Mendukbangga Wihaji Dorong Penanganan Stunting Tak Hanya Soal Gizi, Tapi Juga Ekonomi dan Pengasuhan

Berita GolkarMenteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, memastikan penanganan terhadap keluarga berisiko stunting dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak.

Pendekatan tersebut diterapkan saat meninjau langsung dua keluarga di Desa Tanjung Gunung, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung.

Dalam kunjungan tersebut, Wihaji melihat secara langsung kondisi kehidupan keluarga penerima manfaat, mulai dari aspek kesehatan, ekonomi, pola pengasuhan, pendidikan anak, hingga kondisi tempat tinggal. Menurutnya, seluruh faktor tersebut saling berkaitan dan perlu ditangani secara terintegrasi agar upaya pencegahan stunting berjalan optimal.

“Target kami adalah memastikan keluarga berisiko stunting benar-benar mendapatkan pendampingan. Ini perintah langsung Bapak Presiden agar keluarga yang membutuhkan segera kita bantu,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).

Dua keluarga yang dikunjungi adalah keluarga Asmid dan keluarga Asri. Kepada keduanya, Wihaji berdialog untuk mengetahui persoalan yang dihadapi sekaligus mengoordinasikan langkah penanganan bersama Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan berbagai pihak terkait.

Pada keluarga Asmid, pemerintah akan memberikan dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekaligus memastikan keberlanjutan pendidikan anak. Salah satu bantuan yang disiapkan berupa sepeda serta pendampingan agar anak dalam keluarga tersebut dapat terus menempuh pendidikan hingga jenjang sekolah menengah atas.

Sementara itu, perhatian khusus diberikan kepada keluarga Asri yang menghadapi persoalan kesehatan dan ekonomi sekaligus. Asri merupakan buruh tambang lepas yang mengalami kelumpuhan pada bagian panggul akibat kecelakaan kerja sehingga tidak lagi mampu bekerja.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan keluarga bergantung pada penghasilan sang istri yang bekerja sebagai petugas kebersihan dengan pendapatan sekitar Rp50 ribu per hari. Di sela pekerjaannya, ia juga harus merawat suami dan bayi mereka yang baru berusia tujuh bulan.

Saat sang ibu bekerja, bayi diasuh oleh Asri yang memiliki keterbatasan mobilitas sehingga lebih banyak berada di dalam ayunan hingga ibunya kembali ke rumah sekitar pukul 12.00 WIB.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan stunting tidak bisa diselesaikan hanya melalui pemberian makanan tambahan kepada anak, melainkan membutuhkan intervensi lintas sektor yang menyasar berbagai faktor penyebabnya.

“Dua keluarga ini memang masuk dalam kategori keluarga berisiko stunting. Ada bayi berusia tujuh bulan yang membutuhkan perhatian pemerintah. Karena itu, kami datang langsung untuk melakukan pengecekan,” katanya.

Ia menjelaskan, penanganan keluarga berisiko stunting harus mencakup kesehatan orang tua dan anak, kecukupan gizi, kondisi ekonomi keluarga, kualitas pengasuhan, akses layanan kesehatan, hingga kelayakan hunian.

Melihat kondisi kesehatan Asri, Wihaji langsung berkoordinasi dengan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Dr. (H.C.) Hidayat Arsani, S.E., agar segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan medis.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pun menyiapkan proses rujukan Asri ke Rumah Sakit Umum Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

“Gubernur tadi langsung merespons dan akan merujuk bapaknya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan cepat. Negara harus hadir,” tegasnya.

Selama menjalani pemeriksaan dan perawatan, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN akan memberikan bantuan biaya hidup sebesar Rp5 juta untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama tiga bulan.

Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga sehingga istri Asri dapat mendampingi proses pengobatan suaminya, sementara pengasuhan bayi dibantu oleh keluarga terdekat.

Selain itu, kedua keluarga juga direncanakan menerima bantuan pembangunan rumah layak huni senilai Rp50 juta melalui kolaborasi pemerintah daerah, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta berbagai mitra terkait.

Pendampingan akan terus dilakukan agar bantuan yang diberikan tidak hanya menyelesaikan kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mampu meningkatkan ketahanan dan kemandirian keluarga dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pemerintah kabupaten, lembaga sosial, dan berbagai mitra pembangunan, diharapkan keluarga berisiko stunting memperoleh akses yang lebih baik terhadap layanan kesehatan, hunian layak, pendidikan, pengasuhan, serta dukungan ekonomi yang berkelanjutan. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *