Berita Golkar – Komisi XII DPR menyambut baik temuan dua cadangan gas besar di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) yaitu, struktur Geliga dan Gula di Blok Ganal.
Anggota Komisi XII DPR Rusli Habibie menyebut, dua temuan ini merupakan capaian strategis yang menunjukkan keberhasilan pendekatan eksplorasi hulu migas yang semakin berbasis data yang didukung perbaikan iklim investasi di sektor energi. Juga adanya penguatan tata kelola sektor hulu migas.
“Ini juga menjadi sinyal positif potensi cekungan Kutai masih sangat prospektif dan masih menyimpan peluang besar untuk dikembangkan,” ujar Rusli, dalam keterangannya, Rabu (22/4/2026), dikutip dari RM.
Dia mengapresiasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) atas temuan itu.
Eksplorasi sumur Geliga-1 di Blok Ganal, lepas pantai Kaltim menemukan adanya potensi sumber daya gas sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) dan 300 juta barel kondensat. Temuan ini berada di Wilayah Kerja (WK) Ganal yang dioperasikan perusahaan asal Italia, ENI SpA, dengan porsi kepemilikan 82 persen, sementara 18 persen sisanya dimiliki Sinopec.
Rusli melanjutkan, berdasarkan paparan Pemerintah, akumulasi potensi dari dua temuan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 7 Trillion Cubic Feet/Triliun Kaki Kubik (TCF) gas, dengan tambahan potensi kondensat yang signifikan dan bernilai ekonomi tinggi.
Secara teknokratis, tambahan cadangan dalam skala ini akan berkontribusi terhadap peningkatan reserve replacement ratio (RRR) nasional. “Yang penting lagi memperkuat proyeksi pasokan gas domestik dalam jangka menengah,” kata politikus Partai Golkar ini.
Menurutnya, temuan ini relevan dalam menjawab tantangan keterbatasan pasokan gas domestik. Utamanya untuk mendukung kebutuhan industri, kelistrikan berbasis gas, dan agenda hilirisasi yang tengah didorong Pemerintah.
“Kita perlu memastikan gas yang ditemukan ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga memberikan multiplier effect yang nyata bagi perekonomian nasional,” harap mantan gubernur Gorontalo itu.
Selain itu, ia mendorong percepatan tahapan pengembangan lapangan. Mulai dari penyusunan Plan of Development (PoD), pengambilan Final Investment Decision (FID), dengan dukungan kepastian regulasi, skema fiskal yang kompetitif, dan integrasi infrastruktur energi. “Harapannya untuk memperkuat ketahanan energi nasional,” imbuhnya.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan apresiasi terhadap ENI SpA atas keberhasilan penemuan dua gas raksasa di Kaltim. Hal ini memberikan bukti Indonesia masih memiliki peluang besar untuk mengoptimalkan potensi migas sebagai penopang ketahanan energi nasional dan upaya untuk swasembada energi.
Untuk itu, Bahlil meminta semua pihak agar bersyukur kepada Tuhan atas anugerah temuan gas raksasa ini. Terlebih, penemuan ini terjadi saat hampir semua negara di dunia menjaga cadangan migas mereka.
“Kita harus betul-betul fokus dalam rangka menjalankan perintah Bapak Presiden untuk mencari sumber-sumber minyak baru,” kata Bahlil di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Bahlil menjelaskan, temuan gas tersebut merupakan hasil eksplorasi ENI dan Sinopec. Setelah ini mereka akan melakukan pengembangan untuk melakukan eksplorasi dari beberapa wilayah lain selain Kaltim.
Pada tahun 2028, tambah dia, produksi puncak yang bisa dicapai oleh ENI adalah sebesar 2 ribu Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). Jumlah tersebut jauh melesat apabila dibandingkan dengan produksinya saat ini sekitar 600 hingga 700 MMSCFD. Dan akan terus ditingkatkan dan kembangkan produksinya hingga tahun 2030 menjadi 3.000 MMSCFD.
“Ini (penemuan) giant (raksasa). Selain gas, di 2028, kita produksi kondensat kurang lebih sekitar 90 ribu barel. Di 2029-2030 itu bisa tambah lagi menjadi 150 ribu barel hari (dari Wilayah Kerja yang dikelola ENI),” jelas Ketum Umum DPP Golkar ini.
Seiring dengan meningkatnya produksi ENI, ia optimis hal ini sejalan dengan strategi Pemerintah untuk mampu memenuhi kebutuhan gas dari dalam negeri. Selain itu, peningkatan produksi kondensat juga akan mengurangi impor minyak.
Selain Sumur Geliga, Bahlil menyampaikan temuan di Sumur Gula, yang menghasilkan gas sekitar 2 TCF dan 75 juta barel kondensat. Dari kedua sumur tersebut, estimasi awal kombinasi sumber daya Geliga dan Gula berpotensi menghasilkan tambahan produksi hingga 1.000 mmscfd gas dan 90 ribu barrels per day (bpd) kondensat.
Sebagai informasi, Sumur Geliga dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter pada kedalaman air sekitar 2.000 meter. Penemuan ini memperpanjang catatan keberhasilan eksplorasi ENI di Cekungan Kutai, setelah sebelumnya menemukan cadangan besar di Geng North pada 2023 dan penemuan sumur Konta-1 pada 2025. Hasil penemuan ini menegaskan potensi signifikan sistem gas yang berada di cekungan tersebut serta stabilitas sumber daya di wilayah ini.
Penemuan Geliga ini terjadi setelah keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk sejumlah proyek gas, yakni Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub).
Untuk pengembangannya, proyek North Hub akan menggunakan fasilitas terapung (Floating Production Storage and Offloading/FPSO) baru. Kapasitasnya mencapai 1 miliar kaki kubik gas per hari (bscfd) dan 90 ribu barel kondensat per hari (bpd). Selain itu, proyek ini juga akan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada, termasuk Kilang Liquefied Natural Gas (LNG) Bontang. []



