Flores Diguncang Gempa M7,7, Gubernur NTT Melki Laka Lena Pastikan Pemerintah Bergerak Cepat

Berita GolkarGempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026), tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga menguji kecepatan pemerintah dalam merespons situasi darurat.

Hingga konferensi pers berlangsung Sabtu siang, lima orang dilaporkan meninggal dunia. Dua korban berada di Kabupaten Sikka, sementara tiga lainnya dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Manggarai. Data tersebut masih dalam proses verifikasi dan pembaruan oleh tim di lapangan.

Gempa utama terjadi pada Sabtu pagi dan menurut BMKG berpusat di laut, sekitar 30 kilometer arah timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. BMKG mengidentifikasi sumber gempa berasal dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust.

Di tengah situasi tersebut, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) NTT langsung menggerakkan koordinasi penanganan. Fokus pemerintah tidak hanya pada pendataan korban dan kerusakan, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat terdampak segera terpenuhi.

“Sebagai Gubernur NTT saya menyampaikan belasungkawa mendalam kepada seluruh keluarga besar kita di Flores yang hari ini mendapat musibah,” kata Gubernur Melki.

Sejak pagi, Pemerintah Provinsi NTT berkoordinasi dengan para bupati di wilayah Flores untuk mendapatkan gambaran kondisi terkini di masing-masing daerah. Pendataan korban, asesmen kerusakan, pemetaan kebutuhan mendesak hingga koordinasi dukungan dengan pemerintah pusat menjadi bagian dari langkah awal penanganan.

Respons tersebut diperkuat dengan rencana kunjungan langsung Gubernur Melki bersama Kapolda NTT dan jajaran Forkopimda ke sejumlah wilayah terdampak, termasuk Kabupaten Sikka.

Kunjungan tersebut dinilai penting untuk memastikan kebijakan pemerintah tidak hanya didasarkan pada laporan awal, tetapi benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat di lapangan.

“Fokus utama adalah mengevakuasi dan menyelamatkan korban. Seluruh kekuatan Pemprov NTT, Forkopimda, TNI-Polri, pemerintah kabupaten/kota, dan dukungan pemerintah pusat kita kerahkan untuk penanganan awal,” ujarnya.

Menurut Melki, pemerintah perlu bergerak berdasarkan data lapangan sebelum mengambil keputusan lebih lanjut, termasuk mengenai kemungkinan pengusulan status bencana nasional sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku.

“Keputusan dalam situasi bencana harus berdiri di atas data yang terverifikasi. Karena itu, seluruh laporan dari lapangan terus kita kumpulkan agar setiap langkah pemerintah benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” kata Melki.

Pemerintah Pusat Mulai Gerakkan Dukungan

Penanganan gempa Flores juga mendapat perhatian pemerintah pusat. Gubernur Melki terus berkomunikasi dengan sejumlah kementerian terkait untuk memastikan kebutuhan daerah dapat segera ditindaklanjuti.

Kementerian Pekerjaan Umum disebut telah memastikan dukungan dan berencana mengirim jajaran untuk melihat langsung kondisi infrastruktur di wilayah terdampak.

Dukungan pemerintah pusat dibutuhkan karena dampak gempa berpotensi meluas ke berbagai sektor, mulai dari kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum dan perumahan, perhubungan, telekomunikasi, energi hingga pelayanan publik.

Dengan kondisi infrastruktur yang terdampak, pemulihan akses transportasi dan komunikasi menjadi sama pentingnya dengan penanganan korban. Pemerintah harus memastikan bantuan dapat masuk, mobilisasi tim penyelamat berjalan, serta kebutuhan dasar masyarakat tetap tersedia.

“Yang kita hadapi bukan hanya persoalan bangunan yang rusak. Kita juga harus memastikan akses masyarakat terhadap makanan, air, kesehatan, komunikasi dan transportasi tetap berjalan. Karena itu, penanganannya harus lintas sektor,” ujar Melki.

Peringatan Tsunami Berakhir, Warga Tetap Diminta Waspada

BMKG telah mengakhiri peringatan dini tsunami setelah gempa M7,7 mengguncang Flores. Dalam rilis resminya, BMKG menyatakan peringatan dini tsunami berakhir pada pukul 07.30 WIB atau 08.30 WITA. Meski demikian, masyarakat tetap diminta tenang dan waspada karena gempa susulan masih dapat terjadi.

BMKG juga mengimbau masyarakat menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan atau retakan struktural serta terus mengikuti informasi melalui kanal resmi.

Pesan tersebut menjadi penting di tengah derasnya informasi yang beredar di media sosial. Dalam situasi bencana, informasi yang tidak terverifikasi dapat memicu kepanikan sekaligus mengganggu proses evakuasi dan penanganan.

Pemerintah NTT pun mendorong masyarakat untuk mengutamakan informasi resmi dari BMKG, pemerintah daerah, dan unsur Forkopimda.

Untuk menghindari simpang siur informasi, pemerintah menyiapkan satu pusat informasi bersama yang kemungkinan ditempatkan di Polda NTT. Melalui pusat informasi tersebut, perkembangan terkait korban, kerusakan, evakuasi, bantuan, serta langkah penanganan akan disampaikan secara berkala.

Langkah ini dinilai penting karena dalam situasi darurat, kecepatan informasi harus berjalan beriringan dengan akurasi. “Di saat seperti ini, yang dibutuhkan bukan kepanikan. Yang dibutuhkan adalah ketenangan, kepedulian dan gotong royong,” kata Gubernur Melki.

Melki juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam penanganan. Pemerintah, menurut dia, tidak mungkin bekerja sendirian dalam menghadapi dampak bencana dengan cakupan wilayah yang luas.

Pelaku usaha di Flores juga diminta membuka akses bagi tim kemanusiaan maupun masyarakat yang membutuhkan, terutama pemilik toko, rumah makan, warung, serta usaha makanan dan minuman.

“Jangan sampai ada satu pun masyarakat terdampak bencana yang tidak bisa makan dan minum. Keselamatan dan kebutuhan dasar masyarakat adalah prioritas utama kita,” ujar Melki yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini.

Pemerintah, kata Melki, akan menyiapkan mekanisme pembayaran dan pertanggungjawaban atas kebutuhan yang digunakan untuk kepentingan penanganan kemanusiaan.

Ekonomi Tidak Boleh Ikut Lumpuh

Di tengah penanganan darurat, pemerintah juga berupaya menjaga agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak sepenuhnya terhenti.

Pameran Pembangunan Provinsi NTT tetap dilaksanakan dengan mengusung tema “Peduli Gempa Flores”. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bentuk solidaritas kepada masyarakat Flores sekaligus menjaga perputaran ekonomi bagi hampir 600 pelaku UMKM yang telah terlibat.

Keputusan mempertahankan aktivitas ekonomi tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti pada fase evakuasi dan bantuan darurat. Setelah keselamatan warga menjadi prioritas, pemerintah juga harus mulai memikirkan bagaimana aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat dapat kembali bergerak.

“Dalam kondisi seperti ini, kita harus menjaga keseimbangan. Keselamatan masyarakat adalah prioritas, tetapi roda kehidupan dan ekonomi juga harus mulai kita pulihkan secara bertahap,” ujar Melki.

Gempa M7,7 menjadi pukulan berat bagi Flores. Namun, respons pemerintah kini diarahkan agar bencana tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan.

Dari Kupang hingga Flores, koordinasi terus dilakukan. Pemerintah daerah, pemerintah pusat, TNI-Polri, tenaga kesehatan, relawan, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat didorong bergerak dalam satu arah: menyelamatkan warga, memenuhi kebutuhan dasar, dan memulihkan kehidupan.

“Ketika Flores berduka, seluruh NTT ikut merasakan. Ketika saudara kita membutuhkan pertolongan, kita hadir bersama,” kata Melki.

Flores tidak sendiri.

NTT tidak sendiri.

Di tengah duka akibat gempa, pekerjaan berikutnya adalah memastikan setiap korban mendapatkan pertolongan, setiap kebutuhan dasar terpenuhi, setiap informasi disampaikan dengan benar, dan proses pemulihan dapat dimulai secepat mungkin.

Doa untuk Flores. Kekuatan untuk Flores. NTT bersama Flores. {selatanindonesia}

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *