Gubernur Melki Laka Lena Ingin Koperasi NTT Naik Tahta, Dari Layanan Kredit Menuju Industri Produktif

Berita Golkar – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong semua Koperasi yang ada di NTT untuk naik kelas ke sektor produktif.

Menurut Melki Laka Lena, khusus di NTT, total aset koperasi diperkirakan telah mencapai lebih dari Rp10 triliun. Nilai tersebut setara dengan sekitar setengah total aset Bank NTT. Angka ini menunjukkan bahwa koperasi memiliki peran yang sangat besar dalam perekonomian daerah.

“Saya juga mengapresiasi sejumlah koperasi seperti Obor Mas yang telah menunjukkan tata kelola yang baik. Koperasi-koperasi tersebut mampu menjadi contoh dalam pengelolaan organisasi dan usaha secara profesional,” ujar Melki saat Ngopi Bareng di KSP Obor Mas Maumere, Sikka, NTT, Jumat (29/5/2026) sore.

Ngopi bareng itu bertemakan “Membangun Sinergi antara KSP Kopdit Obor Mas dengan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih”.

Hadir sebagai narasumber, Gubernur NTT, Menteri Koperasi, Dr. Ferry Joko Juliantono, Dirut Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM), Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago dan dipandu oleh Theresia Angelina Bala.

Politiai Partai Golkar itu menyebutkan koperasi di NTT masih terlalu banyak bergerak di sektor simpan pinjam atau koperasi kredit. Padahal aset, potensi, anggota, dan pengurusnya sangat besar. Karena itu, saya berharap koperasi di NTT mulai melompat lebih jauh dengan masuk ke sektor produktif.

Beberapa koperasi memang sudah mulai bergerak ke arah tersebut, tetapi dia berharap langkah itu diperluas sesuai potensi daerah masing-masing.

“Kita tidak bisa terus bergantung pada transfer anggaran dari pemerintah pusat. Persoalan terbesar kita sebenarnya adalah defisit perdagangan NTT yang mencapai Rp51 triliun. Artinya, uang masyarakat NTT banyak keluar daerah karena barang-barang yang dibeli berasal dari luar NTT dan tidak berputar di daerah sendiri,”ujarnya, dikutip dari Tribunnews.

Ia menyebutkan jika koperasi ikut masuk ke sektor produktif, kita bisa menekan defisit perdagangan tersebut. Uang masyarakat akan berputar di daerah, sehingga ekonomi lokal menjadi lebih kuat dan masyarakat memiliki daya beli yang lebih baik.

Di banyak wilayah di NTT, termasuk di Kabupaten Sikka, masyarakat masih membeli berbagai kebutuhan dari luar daerah, seperti sabun, pasta gigi, sampo, minyak goreng, hingga air minum dalam kemasan. Karena itu, saya berharap koperasi mulai memproduksi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan merek lokal.

“Melalui langkah ini, koperasi tidak hanya menjadi lembaga simpan pinjam, tetapi juga menjadi penggerak utama ekonomi produktif di NTT,” pungkasnya. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *