungkapkan insiden kecelakaan tambang yang terjadi di PT Freeport Indonesia pada penghujung 2025 berdampak terhadap proyeksi penerimaan negara dari sektor pertambangan pada 2026. Menurutnya, penurunan tersebut terjadi seiring berkurangnya produksi pasca-insiden yang sempat mengganggu operasional tambang.

Hal itu disampaikan Bambang usai memimpin Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR RI bersama Direktur Utama PT Freeport Indonesia dan PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Dalam rapat tersebut, manajemen PT Freeport Indonesia memaparkan proyeksi penerimaan negara yang diperkirakan turun dari realisasi sebesar US$4,3 miliar pada 2025 menjadi US$2,6 miliar pada 2026. Meski demikian, perusahaan optimistis kinerja produksi akan kembali pulih secara bertahap sehingga penerimaan negara diproyeksikan meningkat menjadi US$4,7 miliar pada 2027, US$7,1 miliar pada 2028, dan terus bertumbuh pada tahun-tahun berikutnya.

“Kita tahu bahwa kejadian di tahun 2025 akhir kemarin ya, terjadi kecelakaan tambang yang menyebabkan terowongannya tertimbun lumpur,” ujar Bambang kepada Parlementaria.

Sebagai informasi, Komisi XII DPR RI dapat memahami penjelasan teknis yang disampaikan manajemen Freeport perihal penurunan produksi akibat insiden tersebut, termasuk proses pemulihan yang tengah berjalan. Menurutnya, manajemen Freeport menyampaikan optimisme bahwa pemulihan itu akan membawa produksi kembali ke level optimal mulai 2027, sejalan dengan proyeksi kenaikan penerimaan negara yang tercantum dalam paparan.

“Dan kita melihat bahwa Freeport cukup optimis bahwa pemulihan yang mereka lakukan itu akan berjalan dengan baik, sehingga kemudian akan memberikan dampak kepada produksi yang optimal. Itu mulai di tahun 2027,” dikatakan politisi Partai Golkar tersebut.

Soal apakah proyeksi penurunan penerimaan negara ini sudah masuk dalam asumsi Badan Anggaran (Banggar) untuk RAPBN 2027, ia mengaku belum memastikan langsung namun menilai data tersebut semestinya sudah dihimpun oleh Kementerian ESDM.

“Saya belum ngecek juga nih apakah ini sudah atau belum. Tetapi seharusnya ini sudah masuk di dalam asumsi yang dihimpun oleh Kementerian ESDM, karena Kementerian ESDM ini kan punya target pada beberapa perusahaan-perusahaan besar terkait dengan PNBP,” ujarnya.

Mengakhiri pernyataan, ia berharap insiden kecelakaan tambang serupa tidak terulang agar tidak kembali mengganggu capaian produksi maupun penerimaan negara ke depan. Dalam paparannya, PT Freeport Indonesia menggunakan asumsi harga tembaga US$6,00 per pon dan harga emas US$4.500 per ons untuk proyeksi penerimaan negara periode 2026-2030, dibandingkan realisasi harga 2025 yang tercatat US$4,53 per pon untuk tembaga dan US$3.418 per ons untuk emas.

Perusahaan juga memproyeksikan penerimaan negara terus meningkat hingga mencapai US$8,0 miliar pada 2030, ditopang kombinasi pajak, dividen, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *