Dari Residu PLTU Jadi Pupuk Murah, Bambang Patijaya Dorong Hilirisasi FABA untuk Ketahanan Pangan

Berita GolkarKetua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mendorong PT PLN (Persero) mengoptimalkan pemanfaatan fly ash and bottom ash (FABA) dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) sebagai bahan pupuk untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

“Yang namanya FABA yang tadinya merupakan residu, ternyata bisa kita gunakan untuk pupuk. Hasilnya bagus dan biaya pemupukannya murah,” kata Bambang Patijaya saat meninjau pemanfaatan FABA di Bangka Belitung, Kamis, dikutip dari AntaraNews.

Bambang mengatakan pemanfaatan FABA sebagai bahan pupuk telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, sehingga perlu dikembangkan secara lebih luas dan tidak hanya sebatas uji coba.

Menurut dia, Forum Masyarakat Peduli Lingkungan (Formap) di Bangka Belitung saat ini telah memproduksi pupuk berbahan FABA sekitar 16 ton per hari.

Ia berharap PLN dapat berperan sebagai “orang tua asuh” dalam pengembangan produk tersebut, termasuk membantu proses standardisasi agar pupuk berbahan FABA dapat dipasarkan dan dikembangkan di daerah lain.

“Kalau kita bisa urus SNI-nya, sehingga menjadi terstandarisasi, kemudian bisa dikembangkan di tempat-tempat lain di Indonesia,” ujarnya.

Bambang menjelaskan penggunaan pupuk berbahan FABA juga telah mendapat sejumlah testimoni positif dari masyarakat. Salah satunya dari petani sawit yang mengaku produksinya meningkat dari sekitar 14 ton menjadi lebih dari 30 ton setelah menggunakan pupuk tersebut.

Selain itu, penggunaan pupuk berbahan FABA untuk tanaman cabai juga dilaporkan mampu membantu tanaman yang sebelumnya mengalami kondisi daun keriting untuk kembali menumbuhkan tunas dan akar baru.

Bambang menyebut pupuk berbahan FABA juga memiliki harga relatif murah. Saat ini, satu karung pupuk tersebut dijual sekitar Rp35 ribu, sedangkan pupuk urea disebut memiliki harga jauh lebih tinggi.

“Ini sangat bagus dengan judul pemberdayaan dan ketahanan pangan. Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi satu program nasional, PLN dapat melakukan optimalisasi hilirisasi FABA untuk mendukung pangan,” katanya.

Ia juga mendorong agar pemanfaatan FABA tidak hanya dilakukan di Bangka Belitung, tetapi dapat diterapkan pada PLTU di Sumatera, Jawa, maupun Kalimantan.

Menurut Bambang, pemanfaatan FABA tersebut juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular karena mengubah residu pembakaran batu bara menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan bermanfaat bagi masyarakat.

Dalam kunjungan tersebut, Bambang bersama Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN (Persero) Rizal Calvary Marimbo dan General Manager PLN Bangka Belitung turut meninjau proses produksi pupuk.

Bahan organik seperti sisa ikan, sayuran, dan buah terlebih dahulu digiling dan diproses, kemudian dicampur dengan FABA untuk menghasilkan pupuk.

“Selama ini persoalan persampahan programnya pengurangan sampah dan sosialisasi kepada masyarakat agar sampah dipilah. Namun, bagaimana ekonomi sirkularnya, itu yang belum optimal. Hari ini kita melihat sampah organik ternyata ada ujungnya jika dimanfaatkan,” ujarnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *