08 Maret 2019

Berita Golkar - Penggunaan upia karanji di kalangan pejabat masih perlu untuk ditingkatkan. Contohnya untuk kepala daerah dan para petinggi lainnya, hingga saat ini, terkesan masih malu-malu menggunakan upia karanji.

Padahal, di tingkat ASN, penggunaan upia karanji ini terus digalakkan. Bahkan kini di kalangan anak muda upia karanji mulai menjadi bagian dari gaya hidup. Kurang konsistennya kepala daerah dan pejabat menggunakan upia karanji dalam kegiatan sehari hari ini pun mendapat sorotan dari Gubernur Gorontalo Rusli Habibie.

Baca Juga: Bangun Masjid Raya dan Islamic Center Gorontalo, Rusli Habibie Siapkan 562 Miliar Rupiah

Ia menginginkan agar budaya khas Gorontalo dapat terus dilestarikan. Kepala daerah dan pejabat di Gorontalo menurutnya harus menjadi contoh pelestarian budaya daerah ini. Rusli meminta kepala daerah dan para pejabat konsisten menggunakan upia karanji. Tidak saja pada aktivitas kerja sehari-hari, tetapi juga saat kunjungan kerja ke luar daerah.

“Gubernur, Bupati, Walikota dan para wakil itu panutan masyarakat, contoh bagi aparatur birokrasi. Kami terus mendorong agar budaya dan ciri khas Gorontalo ini tetap terjaga, caranya bagaimana? Yaa harus dimulai dari kepala daerah,” kata Rusli Habibie, Jumat (7/3).

Kewajiban penggunaan upia karanji di lingkungan pemerintah provinsi sendiri sudah berlangsung Januari 2018 lalu. Dalam banyak kesempatan, Gubernur tidak segan menegur pejabat atau pegawainya yang lalai terhadap penggunaan songkok dari belukar atau lebih dikenal dengan mintu itu.

“Saya berterima kasih kepada Pak Syarif (Bupati Pohuwato), Pak Indra (Bupati Gorut) dan Pak Marten (Walikota Gorontalo) yang saya lihat selalu menggunakan upia karanji. Masih ada juga kepala daerah yang malu-malu menggunakannya,” sebut Rusli.

Baca Juga: Di Bawah Rusli Habibie, Golkar Gorontalo Sulit Dibendung Lawan Politik di Pileg 2019

Kebijakan penggunaan songkok anyaman itu tidak saja makin membuatnya populer di tingkat nasional, tapi juga diyakini mampu mendorong tumbuhnya UMKM. Tahun-tahun sebelumnya, upia karanji nyaris tidak bernilai dijual dengan harga di bawah Rp50.000.

Pesanan upia karanji yang terus berdatangan membuat harganya meroket. Satu buah upia karanji dihargai mulai Rp100.000 hingga Rp350.000, tergantung kepadatan anyaman dan motif tulisannya.

Stigma ‘songkok orang tua’ dan digunakan oleh masyarakat kelas bawah pelan-pelan mulai bergeser. Upia karanji kini menjadi barang wajib bagi ASN di Gorontalo dan mulai digandrungi anak muda sebagai gaya hidup. [hargo]

fokus berita : #Rusli Habibie


Kategori Berita Golkar Lainnya