Berita Golkar – Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza mendorong Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) memetakan potensi cabang olahraga unggulan di setiap daerah sebagai dasar penyusunan kebijakan pembinaan atlet nasional.
Menurutnya, setiap provinsi memiliki karakteristik dan keunggulan olahraga yang berbeda sehingga dukungan fasilitas, pendanaan, dan pembinaan perlu disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah.
“Jadi Kementerian Pemuda dan Olahraga ini memang yang pertama harus dia tahu persis bagaimana bibit di masing-masing daerah. Ya tentu kan setiap daerah belum tentu semuanya bola, jadi memang punya spesifikasi,” ujar Rycko saat kunjungan kerja Komisi X DPR RI di Bali, Jumat (9/10/2026), dikutip dari dpr.
Politisi Fraksi Partai Golkar tersebut menilai, pemetaan potensi olahraga penting agar pemerintah dapat menentukan cabang olahraga yang layak menjadi prioritas pembinaan di setiap provinsi. Dengan pendekatan itu, pengembangan atlet tidak hanya berpusat pada cabang olahraga populer, tetapi juga memberi ruang bagi cabang lain yang berpeluang menyumbangkan prestasi bagi Indonesia.
“Yang diperlukan bagaimana Kementerian Pemuda Olahraga ini mempunyai kluster dari masing-masing provinsi, mana cabang-cabang olahraga yang akan diunggulkan untuk Indonesia,” katanya.
Menurut Rycko, pemetaan tersebut perlu diikuti dukungan fasilitas dan program pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan atlet. Ketersediaan sarana olahraga, kesinambungan pelatihan, serta keterlibatan pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penting untuk mengembangkan potensi atlet sejak dini.
“Jadi tentu yang disesuaikan dengan bantuan yang diberikan kepada daerah, fasilitas olahraga. Karena kan majunya suatu daerah, tentu yang pertama pembinaan, dan itu kan didukung dengan fasilitas yang dimiliki,” tuturnya.
Rycko mencontohkan keberagaman potensi olahraga di Indonesia. Sejumlah wilayah di Indonesia Timur, misalnya, memiliki potensi atlet tinju dan cabang olahraga bela diri. Sementara itu, daerah dengan karakteristik pantai yang mendukung dapat mengembangkan olahraga selancar atau surfing.
Ia juga menyoroti potensi Lampung, daerah pemilihan yang diwakilinya, dalam melahirkan atlet berprestasi di cabang angkat besi dan angkat berat. Salah satu pusat pembinaan yang menjadi contoh adalah Padepokan Gajah Lampung di Kabupaten Pringsewu, yang telah melahirkan atlet berprestasi di tingkat nasional hingga internasional.
“Saya berasal dari Dapil Lampung, ini kan juga berapa kali (atlet) angkat besi Lampung juara. Bagaimana peran pemerintah daerah, termasuk pemerintah pusat untuk memberikan dukungan?” ujar legislator Daerah Pemilihan Lampung I tersebut.
Menurut Rycko, pengalaman Lampung menunjukkan pentingnya menjaga kesinambungan pembinaan dan dukungan bagi atlet daerah. Potensi yang telah teridentifikasi perlu ditopang fasilitas memadai dan program latihan berkelanjutan agar atlet mampu berkembang serta bersaing di tingkat yang lebih tinggi.
Pendekatan serupa, lanjutnya, perlu diterapkan dalam pembinaan sepak bola. Keberadaan sekolah sepak bola (SSB) di daerah perlu diperkuat sebagai jalur pembinaan pemain muda, sehingga mereka memiliki kesempatan berkembang menuju klub profesional dan kompetisi internasional.
Dalam kesempatan yang sama, Rycko mengapresiasi capaian Timnas Indonesia pada FIFA ASEAN Cup 2026. Menurutnya, capaian tersebut dapat menjadi dorongan untuk memperkuat pembinaan pemain muda dan menyusun strategi pengembangan sepak bola nasional secara berkelanjutan.
Ia juga menyoroti peran pemain diaspora dan naturalisasi dalam memperkuat skuad Merah Putih. Meski demikian, pembinaan talenta lokal tetap perlu mendapat perhatian agar Indonesia memiliki jalur pengembangan pemain yang berkesinambungan, mulai dari SSB hingga level profesional.
Rycko berharap pemetaan potensi olahraga daerah dapat menjadi pijakan bagi kebijakan pembinaan atlet yang lebih terarah. Dengan dukungan fasilitas, pendanaan, dan program latihan yang sesuai, semakin banyak atlet daerah diharapkan mampu berkembang dan berkontribusi terhadap prestasi olahraga Indonesia. []



